Asal Usul Lomba Panjat Pinang

Rabu, 17 Agustus 2011

| | | 0 komentar


Tujuh belas Agustus! Hari kemerdekaan selalu diperingati dengan berbagai lomba, ada lomba makan krupuk, lomba balap karung dan yang tak pernah ketinggalan: lomba panjat pinang! Kamu tahu asal-usul lomba yang selalu meriah dan ramai ditonton orang ini?

Pohon pinang didirikan di lapangan. Pohon pinang dipilih karena batangnya idak tinggi, licin dan tidak bercabang. Batang pohong pinang dilumuri pelumas supaya licin. Di atasnya dipasang lingkaran dari bambu dan berbagai hadiah digantungkan di situ. Dan dipuncaknya, selalu dipasang bendera Merah Putih.

Satu kelompok panjat pinang terdiri dari 5 sampai tujuh orang. Beberapa dipilih yang berbadan besar dan kekar, berperan sebagai fondasi di bagian bawah. Untuk di bagian puncak dipilih orang yang berbadan kecil dan lincah memanjat.  Semua kelompok bergantian memanjat dan memperebutkan hadiah.  Mula-mula satu orang berdiri di depan pohon pinang, orang kedua berdiri di pundaknya, kemudian orang ketiga berdiri di pundak orang kedua  dan seterusnya sehingga tingginya hampir mendekati puncak pohon pinang. Orang yang ada di puncak berusaha meraih hadiah yang tergantung.  Hadiah yang berhasil dijatuhkan menjadi hak kelompok itu.

Memanjat dan berdiri di atas pundak orang lain, sambil menahan beban orang lain di atas tubuhnya hingga 4 sampai 5 orang, dan berusaha mengambil hadiah yang sulit diraih, bukan hal yang mudah.  Apalagi tubuh mereka  juga mau tidak mau terkena pelumas sehingga menjadi licin. Usaha mereka untuk mencapai puncak sering menjadi lucu dan seru sehingga orang suka menonton.


Banyak juga orang yang tidak setuju dengan diadakannya lomba ini, karena dianggap tidak manusiawi dan cukup berbahaya. Kaki-kaki peserta yang terkena pelumas akan ditempeli pasir dan kotoran lain sehingga sering menimbulkan lecet-lecet pada pundak orang yang di bawahnya. Risiko terpleset, kesleo dan terjatuh juga sering terjadi. Namun kebanyakan orang menyukainya karena lomba ini menunjukkan kemauan bekerja keras yang dibutuhkan kerja sama yang kompak untuk berhasil mendapatkan hadiah.

Lomba panjat pinang berasal dari jaman penjajahan Belanda dan merupakan hiburan bagi orang-orang Belanda pada acara-acara besar, dan orang-orang pribumi yang menjadi pesertanya.  Orang-orang Belanda tertawa melihat bagaimana orang-orang pribumi bersusah payah memperebutkan hadiah berupa gula, makanan dan pakaian yang mereka anggap mewah. Mungkin karena itulah lomba ini selalu diadakan pada peringatan kemerdekaan,  sebagai lambang kebebasan bangsa kita dari kekuasaan bangsa lain.


Petani yang Serakah

Senin, 15 Agustus 2011

| | | 0 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang petani di desa. Ia selalu ingin mendapatkan banyak uang. Pada musim semi, ia berseru kepada Tuhan, “Jika hari cerah, aku akan menuai gandum.” Pada hari berikutnya, matahari bersinar dengan cerah, sang petani pun menuai sebagian gandumnya.

Setelah itu ia berseru kepada Tuhan lagi, “Seandainya hari ini hujan, pasti baik untuk gandumku.” Esok harinya turun hujan.

Petani itu berkata, ”Jika hujannya lebih lebat, gandumku pasti lebih cepat tumbuh.” Pada hari berikutnya hujan kembali turun.

Musim panas tiba, ia memanen gandumnya dan menumpuknya menjadi satu. Petani berkata, “Tuhan, seandainya Kau memberiku lebih banyak hujan lagi, panenku pasti jauh lebih besar.”

“ Mengapa Engkau tidak memberiku lebih banyak hujan sehingga aku mendapat lebih banyak gandum?” tambahnya dengan kesal.

Tuhan kemudian menurunkan hujan yang sangat lebat sehingga seluruh gandum sang petani hanyut terbawa air.

Angsa Berbulu Emas

| | | 0 komentar



Dahulu kala, hiduplah seekor angsa berbulu emas di sebuah kolam. Ada sebuah rumah di dekat kolam itu, dimana tinggal seorang ibu miskin dan dua orang puterinya. Mereka benar-benar miskin dan hidup menderita. Angsa itu tahu bahwa mereka sedang mengalami masalah. Peluang mendapat uang tambahan. Caranya mudah Klik di sini

Angsa berpikir, “Jika aku memberikan  selembar bulu emasku kepada mereka satu demi satu, ibu itu dapat menjualnya. Mereka akan hidup lebih baik  dengan uang dari penjualan buluku itu.” 

 Angsa itu kemudian terbang ke rumah wanita itu. 

“Angsa,” kata ibu, “Mengapa kau kemari, kami tidak mempunyai apa-apa untukmu.”

“Aku tidak minta apa-apa,” sahut angsa, “Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu. Aku tahu keadaan kalian. Aku akan memberikan bulu emasku satu per satu kepadamu. Juallah, maka kalian tidak menderita lagi.”

Angsa mencabut selembar bulunya dan pergi. Dari waktu ke waktu angsa datang dan setiap kali ia memberikan selembar bulu emas.

Ibu dan kedua puterinya hidup  dan berkecukupan dengan menjual bulu-bulu angsa emas.

Namun wanita itu ingin  mengambil semua bulu emas angsa itu. Pada suatu hari ia berkata kepada anaknya, “Jangan percaya kepada angsa itu, mungkin saja ia  tidak pernah datang lagi. Jika ini terjadi, kita akan menjadi miskin lagi. Kita ambil saja semua bulunya ketika ia datang lagi nanti.”

Puteri-puterinya dengan polos berkata, “Ibu, kita akan melukai angsa itu. Kami tidak mau menyakitinya.” Namun sang ibu tetap pada pendiriannya.

Ketika angsa datang lagi, wanita itu menangkapnya dan mencabuti semua bulunya. Namun bulu-bulu emas itu berubah menjadi bulu yang kasar dan aneh . Ibu terkejut melihat bulu-bulu itu.


“Ibu yang malang,” kata angsa, “aku ingin menolongmu, namun sebaliknya kau hendak membunuhku. Aku selalu memberimu bulu-bulu emasku, namun sekarang aku tidak merasa perlu menolongmu lagi. Aku akan pergi dan takkan  pernah kembali lagi.”

Sang ibu menyesal dan minta maaf kepada angsa.

Angsa berkata, “Jangan serakah.”

Ia pun terbang meninggalkan rumah itu dan tak pernah terlihat lagi.

Raja Sulaiman dan Bayi

Minggu, 14 Agustus 2011

| | | 0 komentar



Pada suatu hari, dua orang ibu menghadap raja Sulaiman, membawa seorang bayi. Mereka memperebutkan bayi itu. Keduanya berkeras bayi itu anaknya. Raja Sulaiman tidak dapat memutuskan siapa ibu bayi itu. Maka ia memerintahkan untuk membelah sang bayi  menjadi dua, dan memberikan kedua ibu  masing-masing setengah bayi itu.

Ibu pertama setuju, “Raja sungguh adil. Biarlah bayi ini dibagi dua. Jika aku tidak dapat memilkinya, ia juga tidak mendapatkannya.”

Ibu kedua berlutut, memohon dengan pilu, “Jangan! Jangan sakiti bayi ini. Berikan kepadanya, Aku rela kehilangan bayi ini daripada melihatnya disakiti.”

Raja Sulaiman langsung tahu siapa ibu sang bayi dan mengembalikan bayi itu kepadanya. 

Bagaimana Kaktus Dapat Hidup Tanpa Air?

Minggu, 07 Agustus 2011

| | | 0 komentar


Semua tumbuhan membutuhkan air untuk hidup, termasuk kaktus. Namun kaktus membutuhkan sangat sedikit air sehingga kita sering menganggap kaktus tidak membutuhkan air.

Tumbuhan kaktus berasal dari Amerika.  Kaktus termasuk jenis tumbuhan sukulen yang mampu bertahan hidup di tempat  yang panas atau kering. Tidak seperti tumbuhan lain, sebagian besar kaktus tidak mempunyai  daun. Daun kaktus telah berevolusi menjadi duri-duri. Tumbuhan kaktus terdiri dari batang dan cabang-cabang yang pada sebagian besar kaktus dilapisi lilin. Beberapa jenis kaktus mempunyai daun. Namun daunnya hanya sedikit dan cepat rontok.

Kaktus tidak membutuhkan air sebanyak tumbuhan lain karena kaktus tidak mempunyai  daun sehingga air yang mereka serap tidak menguap sebanyak tumbuhan lain. Cabang-cabang kaktus juga dapat menyimpan air dalam waktu lama. Di samping itu akarnya mampu mencari air  pada musim kering dan menyerapnya dengan baik.


Timun Emas (Cerita Dari Jawa Tengah)

Sabtu, 23 Juli 2011

| | | 0 komentar


Dahulu kala hiduplah sepasang suami isteri. Mereka hidup bertani. Sayang sekali mereka tidak dikaruniai anak.

Tak henti-hentinya mereka berdoa agar mendapat seorang anak. Pada suatu hari lewatlah seorang raksasa. Ia mendengar doa mereka. Karena kasihan, ia memberikan sebutir biji ketimun dan menyuruh mereka menanamnya. Ia berpesan, “Ingat, kalian harus mengembalikan anak kalian kepadaku bila nanti ia sudah dewasa.”

Suami istri itu menanam biji ketimun dan merawat tanaman ketimun itu dengan penuh harap.  Pada suatu hari tumbuh sebuah ketimun yang berbeda dengan buah ketimun biasa. Buah ketimun itu tumbuh menjadi sangat besar dan berwarna keemasan. Ketika buah ketimun itu sudah cukup masak, mereka memetiknya dan membelahnya. Di dalam buah ketimun besar itu ada seorang bayi perempuan yang cantik.

Bayi itu mereka beri nama Timun Emas. Ia tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik dan cerdas. Walaupun orang tuanya sangat senang, mereka juga khawatir raksasa akan datang dan meminta anak itu kembali.

Timun Emas sekarang berumur lima belas tahun. Ia sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Pada suatu hari, raksasa datang. “Petani, sudah saatnya kauberikan anakmu kepadaku.”

“Raksasa,” kata pak tani, “Anakku Timun Emas sedang ke kebun, tunggulah, istriku akan memanggilnya.”

Sementara itu istri petani membekali Timun Emas dengan sebuah kantung kain kecil. “Nak,” katanya, “bawalah ini. Di dalam kantung ini ada benda-benda yang dapat menyelamatkanmu dari sang raksasa. Sekarang kau larilah,” 
katanya sambil mendorong Timun Emas keluar dari pintu belakang.

Raksasa menunggu lama sekali, namun Timun Emas tidak kunjung kembali ke rumah. Akhirnya ia sadar bahwa pasangan suami istri itu membohonginya.
Raksasa mengamati sekelilingnya. Mula-mula ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia melihat semak-semak bergerak-gerak di kejauhan. Lalu ia melihat Timun Emas lari. Raksasa pun segera mengejarnya.

Timun Emas melihat raksasa mendekat. Ia meraba-raba dalam kantung dan menemukan segenggam garam. Ia melemparkan garam itu ke depan raksasa. Tiba-tiba di depan raksasa terbentang laut yang luas. Raksasa menyeberanginya dan dalam sekejab ia sudah mengejar Timun Emas lagi.

Timun Emas mencari-cari dalam kantungnya. Ia menemukan segenggam cabai. Cabai itu ia lemparkan ke depan raksasa dan menjelma menjadi hutan yang lebat. Sulur-sulur tumbuhan menjerat tangan dan kaki raksasa namun ia dapat memutuskannya dan kembali mengejar Timun Emas.

Timun Emas kembali mencari dalam kantungnya, ia menemukan segenggam biji ketimun. Biji-biji itu ia lemparkan ke arah raksasa langsung tumbuh menjadi hutan ketimun dengan buah yang banyak dan ranum. Raksasa tak dapat menahan diri dan langsung memakan semua buah ketimun. Ia pun kekenyangan dan mengantuk. Raksasa tertidur. Timun Emas kembali berlari.

Namun tak lama kemudian raksasa terbangun dan kembali mengejar. Timun Emas mengguncang-guncang kantung pemberian ibunya. Isinya hanya satu benda lagi. Semoga kali ini ia berhasil menyelamatkan diri dari raksasa. Dengan gemetar ia mengeluarkan benda yang ada dalam kantung. Ternyata di tangannya ada segumpal terasi. Dapatkah terasi menyelamatkannya? Ini kesempatannya yang terakhir. Ia pun melemparkan terasi ke depan raksasa. Terasi menjelma menjadi rawa-rawa berlumpur pekat. Raksasa tercebur ke dalam lumpur. Mula-mula ia terbenam sedalam lutut, makin ia bergerak, makin dalam ia tenggelam. Raksasa menjadi marah dan makin berontak. Bukannya terbebas dari lumpur, ia justru tenggelam di dalam lumpur.

Timun Emas menenangkan diri. Ia takut raksasa akan muncul kembali dari dalam kubangan lumpur. Cukup lama ia menunggu, raksasa tidak muncul. Timun Emas pun pulang ke rumah orang tuanya. Mereka sudah terbebas dari ancaman raksasa.


Kisah Kancil dan Pak Tani

Selasa, 12 Juli 2011

| | | 0 komentar

Seekor kancil hidup di tepi hutan. Ia suka makan buah-buahan, akar-akaran dan tunas pohon. Namun ia lebih menyukai sayuran di ladang pak tani.
Pada suatu hari kancil pergi ke ladang pak tani. Ia melihat ketimun yang sudah siap dipetik. Ia langsung mengambil sebuah dan memakannya. Ia lalu berjalan untuk mengambil sebuah lagi, namun kakinya terkena jerat. Ia meronta dan menarik-narik jerat itu namun tak berhasil melepaskan diri.
Kemudian ia melihat pak tani mendekat. Ia lalu berbaring di tanah dan mengakukan badannya seolah-olah mati.
Pak tani menyentuh tubuh kancil dengan kakinya. Kancil tak bergerak. Pak tani pun melepaskan jerat dari kaki kancil dan melemparkan tubuh kancil ke luar ladang. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, kancil melompat dan lari.
Di belakangnya kancil mendengar pak tani berteriak, “Dasar nakal, dia menipuku!”
Beberapa hari kemudian kancil kembali pergi ke ladang. Ia ingin makan ketimun lagi. Ia melihat pak tani berdiri di sudut ladang. Ketika ia perhatikan ternyata itu bukan pak tani tapi orang-orangan sawah.
“Hanya boneka!” kata kancil. “Pak tani bodoh, ia mengira aku takut kepada boneka ini? Akan kutunjukkan betapa takutnya aku!”
Kancil menghampiri orang-orangan sawah itu dan memukulnya keras-keras. Namun tangannya menempel pada orang-orangan sawah. Pak tani telah melumuri boneka itu dengan getah karet yang lengket.
“Lepaskan aku!” kata kancil. Ia meronta-ronta. Kemudian ia mendorong boneka  dengan tangan yang sebelah lagi. Tangan itu juga menempel pada orang-orangan sawah.
Kancil terus meronta, dan akhinya ia mendorong boneka itu dengan kedua kakinya. Kakinya juga menempel. Ia terperangkap.
Kemudian ia melihat pak tani, ia mencoba mencari akal agar dapat meloloskan diri, namun gagal.
“Kau baik sekali mau datang lagi,” kata pak tani.
Ia melepaskan kancil dari orang-orangan sawah dan membawanya pulang. Pak tani mengurung kancil dalam sebuah kandang ayam kosong di halaman rumah.
“Kau tunggu di sini aja,” kata pak tani, “Besok kau akan menjadi makan malam kami.”
Kancil tidak dapat tidur. Ia mencari-cari akal untuk melarikan diri, namun tak satu gagasan pun muncul di kepalanya. Saat matahari terbit, kancil berbaring putus asa.
“Wah, wah, si kancil. Kau tertangkap juga akhirnya!”
Itu suara anjing peliharaan pak tani.
“Apa maksudmu? Pak tani tidak menangkapku.”
“Lalu kenapa kau ada di dalam kandang ayam?”
“Karena tidak ada kamar kosong di rumah. Kau tahu, pak tani mengadakan pesta besok. Aku akan menjadi tamu kehormatan.”
“Kau, tamu kehormatan?” kata anjing. “Aku telah bertahun-tahun mengabdi padanya dan kau cuma pencuri. Seharusnya akulah yang menjadi tamu kehormatan!”
“Benar juga,” kata kancil. “Kalau begitu, kau gantikan aku saja di sini. Jika pak tani melihatmu di sini, kaulah yang akan dijadikan tamu kehormatan.”
“Kau tidak keberatan?” tanya anjing.
“Tentu saja tidak. “
Sang anjing mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada kancil.
Maka anjing itu mengangkat kandang ayam dan membiarkan kancil keluar, kemudian ia sendiri masuk ke dalamnya.
Kancil lari ke tepi hutan. Ia mengamati rumah pak tani. Ia melihat pak tani mendekati kandang ayam dan kemudian ia mendengar pak tani berkata.”Kau anjing bodoh. Kau melepaskan kancil.”