Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat India. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat India. Tampilkan semua postingan

Kisah Gadis Yang Menikah Dengan Ular

Sabtu, 30 Maret 2013

| | | 1 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang brahmana dan isterinya. Sudah lama mereka mengharapkan kehadiran seorang bayi, namun mereka tidak juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya setelah lama menanti, sang isteri mengandung dan melahirkan. Namun ternyata bayi yang dilahirkannya adalah seekor ular.

Para tetangga yang ketakutan menyuruh mereka segera membuang ular itu, namun suami isteri itu tetap merawat ular itu seperti layaknya anak menusia. Ular itu tumbuh menjadi dewasa dan ibunya sangat menyayanginya.

Pada suatu hari, sang ibu minta kepada suaminya untuk mencari calon isteri untuk putera mereka.

"Anak kita sudah dewasa, pak. Sudah waktunya ia menikah dan membangun rumah tangganya sendiri," kata wanita itu.

"Aku tahu, bu," jawab suaminya. "Tapi gadis mana yang mau menikah dengan seekor ular?"

Isterinya terus mendesak dan menangis. Akhirnya sang suami memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya di desa tetangga. Siapa tahu, teman lamanya itu dapat membantu.

Sesampai di rumah sahabatnya, brahmana menceritakan bahwa ia sedang mencari calon isteri untuk puteranya. Sahabatnya malah memanggil anak gadisnya dan berkata. "Kalau begitu, ambillah puteriku ini menjadi isteri puteramu."

Brahmana tercengang, "Kurasa... sebaiknya kau melihat puteraku dulu. Puteraku...."

"Ah, tidak perlu..." sela sahabatnya. "Kita sudah lama berteman, puteramu pasti pemuda yang baik."

Maka brahmana membawa gadis itu pulang untuk dinikahkan dengan puteranya. 

Isteri brahmana segera mempersiapkan pernikahan. Para tetangga yang datang membantu persiapan pernikahan membujuk calon pengantin untuk membatalkan pernikahannya, namun gadis itu tetap pada pendiriannya.

Akhirnya mereka menikah. Walaupun suaminya seekor ular, gadis itu melayani keperluannya dengan sangat baik. Ular itu tidur di sebuah peti kayu di samping tempat tidur isternya.

Pada suatu malam wanita muda itu terbangun. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pemuda tampan duduk di tepi tempat tidurnya. 

"Jangan takut, isteriku," kata pemuda itu.
"Siapa kau? Di mana suamiku?" jawab wanita itu ketakutan.
"Aku suamimu. Lihatlah,ini kulitku," kata pemuda itu sambil menunjukkan kulit ular yang kosong.
"Aduuh... jangan-jangan kau mencelakakan suamiku," kata wanita sambil menangis.
"Lihatlah," kata pemuda itu sambil mengenakan kulit ular itu lalu menanggalkannya lagi.

Sejak saat itu tiap malam pemuda itu melepaskan kulit ularnya. Ia tinggal bersama isterinya sepanjang malam. menjelang fajar ia berubah menjadi ular lagi. 

Pada suatu malam, brahmana mendengar suara orang bercakap-cakap di kamar menantunya. Karena curiga, ia mengintip dan melihat puteranya menanggalkan kulitnya dan berubah menjadi seorang pemuda. 

Brahmana bergegas masuk ke kamar. Ia mengambil kulit ular itu dan melemparkannya ke dalam api. Dalam sekejap kulit ular itu terbakar menjadi abu.

"Terima kasih, ayah," kata pemuda itu, "sekarang aku terbebas dari kutukan dan hidup sebagai manusia sewajarnya."

Pemuda itu pun hidup bahagia dan tenteram bersama isteri dan orang tuanya.

Gambar: http://www.clipartpal.com/_thumbs/snake_slither_98949_tnb.png

Kura-kura yang Tidak Dapat Berhenti Bicara

Jumat, 02 Desember 2011

| | | 0 komentar
ekor kura-kura hidup di sebuah danau. Ia suka menyelam di danau. Ia suka memanjat ke atas sebuah batu besar dan berjemur.

Namun yang paling disukainya adalah berbicara. Ia berbicara kepada anak-anak desa yang bermain di tepi danau, kepada ikan-ikan yang melesat di dalam air, kepada katak-katak di tepi danau, kepada bangau yang mencari ikan. Ia juga berbicara kepada monyet yang bergelantungan di pohon di tepi danau. Bahkan ia berbicara lebih banyak daripada monyet!

Kura-kura bicara, bicara dan bicara terus kecuali bila ia sedang tidur.

Pada suatu hari datanglah dua ekor angsa liar. Mereka mendarat dan beristirahat  di danau. Kura-kura langsung menghampiri mereka dan menyapa, “Hai, kalian bukan dari sini ya?”

Angsa-angsa itu menjawab dengan ramah. Mereka pun lalu mengobrol. Angsa bercerita bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang ke selatan.

Kura-kura bertanya, “Di mana kalian tinggal?"

“Kami tinggal di sebuah danau di atas bukit. Danau kami lebih besar dari danau ini. Airnya jernih. Pemandangannya juga indah,” kata salah satu angsa.
Kura-kura terus bertanya tentang danau tempat tinggal angsa. Akhirnya angsa mengajak kura-kura ikut pulang ke rumah mereka.

“Aku kan tak bisa terbang seperti kalian. Mana mungkin aku ikut?”

“Mudah saja, kita akan mencari sebuah tongkat, aku dan kakakku akan mengigit kedua ujungnya dan kau menggigit bagian tengahnya. Kami akan membawamu terbang.”

“Terima kasih, aku senang sekali bisa ikut dengan kalian. Sudah lama aku ingin pergi ke selatan.”

Mereka bertiga mencari sebatang tongkat. Mereka menemukan sebuah tongkat yang cukup kuat.

“Ayo kita pergi,” kata angsa yang lebih tua, “namun kau harus ingat, kau tak boleh berbicara selama kita terbang.”

“Benar,” sahut adiknya, “Bila kau membuka mulutmu, tongkat ini akan terlepas dan kau akan jatuh. Ingat ya, tak boleh bicara sepatah pun!”

“Ya, tentu saja aku akan ingat,” kata kura-kura, “Aku tidak akan bicara sepanjang perjalanan.”

Kedua angsa menggigit ujung-ujung tongkat dengan paruh mereka, dan kura-kura menggigit di tengah. Mereka pun berangkat ke selatan.

Mereka terbang di atas desa di mana anak-anak yang suka mengobrol dengan kura-kura tinggal. Kura-kura dapat melihat teman-temannya di bawah sana. Ia ingin berteriak, “Hei, aku pergi ke selatan!” untung ia dapat menghentikan dirinya tepat pada waktunya.

Salah seorang anak melihat kura-kura tergantung pada tongkat yang dibawa dua ekor angsa. Ia memberitahu teman-temannya. Mereka berkumpul dan menunjuk-nunjuk kepada kura-kura. Lalu seorang anak berkata, “Lucu sekali cara mereka bepergian.” Anak-anak yang lain tertawa.

Anak yang lain berkata, “Kura-kura kan tak bisa diam? Ia selalu bicara. Tak mungkin ia dapat menutup mulutnya selama perjalanan.”

Anak-anak itu tertawa-tawa lagi. Kura-kura tidak tahan lagi. Ia berteriak kepada mereka, “Siapa bilang aku....” Hanya itu yang sempat dikatakan kura-kura. Ia terlepas dari tongkat dan jatuh di dekat kaki anak-anak.

“Kasihan kura-kura, “ kata seorang anak, “ia tak dapat berhenti bicara.”

Tiga Pangeran dan Peri Air

Jumat, 11 November 2011

| | | 1 komentar

Dahulu kala hiduplah seorang raja dengan tiga putera. Yang tertua bernama Pangeran Bintang, adiknya bernama Pangeran Bulan dan yang bungsu Pangeran Matahari. Sang raja begitu gembira dengan kelahiran pengeran ketiga sehingga ia berjanji kepada sang ratu akan memenuhi apapun yang dimintanya.
Sang ratu mengingat janji raja kepadanya, namun ia menunggu hingga putera ketiganya dewasa.

Pada ulang tahun Pangeran Matahari yang ke duapuluh satu, sang ratu berkata kepada raja,”Yang mulia, ketika anak ketiga kita lahir dulu, kau berjanji akan memberiku hadiah. Sekarang aku minta Yang Mulia menyerahkan kerajaan ini kepada  Pangeran Matahari.”

Sang raja menolak, dan mengatakan bahwa kerajaan harus diserahkan putera tertua, karena itu sudah menjadi haknya. Kemudian bila putera pertama tidak dapat menjadi raja, kerajaan menjadi hak putera kedua. Hanya bila kedua kakaknya meninggal, putera ketiga berhak memerintah kerajaan.

Ratu pergi, namun raja dapat melihat bahwa ratu tidak puas dengan jawabannya. Raja khawatir ratu akan melakukan sesnatu untuk menyingkirkan putera pertama dan kedua.

Maka ia memanggil pangeran pertama dan kedua. Ia menyuruh mereka pergi dan tinggal di hutan hingga ia wafat. “Kemudian kembalilah dan memerintah di kerajaan ini sesuai dengan hakmu.”

Ketika mereka berjalan ke luar istana, Pangeran Matahari melihat mereka dan bertanya, “Kak, ke mana kalian pergi?”

Ketika mendengar kemana dan mengapa mereka pergi, Pangeran Matahari berkata, “Aku ikut bersama kalian, Kak.”

Mereka terus berjalan hingga masuk ke hutan. Di sana mereka menemukan sebuah kolam dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Pergilah ke kolam, Dik,” kata pangeran tertua kepada Pangeran Matahari. “Mandi dan minumlah. Kemudian bawakan sedikit air, kami menunggu di sini.”

Raja peri telah memberikan kolam itu kepada seorang peri air. “Kau berkuasa di kolam ini,” kata raja peri. “dan kau boleh melakukan apa saja kepada siapa pun yang datang ke kolam ini, kecuali bila ia dapat menjawab pertanyaanku.” Peri air mendengarkan dengan seksama. Pertanyaan itu adalah,”Seperti apa peri yang baik itu?”

Ketika Pangeran Matahari masuk ke dalam kolam, peri air betanya kepadanya,”Seperti apa peri yang baik itu?”

“Peri yang baik,” kata Pangeran Matahari setelah berpikir sejenak, “seperti matahari dan bulan.”

“Kau tidak tahu seperti apa peri yang baik,” dan peri air membawa pemuda malang itu ke guanya di dasar kolam.

Setelah menunggu cukup lama dan adik mereka tidak muncul, Pangeran Bintang menyuruh Pangeran Bulan menyusulnya.

Di kolam ia tidak melihat adiknnya. Air kolam yang jernih membuatnya ingin mandi. Ia masuk ke dalam kolam. Tiba-tiba muncul peri air yang langsung bertanya, “Katakan, seperti apa peri yang baik?”

“Seperti langit di atas kita,” jawab Pangeran Bulan.

“Ternyata kau juga tidak tahu," kata peri air sambil menyeret Pangeran Bulan ke guanya.

“Pasti terjadi sesuatu pada adik-adikku,” kata Pangeran Bintang dalam hati. Ia pun pergi ke kolam. Di tepi kolam ia melihat jejak kaki adik-adiknya masuk ke dalam kolam. Tahulah ia bahwa ada seorang peri air tinggal di dalam kolam itu. Ia menarik pedangnya dan menyiapkan busurnya. Ia menunggu dengan sabar.

Peri muncul, menyamar sebagai seorang pencari kayu.”Kau tampak lelah, teman,” katanya kepada Pangeran. “Mengapa kau tidak mandi di kolam lalu berbaring di tepi sana?”

Namun Pangeran itu tahu pencari kayu itu adalah peri air. Ia berkata,”Kau telah mengambil kedua adikku.”

"Ya," kata peri air.

"Mengapa kau mengambil mereka?"

"Karena mereka tidak dapat menjawab pertanyaanku,"  kata peri air, “dan raja peri memberiku kuasa untuk melakukan apa saja kepada semua orang yang masuk ke dalam air kecuali mereka yang dapat menjawab pertanyaanku dengan benar."

"Aku akan menjawabnya," kata Pangeran, “Peri yang baik seperti pemilik hati yang murni, yang takut akan dosa dan berbuat baik dalam kata-kata dan perbuatan."

"Oh Pangeran yang bijaksana,” kata peri air. “aku akan mengembalikan satu adikmu. Yang mana yang harus kukembalikan kepadamu?"

"Kembalikan si bungsu," kata Pangeran,”Karena ialah ayah kami menyuruh kami pergi, Aku tak dapat pergi bersama Pangeran Bulan dan meninggalkan Pangeran Matahari yang malang di sini.”.

“Pangeran, kau sungguh bijaksana,” kata  peri air, “Kau tahu apa yang harus kau lakukan dan baik hati. Aku akan mengembalikan kedua adikmu."

Ketiga pangeran itu tinggal di hutan bersama-sama hingga ayah mereka wafat. Kemudian mereka kembali ke istana. Pangeran Bintang menjadi raja dan ia mengajak kedua adiknya memerintah bersamanya, Ia juga membangun sebuah rumah untuk peri air di taman istana.

Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah

Kamis, 29 September 2011

| | | 0 komentar



Dahulu kala hiduplah enam orang buta. Mereka sering mendengar tentang gajah. Namun karena mereka semua belum pernah melihatnya, mereka ingin sekali tahu seperti apa gajah itu. Maka mereka beramai-ramai pergi melihat gajah.
Orang buta pertama mendekati gajah. Ia tersandung dan ketika terjatuh, ia menabrak sisi tubuh gajah yang kokoh. “Oh, sekarang aku tahu!” katanya, “Gajah itu seperti tembok.”
Orang buta kedua meraba gading gajah. “Mari kita lihat...,” katanya, “Gajah ini bulat, licin dan tajam. Jelaslah gajah lebih mirip sebuah tombak.”
Yang ketiga kebetulan memegang belalai gajah yang bergerak menggeliat-geliat. “Kalian salah!” jeritnya, “Gajah ini seperti ular!”

Berikutnya, orang buta keempat melompat penuh semangat dan jatuh menimpa lutut gajah. “Ah!” katanya, “Bagaimana kalian ini, sudah jelas binatang ini mirip sebatang pohon.”

Yang kelima memegang telinga gajah. “Kipas!” teriaknya, “Bahkan orang yang paling buta pun tahu, gajah itu mirip kipas.”

Orang buta keenam, segera mendekati sang gajah, ia menggapai dan memegang ekor gajah yang berayun-ayun. “Aku tahu, kalian semua salah.” Katanya. Gajah mirip dengan tali.”

Demikianlah keenam orang buta itu bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah. Semua teguh dengan pendapatnya sendiri, yang sebagian benar, namun semuanya salah. Mereka semua hanya meraba bagian tubuh gajah yang berlainan, mereka tidak melihat keseluruhan hewan gajah itu sendiri.

Kabar Buruk

Minggu, 28 Agustus 2011

| | | 1 komentar


Pada suatu hari, seekor kelinci kelabu sedang tidur-tiduran di bawah pohon beringin.  Ia sedang berpikir, “Bila bumi ini pecah, maka terjadi kiamat. Apa yang akan terjadi padaku?” Tiba-tiba, ia mendengar suara benturan keras. Ia melompat kaget. “Kiamat! Bumi meledak!”  Ia pun lari tunggang langgang tanpa melihat sekelilingnya.

Ketika ia berlari di hutan, seekor kelinci lain melihatnya dan bertanya, “Hei, kau lari cepat sekali. Mau ke mana?”. Kelinci kelabu menjawab, “Bumi akan meledak! Kau lebih baik lari juga!” Kelinci kedua lari lebih cepat dari kelinci kelabu.  Sambil berlari mereka berteriak kepada kelinci-kelinci lain, “Bumi meledak. Bumi Meledak. Kiamat!”  Dalam waktu singkat ribuan kelinci berlarian hiruk pikuk di seluruh hutan.

Melihat begitu banyak kelinci berlari-lari, hewan-hewan lain ikut ketakutan. Berita menyebar dari mulut ke mulut dan dalam sekejab semua hewan tahu bahwa bumi akan meledak. Reptil, burung, serangga dan hewan berkaki empat, pendeknya semua hewan,  ikut berlari ketakutan. Semua ingin menyelamatkan diri dan jeritan ketakutan mereka menyebabkan suasana menjadi kacau balau.

Seekor singa berdiri di atas bukit, ia melihat semua hewan berlomba-lomba lari. Ia segera menuruni bukit dan mencegat mereka. “Stop! Stop!” teriaknya menghentikan mereka. Hewan-hewan berhenti berlari, beberapa ekor saling bertabrakan dan menginjak yang lain. Beberapa kelinci juga menabrak sang singa.

“Apa yang terjadi? Mengapa kalian semuanya lari?” tanya singa.

“Bumi meledak,” jawab seekor kakak tua.

“Kata siapa?” tanya singa lagi.

“Aku dengar dari monyet.”

Ketika para monyet ditanya, mereka berkata bahwa mereka mendengarnya dari para harimau. Harimau mendengar berita itu dari gajah. Gajah mengatakan bahwa sumber beritanya adalah banteng. Akhirnya mereka semua bertanya kepada para kelinci, satu per satu menunjuk sang pembawa berita. Hingga akhirnya mereka menemukan sumber berita buruk itu.

Singa bertanya kepada kelinci kelabu, “Mengapa kau berpikir bahwa bumi ini akan meledak?” Kelinci kelabu menjawab sambil terengah-engah, “Baginda, aku mendengar  dengan telingaku sendiri, bumi pecah.”

Singa meneliti suara yang didengar kelinci kelabu. Ternyata penyebab seluruh kekacauan itu adalah sebuah kelapa besar yang jatuh menimpa tumpukan batu di bawahnya dan menyebabkan batu-batu itu longsor.

“Nah, kalian lihat sendiri,” kata singa. “Bumi kita aman. Sekarang kalian pulanglah.”

“Lain kali, bila mendengar kabar apa pun, selidikilah dulu sebelum bertindak.”
Para hewan saling berpandang-pandangan dengan malu. Perlahan-lahan mereka membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.


Kisah si Buta dan Ular

Sabtu, 27 Agustus 2011

| | | 0 komentar



Dahulu kala, seorang buta pergi bersama seorang teman yang dapat melihat. Mereka berkuda sepanjang hari. Ketika malam tiba, mereka beristirahat di padang rumput.

Menjelang fajar, mereka bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Si orang buta mencari-cari cambuknya. Kebetulan seekor ular berbaring di dekatnya, kaku karena kedinginan.

Orang buta memegang ular itu dan berkata dalam hati, “Aneh, tidak seperti biasanya, cambuk ini lunak sekali.” Ia mengambilnya dan menunggangi kudanya.

Ketika hari mulai terang, teman si buta melihat bahwa temannya sedang memegang seekor ular. Ia pun berteriak ketakutan, “Kawan, yang kau pegang itu bukan cambuk tetapi seekor ular. Cepat lemparkan sebelum ia menggigitmu!”

Namun si buta hanya tertawa. “Kau iri ya? Aku kehilangan cambukku, namun sebagai gantinya aku mendapatkan yang lebih lunak dan lebih baik. Kau pikir karena aku buta, aku bodoh ya? Aku tidak sebodoh itu, sehingga tidak dapat membedakan cambuk dengan ular.”

“Kawanku,” jawab temannya, “Demi keselamatanmu sendiri, aku mohon, percayalah kepadaku. Buang ular itu.”

Namun si orang buta justeru mengencangkan pegangannya pada ular itu. Ular  terkejut, ia melingkarkan tubuhnya pada pergelangan tangan si buta dan menggigit sehingga si buta tewas seketika.

Kisah Monyet dan Tukang Kayu

| | | 0 komentar

Seekor monyet memperhatikan seorang tukang kayu yang sedang membelah sebatang kayu dengan dua buah baji. Pertama-tama tukang kayu menyisipkan baji yang kecil ke dalam celah kayu, untuk menjaga celah itu tidak tertutup. Kemudian ketika celah sudah cukup lebar, ia memasukkan baji yang lebih besar dan memukulnya dengan palu dan mengeluarkan baji kecil.


Tengah hari tiba, tukang kayu pulang ke rumahnya untuk makan siang. Monyet ingin mencoba membelah kayu. Ketika ia duduk di bangku tukang kayu, tanpa disadari ekornya yang panjang masuk ke dalam celah kayu. Ia memasukkan baji kecil ke dalam celah kayu seperti yang tadi dilakukan tukang kayu. Namun ia lupa memasukkan baji besar sebelum mencabut baji kecil. Kedua belahan kayu menutup dan menjepit ekor monyet. 

Monyet hanya bisa mengerang kesakitan hingga tukang kayu kembali. Tukang kayu memukulnya dan memarahinya. Ia mengatakan bahwa monyet mendapat ganjaran yang sepantasnya karena mencampuri urusan orang lain. Baru setelah itu ia membebaskan sang monyet dari jepitan kayu.









Burung Berkepala Dua

Minggu, 21 Agustus 2011

| | | 0 komentar


Sebatang pohon beringin tumbuh di tepi sebuah danau. Di pohon itu banyak burung membuat sarang. Salah satu burung sangat aneh dan berbeda dengan burung pada umumnya. Burung itu memiliki dua kepala. Masing-masing kepala dapat makan, minum, berpikir dan berbicara sendiri, namun burung itu hanya memiliki satu tubuh dan satu perut.

Pada suatu hari burung itu berjalan-jalan di tepi danau. Kepala pertama burung itu melihat buah yang berwarna merah keemasan di tanah. Buah itu tampak sangat lezat dan kepala pertama memakannya.

“Enak sekali,” katanya, “baru kali ini aku menemukan buah selezat ini.”

“Aku ingin mencobanya,” kata kepala kedua, “Berikan sedikit kepadaku.”

“Tidak,” sahut kepala pertama, “Aku melihatnya duluan. Aku yang berhak memakannya. Lagi pula buah ini nantinya juga masuk ke perut kita berdua. Sama saja bukan, aku atau kau yang makan buah ini?”

Kepala kedua sakit hati mendengar jawaban kepala pertama, namun ia tidak berkata apa-apa.

Beberapa hari kemudian, kepala kedua melihat sejenis buah yang sangat beracun. Kepala kedua segera mengambil beberapa buah dan berkata, “Lihat, aku akan memakan buah ini dan membalas penghinaanmu.”

“Jangan,” kata kepala pertama,”kita berdua memiliki satu tubuh. Bila kau memakannya, kita berdua akan mati.”

“Aku melihat buah ini duluan, aku berhak memakannya.”

Kepala pertama memohon agar kepala kedua tidak memakan buah beracun itu. Namun kepala kedua tidak mau mendengar. Ia memakan buah itu dan sebagai akibatnya, mereka berdua tewas.

Angsa Berbulu Emas

Senin, 15 Agustus 2011

| | | 0 komentar



Dahulu kala, hiduplah seekor angsa berbulu emas di sebuah kolam. Ada sebuah rumah di dekat kolam itu, dimana tinggal seorang ibu miskin dan dua orang puterinya. Mereka benar-benar miskin dan hidup menderita. Angsa itu tahu bahwa mereka sedang mengalami masalah. Peluang mendapat uang tambahan. Caranya mudah Klik di sini

Angsa berpikir, “Jika aku memberikan  selembar bulu emasku kepada mereka satu demi satu, ibu itu dapat menjualnya. Mereka akan hidup lebih baik  dengan uang dari penjualan buluku itu.” 

 Angsa itu kemudian terbang ke rumah wanita itu. 

“Angsa,” kata ibu, “Mengapa kau kemari, kami tidak mempunyai apa-apa untukmu.”

“Aku tidak minta apa-apa,” sahut angsa, “Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu. Aku tahu keadaan kalian. Aku akan memberikan bulu emasku satu per satu kepadamu. Juallah, maka kalian tidak menderita lagi.”

Angsa mencabut selembar bulunya dan pergi. Dari waktu ke waktu angsa datang dan setiap kali ia memberikan selembar bulu emas.

Ibu dan kedua puterinya hidup  dan berkecukupan dengan menjual bulu-bulu angsa emas.

Namun wanita itu ingin  mengambil semua bulu emas angsa itu. Pada suatu hari ia berkata kepada anaknya, “Jangan percaya kepada angsa itu, mungkin saja ia  tidak pernah datang lagi. Jika ini terjadi, kita akan menjadi miskin lagi. Kita ambil saja semua bulunya ketika ia datang lagi nanti.”

Puteri-puterinya dengan polos berkata, “Ibu, kita akan melukai angsa itu. Kami tidak mau menyakitinya.” Namun sang ibu tetap pada pendiriannya.

Ketika angsa datang lagi, wanita itu menangkapnya dan mencabuti semua bulunya. Namun bulu-bulu emas itu berubah menjadi bulu yang kasar dan aneh . Ibu terkejut melihat bulu-bulu itu.


“Ibu yang malang,” kata angsa, “aku ingin menolongmu, namun sebaliknya kau hendak membunuhku. Aku selalu memberimu bulu-bulu emasku, namun sekarang aku tidak merasa perlu menolongmu lagi. Aku akan pergi dan takkan  pernah kembali lagi.”

Sang ibu menyesal dan minta maaf kepada angsa.

Angsa berkata, “Jangan serakah.”

Ia pun terbang meninggalkan rumah itu dan tak pernah terlihat lagi.

Kucing yang Menjadi Ratu

Senin, 20 Juni 2011

| | | 0 komentar


Seorang raja yang memerintah di Kashmir, India, mempunyai banyak isteri, namun tak seorang pun isterinya melahirkan anak untuknya. Ia sangat kuatir tidak mempunyai pewaris yang akan meneruskan kerajaannya. 

Pergilah sang raja ke bagian istana dimana isteri-isterinya tinggal dan mengumumkan bila dalam waktu setahun mereka tidak dapat melahirkan putera untuknya maka mereka akan dijatuhi hukuman mati.

Para isteri raja berdoa kepada dewa Shiva memohon bantuan untuk memenuhi kehendak raja. Setelah menunggu penuh harap selama beberapa bulan, akhirnya mereka menyadari bahwa harapan mereka takkan terkabul. Mereka pun mencari akal agar mereka tidak dihukum mati. 

Tak lama kemudian raja mendengar bahwa salah satu isterinya mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan. Namun itu tidak benar. Yang sesungguhnya terjadi adalah seekor kucing melahirkan banyak anak. Salah satu anak kucing itu diambil dan dibesarkan oleh isteri-isteri raja. 

Ketika sang raja mendengar berita itu, ia sangat gembira. Ia memerintahkan, “Bawalah puteriku menemuiku. Aku ingin melihatnya.”

 Para isteri raja sudah menduga bahwa raja ingin melihat puterinya, “Katakan kepada baginda,“ kata mereka kepada pesuruh raja, “para Brahmana mengatakan bahwa anak itu tidak boleh dilihat ayahnya sebelum ia menikah.” Mendengar hal itu, raja pun tidak lagi memaksa untuk melihat puterinya. 

Raja terus menerus menanyakan tentang sang puteri dan jawaban yang diterimanya selalu tentang betapa cantik dan pintarnya sang puteri. Ia pun sangat gembira mendengarnya. Tentu saja ia menginginkan seorang putera, namun karena Tuhan tidak berkenan mengabulkan permintaannya, ia menghibur dirinya dengan membayangkan akan menikahkan puterinya dengan seseorang yang layak untuknya dan mampu memimpin kerajaan setelah ia turun tahta. 

Ketika sang raja memutuskan sudah waktunya puterinya menikah, ia memerintahkan para penasihatnya mencari  pasangan yang tepat untuk sang puteri. Dengan segera mereka menemukan seorang pangeran yang baik, cerdas dan rupawan. Raja pun segera memerintahkan untuk dilakukan persiapan pernikahan.

Apa yang dapat dilakukan para isteri raja sekarang? Tak ada gunanya lagi mereka berusaha melanjutkan kebohongan mereka. Pengantin pria akan segera datang dan ingin melihat calon isterinya. Raja pun sudah sangat mendambakan untuk melihat sang puteri.

Mereka berunding dan memutuskan untuk memanggil sang pangeran dan menjelaskan semuanya kepadanya. Mereka dapat menyiapkan alasan lain untuk sang raja sehingga mereka dapat mengulur waktu.

Sang pangeran pun dipanggil dan mereka pun menceritakan semuanya kepadanya,  setelah sang pangeran bersumpah untuk menjaga rahasia bahkan kepada orang tuanya sekalipun. 

Pesta pernikahan diselenggarakan dengan meriah, dihadiri oleh para raja yang dari negara-negara tetangga. Sang raja dengan mudah dibujuk untuk mengijinkan tanda yang membawa pengantin wanita tanpa melihat puterinya. Kucing itu dibawa dengan tandu ke kerajaan sang pangeran. 

Sang pangeran merawat kucing itu  dengan penuh kasih sayang dan mengurungnya dalam kamar pribadinya. Ia tidak mengijinkan seorang pun, termasuk ibunya sendiri masuk ke dalam kamarnya. 

Namun pada suatu hari, ketika pangeran sedang pergi, ibunya ingin berbicara dengan menantunya dari luar kamar. “Menantuku,” panggilnya. “Kau dikurung dalam kamar ini dan tidak boleh bertemu dengan orang lain. Kau pasti bosan. Suamimu sedang pergi. Kau boleh keluar tanpa takut bertemu seseorang. Maukah kau keluar?”

Kucing itu memahami perkataan sang ratu dan menangis sedih seperti manusia. Tangisannya membuat ratu sedih hingga ia memutuskan untuk berbicara dengan puteranya bila ia kembali nanti. 

Tangisan kucing itu juga terdengar oleh Parvati, isteri Shiva. Ia pun menemui Shiva dan memohon kepadanya untuk menolong binatang malang itu.

“Katakan kepadanya,” kata Shiva, “untuk mengoleskan  minyak pada bulu di seluruh tubuhnya dan ia akan berubah menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Ia akan menemukan minyak itu di kamarnya.”
Parvati bergegas menemui sang kucing untuk menyampaikan kabar gembira itu. Ia pun segera mengoleskan minyak ke seluruh tubuhnya dan berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Namun ia sengaja melewatkan setitik kecil bulu kucing di bahunya agar suaminya mengenalinya dan tidak menolaknya.

Malam itu sang pangeran pulang dan melihat isterinya telah berubah menjadi wanita yang cantik. . Permintaan ibunya membuatnya cemas karena ia tidak dapat menjelaskan mengapa isterinya adalah seekor kucing, namun sekarang semua kecemasannya hilang dan ia pun merasa sangat bahagia. Ia membawa isterinya menemui ibunya. Sang ratu yang semula mengira menantunya itu tidak bahagia menjadi lega melihat menantunya yang cantik dan tersenyum. 

Beberapa minggu kemudian sang pangeran didampingi isterinya mengunjungi ayah mertuanya. Sang raja yang mengira sang puteri adalah anaknya sendiri, gembira luar biasa. Isteri-isteri raja pun gembira karena doa mereka terkabul dan nyawa mereka pun terselamatkan. 

Pada akhirnya raja menyerahkan kerajaannya kepada menantunya, dan sang pangeran kemudian memerintah kedua kerajaan yang kelak menjadi kerajaan yang termashyur dan kaya raya.

Kisah Monyet dan Buaya

Senin, 30 Mei 2011

| | | 1 komentar

Dahulu kala  hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.

Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian  sungai dan beristirahat di bawah pohon.  Sang monyet yang ramah menyapanya, “Halo.” 

“Halo,” jawab buaya. “Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.”

“Aku tidak tahu dimana ada ikan  Namun aku mempunyai  banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!” kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.

Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Ia suka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya. 

Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat.  Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.

Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan  keluarganya.”Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu.”

Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes. 

“Suamiku,” kata isteri buaya, “ajaklah monyet kemari untuk makan malam.  Lalu kita makan dia.”
Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, “Monyet satu-satunya temanku, “ katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.

Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. “Suamiku,” katanya, “Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh.”

“Teman,” kata buaya kepada monyet.  “Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.” Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. “Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir,” kata buaya. 

Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.

Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,”Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya.”

Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. “Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya.”

 Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan naik ke dahan pohon. 

“Teman palsu yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan kembali ke sini lagi.”  Monyet pun membalikkan badannya, tak mau melihat sang buaya.

Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi. 

Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya. Peluang mendapat uang tambahan. Caranya mudah Klik di sini