Iman Dapat Memindahkan Gunung

Minggu, 08 Juli 2012

| | | 0 komentar


Nasredin Hoja selalu menyombongkan kekuatan imannya.

“Jika imanmu begitu kuat, berdoalah supaya gunung itu menghampirimu,” ujar seseorang sambil menunjuk sebuah gunung di kejauhan.


Hoja berdoa dengan khusuk, namun tentu saja gunung itu tidak bergeming. Ia terus berdoa, namun gunung itu tetap berdiri di tempatnya semula.

Akhirnya Hoja bangkit dan berjalan ke arah gunung itu.

“Hoja orang yang rendah hati,” katanya, "dan iman Hoja tidak kaku. Jika gunung tidak mau menghampiri Hoja, maka Hoja akan mendatangi gunung itu.”

Lopian, Puteri Sisingamangaraja XII

| | | 0 komentar


Sebuah Monumen berdiri di kota Porsea, Toba Samosir, Sumatera Utara. Monumen itu adalah Monumen Srikandi Lopian.

Pada prasasti monumen itu tertulis:

Seorang gadis belia yang ikut berjuang dan berkorban melawan penjajah Belanda, gugur dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi, dia adalah Putri Lopian.

Ayahandanya Raja Sisingamangaraja XII, saudaranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama pejuang lainnya dalam pertempuran tersebut.


Lopian adalah anak ketiga Sisingamangaraja dan satu-satunya anak perempuan. Ibunya adalah Boru Sahala. Ia lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon. Kota itu adalah pusat perjuangan Sisingamangaraja XII. Lopian sedari kecil bergaul dengan para pejuang termasuk para panglima dari Aceh.

Pada awal tahun 1907, Belanda mulai mendekati Pearaja Dairi. Sisingamangaraja mengungsikan para wanita dan anak-anak ke tempat lain. Ia telah bertekad untuk berjuang mempertahankan Pearaja Dairi.

Lopian saat itu berusia tujuh belas tahun. Ia tidak mau ikut mengungsi karena ingin bersama ayah dan kakak-kakaknya.

Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 pejuang Sisingamangaraja terdesak. Pasukan Belanda jauh lebih banyak dan membawa persenjataan yang lebih lengkap.

Konon Sisingamangaraja kebal, tidak dapat dilukai oleh tembakan peluru. Namun ada pantangan yang tidak boleh dilanggarnya, ia tidak boleh terkena darah. Lopian tertembak, sang raja langsung menghampiri dan memeluk putri kesayangannya itu. Akibatnya ia terkena darah Lopian. Ketika tertembak pasukan Belanda, ia pun tewas.

Seluruh pasukan tewas oleh tentara Belanda. Jenazah raja Sisingamangaraja dan kedua puteranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi dibawa oleh tentara Belanda ke Balige dan kemudian dimakamkan di Tarutung. Namun jenazah Lopian dan para panglima Aceh ditimbun di jurang. Hingga kini jenazah putri pemberani itu tidak dapat ditemukan.

Puteri dan Sebutir Kacang Polong

| | | 0 komentar






















Dahulu kala hidup seorang pangeran. Ia ingin menikah dengan seorang puteri, namun haruslah seorang puteri sejati. Ia berkelana ke mana-mana dan bertemu banyak puteri namun tidak menemukan puteri sejati. Dengan sedih ia pulang .
Pada suatu malam, hujan turun disertai badai. Guntur menggelegar dan petir menyambar-nyambar. Tiba-tiba terdengar ketukan di gerbang istana. Raja membukakan gerbang. Di sana berdiri seorang puteri. Ia basah kuyup dan kedinginan. Namun walaupun air menetes-netes dari rambut dan pakaiannya ia nampak seperti puteri sejati.

“Kita lihat saja nanti,” kata ratu dalam hati. Ia tertarik melihat puteri itu, namun ratu harus membuktikan bahwa ia adalah seorang puteri sejati.
Ratu pergi ke kamar tidur yang disiapkan untuk puteri itu. Ia menumpuk dua puluh buah kasur.  Di bawah kasur-kasur itu ia meletakkan sebutir kacang polong. Ia kemudian mempersilahkan puteri tidur.
Esok paginya, ratu menanyakan apakah puteri tidur nyenyak semalam.
“Oh, “ kata puteri, “aku tidak dapat memejamkan mataku. Ada apakah di tempat tidur itu? Aku merasa seperti tidur di atas sesuatu yang keras di bawah kasur itu sehingga seluruh tubuhku sakit dan memar-memar!”
Tahulah mereka bahwa ia benar-benar seorang puteri sejati karena ia dapat merasakan kacang polong melalui begitu banyak kasur. Hanya puteri sejati yang memiliki kepekaan seperti itu.
Pangeran menikahi puteri karena ia tahu bahwa ia adalah puteri sejati. Kacang polong itu disimpan di museum.

Tak Terkalahkan Oleh Api

| | | 0 komentar




Pada suatu malam di bulan Desember 1914, kompleks laboratorium Thomas Alva Edison terbakar. Kompleks itu terdiri dari 6 bangunan. Semuanya terbakar habis. Kerugian diperkirakan sekitar 2 juta dollar, belum termasuk hancurnya semua penemuan dan catatan kerja Edison seumur hidupnya.

Malam itu, pada saat terjadi kebakaran, putera Thomas, Charles khawatir akan ayahnya. Ia berlari-lari dengan panik mencari sang ayah. Charles menemukan Thomas sedang berdiri memandangi api. Mukanya merah dan rambut putihnya berkibar-kibar ditiup angin. Ketika melihat Charles, Thomas berteriak, “Mana ibumu?”

“Ajak dia ke sini,” lanjutnya.  “Ia tak akan pernah melihat kejadian seperti ini lagi seumur hidupnya!”

Malam itu Thomas berkata, “Walaupun aku sudah berumur 67 tahun, aku akan memulai lagi besok.”

Keesokan harinya, Thomas berjalan-jalan di dekat bara api yang telah menghancurkan begitu banyak impian dan harapannya. “Ada nilai yang besar dalam bencana. Semua kesalahan kita terbakar habis. Syukurlah kita dapat memulai lembaran baru! Kita akan membangun yang lebih baik dan lebih besar di atas puing-puing ini.”

Dengan bantuan sahabatnya Henry Ford,  Edison langung membangun kembali laboratoriumnya. Tiga minggu setelah kebakaran itu, Edison menyelesaikan phonograph
Gambar: http://www.precinemahistory.net/images/edison_phonograph_poster.jpg

Asal-Usul Telaga Warna

| | | 0 komentar

















Dahulu kala sebuah kerajaan berdiri di Jawa Barat. Kerajaan itu diperintah oleh seorang prabu yang arif bijaksana. Rakyatnya hidup sejahtera.

Sayang sekali Prabu dan permaisurinya tidak dikaruniai keturunan. Bertahun-tahun mereka menunggu kehadiran seorang anak, hingga sang Prabu memutuskan untuk pergi ke hutan dan berdoa. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberinya keturunan.
Seluruh kerajaan ikut bergembira ketika akhirnya doa Prabu dan Permaisuri dikabulkan. Permaisuri mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik.

Puteri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Karena ia puteri satu-satunya dan kelahirannya dulu begitu lama dinantikan, ia sangat dimanja. Semua keinginannya dituruti.

Sekarang sang puteri sudah dewasa. Sebentar lagi ia akan berusia tujuh belas tahun. Rakyat kerajaan mengumpulkan banyak sekali hadiah untuk puteri tercinta mereka. Sang Prabu mengumpulkan semua hadiah dari rakyat dan berniat akan membagi-bagikannya kembali kepada mereka.

Ia hanya menyisihkan sedikit perhiasan emas dan permata. Ia kemudian meminta tukang perhiasan untuk melebur emas itu dan membuatnya menjadi sebuah kalung permata yang indah untuk puterinya.

Pada hari ulang tahun sang puteri, Prabu menyerahkan kalung itu.
“Puteriku, sekarang kau sudah dewasa. Lihatlah kalung yang indah ini. Kalung ini hadiah dari rakyat kita. Mereka sangat menyayangimu. “

“Pakailah kalung ini, nak.”

Rakyat kerajaan sengaja datang berduyun-duyun untuk melihat sang puteri pada hari ulang tahunnya. Mereka ingin melihat kalung yang sangat elok bertaburan batu permata berwarna-warni itu menghias leher puteri kesayangan mereka.

Puteri hanya melirik kalung itu sekilas.

Prabu dan Permaisuri membujuknya agar mau mengenakan kalung itu.
“Aku tidak mau,’ jawab puteri singkat.

“Ayolah, nak,” kata permaisauri, ia mengambil kalung itu hendak memakaikannya di leher puterinya.”

Namun puteri menepis tangan permaisuri hingga kalung itu terbanting ke lantai.

“Aku tak mau memakainya! Kalung itu jelek! Jelek!” jeritnya sambil lari ke kamarnya.

Permaisuri dan semua yang hadir terpana. Kalung warna-warni yang indah itu putus dan permatanya berserakan di lantai.

Permaisuri terduduk dan mulai menangis. Lambat laun semua wanita ikut menangis, bahkan para pria pun ikut menitikkan air mata. Mereka tak pernah mengira sang puteri dapat berbuat seperti itu.

Tiba-tiba di tempat kalung itu jatuh muncul sebuah mata air yang makin lama makin besar hingga istana tenggelam. Tak hanya itu, seluruh kerajaan tergenang oleh air, membentuk sebuah danau yang luas.

Danau itu sekarang tidak seluas dulu. Airnya nampak indah berwarna-warni karena pantulan warna langit dan pohon-pohonan di sekelilingnya. Namun orang percaya bahwa warna-warna indah danau itu berasal dari kalung sang puteri yang ada di dasarnya.Danau itu disebut Telaga Warna, letaknya di daerah Puncak, Jawa Barat.

The Wolf And the Crane

Selasa, 03 Juli 2012

| | | 0 komentar

A Wolf had been gorging on an animal he had killed, when suddenly a small bone in the meat stuck in his throat and he could not swallow it. He soon felt terrible pain in his throat, and ran up and down groaning and groaning and seeking for something to relieve the pain. He tried to induce every one he met to remove the bone.

"I would give anything," said he, "if you would take it out." 

At last the Crane agreed to try, and told the Wolf to lie on his side and open his jaws as wide as he could. Then the Crane put its long neck down the Wolf's throat, and with its beak loosened the bone, till at last it got it out.

"Will you kindly give me the reward you promised?" said the Crane.

The Wolf grinned and showed his teeth and said: "Be content. You have put your head inside a Wolf's mouth and taken it out again in safety; that ought to be reward enough for you."

Gratitude and greed go not together.

Narcissus dan Echo

Kamis, 07 Juni 2012

| | | 0 komentar

Narcissus adalah seorang pemuda yang sangat rupawan . Banyak yang menyukainya namun Narcissus menolak semuanya. Narcissus suka diperhatikan dan dipuji.  Tak seorang pun sebanding dengan dirinya, demikian selalu terngiang-ngiang di telinganya dan ia suka mengamati rasa iri yang terpancar di wajah orang yang memandangi wajahnya.


Seorang peri hutan bernama Eccho menyukai Narcissus. Rasa cintanya kepada pemuda itu  sebanding dengan kesukaannya membalas perkataan orang lain. Echo selalu berbicara hingga lawan bicaranya tak dapat menjawab lagi.

Pada suatu hari dewi Juno sedang mencari suaminya Jupiter di hutan . Echo mengajak Juno mengobrol sehingga Jupiter yang ingin menghindari isterinya dapat melarikan diri.  Juno gusar, Echo yang sangat suka berbicara itu dikutuknya sehingga hanya bisa menirukan suara yang didengarnya.


Echo sering menunggu Narcissus di dalam hutan, berharap Narcissus melihatnya. Pada suatu hari Narcissus mendengar suara langkah Echo yang mengikutinya di hutan. Ia berseru, “Siapa?” dan Echo menyahut, “Siapa?”


“Kemarilah!” seru Narcissus


“Kemarilah!” tiru Echo.


Narcissus memanggil Echo untuk mendekat. Peri itu sangat bahagia dan karena ia tidak dapat mengatakan siapa dirinya dan rasa cintanya kepada Narcissus, ia memeluk pemuda itu. Narcissus medorongnya dengan marah dan mengusirnya.


Rasa duka yang mendalam membawa Echo kepada ajalnya. Tubuhnya berubah menjadi batu gunung, namun ia tetap menjawab semua suara yang didengarnya.


Narcissus tetap suka mendekati peri-peri dan dalam sekejab meninggalkan mereka. Para dewa kesal dengan tingkah lakunya. Mereka ingin menghukumnya agar ia merasakan perasaan cinta yang dalam namun tidak mendapatkan balasan. Mereka menciptakan sesuatu yang akan dicintainya. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak akan pernah membalas rasa cintanya.


Pada suatu hari Narcissus berjalan-jalan di hutan dan menjumpai sebuah kolam. Ia memandang permukaan air kolam dan melihat bayangan.  “Ia cantik sekali,” katanya dalam hati. “Pasti ia peri air yang tinggal di kolam ini.” Ia tidak mengenali bayangannya sendiri.


Narcissus memandangi bayangannya sendiri, makin lama makin ia terpesona. Ia mengulurkan tangannya dan bayangan itu juga mengulurkan tangan kepadanya. Namun ketika tangan Narcissus menyentuh air, bayangan itu lenyap. Narcissus sangat kecewa. Beberapa saat kemudian air tenang kembali dan bayangan itu muncul kembali. Narcissus mencoba menyentuh bayangannya lagi dan kembali bayangan itu meninggalkannya. Akhirnya ia berbaring telungkup, hanya dapat memandangi sosok yang sangat memikat hatinya.


Nascissus menjerit dalam nestapa. Setiap kali ia menjerit, Echo juga menjerit. Narcissus tidak beranjak dari tepi kolam, tidak makan atau minum. Peri-peri berusaha membujuknya meninggalkan tempat itu. Suara Echo mengulangi semua yang mereka ucapkan. Pemuda itu tidak bergeming hingga akhirnya ia meninggal karena berduka. Tubuhnya menjelma menjadi tumbuhan bunga yang kini disebut bunga Narcissus.


Sekarang orang yang suka mengagumi dirinya sendiri secara berlebihan disebut narsis yang diambil dari nama pemuda tampan yang sombong itu. Dan nama Echo digunakan untuk menamai suara yang memantul dan menjadi gema.

 

Gambar: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTf8VIXSOfANECgNbP_c0aMnSqh9aeOH60YFfx22yO7Hnt8OWqBtRLLn7iA