Mengapa Kelelawar Terbang Pada Malam Hari

Sabtu, 30 Maret 2013

| | | 0 komentar



Seekor tikus bernama Oyot bersahabat dengan Emiong, si kelelawar. Mereka selalu makan bersama, namun sebenarnya Emiong iri kepada tikus sahabatnya itu.

Masakan Emiong selalu menggugah selera, dan Oyot yang penasaran bertanya, “Mengapa sup masakanmu selalu lezat?”

“Oh,” jawab si kelelawar, “itu karena aku selalu merebus diriku sendiri di dalam air. Dagingku manis, sehingga supnya juga, kau tahu sendiri, lezat sekali.”

Emiong lalu mengatakan akan menunjukkan kepada Oyot. Ia mengambil panci dan mengisinya dengan air hangat. Namun ia mengatakan bahwa air itu baru saja mendidih.

“Lihat,” kata Emiong, lalu masuk ke  dalam panci itu, lalu cepat-cepat keluar lagi.

Sup yang dimasak Emiong lezat seperti biasanya, karena sebelumnya ia telah memasukkan bumbu-bumbunya.

Oyot pulang ke rumahnya. Ia menyuruh isterinya mendidihkan air.

“Bu,” katanya, “kau tahu, sup buatan Emiong sangat lezat, kan?

Isterinya menggangguk.

“Nah,” kata Oyot lagi, “aku sudah tahu rahasianya. Emiong tadi menunjukkan kepadaku caranya masak sup yang enak.”

Ketika isterinya tidak melihat, Oyot melompat ke dalam panci dan tewas seketika. Isteri Oyot sangat sedih dan marah karena suaminya meninggal. Ia melaporkan kejadian itu kepada raja.

Raja memberikan perintah untuk menangkap kelelawar dan memenjarakannya. Semua mencari dan ingin menangkap Emiong, namun kelelawar itu sudah bersembunyi. Ia hanya keluar dari persembunyiannya untuk mencari makanan ketika hari sudah gelap sehingga tak ada yang melihatnya. Itulah sebabnya kita jarang sekali melihat kelelawar pada siang hari.

Katak Yang Ingin Jadi Sapi

| | | 2 komentar



Seekor anak katak melompat-lompat pulang dari pergi bermain. Ibunya sudah menunggu di  depan rumah.

“Ke mana saja kamu seharian? Sudah sore begini baru pulang.” tanya ibu katak

“Habis main, bu, bersama teman-teman.” Jawab anak katak.

“Kalau mau pergi, kamu mestinya bilang sama ibu, mau ke mana, pergi sama siapa,” kata ibu katak lagi sambil cemberut.

“Maaf, bu," kata anak katak. 

"O ya,  kami tadi melihat hewan besaaaar sekali, “ anak katak berceloteh. “Kata temanku namanya sapi.”

“Sapi? Seperti apa hewan itu?”

“Warnanya  putih, ada hitam-hitamnya  sedikit.”

“Bentuknya seperti apa?”

Anak katak tak dapat menjawab. Lalu ia hanya menambahkan, “Pokoknya besar sekali , bu!”

“Sebesar ibu?” tanya ibu katak yang ternyata belum pernah melihat sapi.

“Lebih besar dari ibu.”

“Masa?”

Ibu katak mengambil napas dalam-dalam dan menahannya dalam perut sehingga tubuhnya menjadi lebih besar.

“Sebesar ini?”

“Lebih besar lagi.”

Ibu katak, yang tidak mau ada hewan lain yang lebih besar dari dirinya, mengambil napas dalam-dalam lagi dan menggelembungkan dirinya lagi.

“Lihat, nak! Pasti tidak sebesar ini.”

“Lebih besaaar... bu.”

Ibu katak kembali bertambah besar dan besar, namun anaknya tetap mengatakan bahwa sapi yang dilihatnya masih lebih besar lagi.

Ia mengambil napas lagi, namun, kali ini ia tersedak dan jatuh terjungkal. Napas yang dari tadi ditahannya terhembus keluar dan ia menjadi kecil seperti semula.  Sementara seluruh tubuhnya terasa sakit dan kepalanya benjol karena terantuk waktu terjatuh tadi.

Ia sudah bersiap untuk membesarkan diri lagi, namun anaknya langsung mencegahnya.

“Sudahlah, bu, sapi itu besar sekali. Ibu tak akan bisa menjadi sebesar dia, “ kata anak katak.
“Besok, kita jalan-jalan yuk, aku tunjukkan sapinya pada ibu.”

Ibu katak akhirnya berkata, “Baiklah nak,” lalu dengan  agak malu, ia mengaku, “Ibu tadi  hampir celaka karena ingin menyamai sapi.”

Kisah Kucing dan Harimau

Sabtu, 02 Maret 2013

| | | 4 komentar

Dahulu kala, kucing bersahabat dengan harimau.  Mereka selalu bersama-sama di hutan . Harimau tidak pandai berburu, maka kucing yang mencari hewan buruan untuk mereka berdua.  Karena tubuh kucing kecil, maka ia hanya dapat menangkap hewan-hewan kecil untuk mereka makan.

Harimau sering merasa lapar karena makanannya hanya sedikit. Ia sering melihat kucing berburu dan berpikir, kalau ia berburu, tentu ia akan mendapat mangsa yang lebih besar dan ia dapat makan sampai puas.

“Kucing,” kata harimau. “Aku ingin berburu, tapi aku tidak tahu caranya. Ajari dong,”

“Gampang, kok,” kata kucing.

Lalu ia mulai mengajarkan cara mengejar hewan buruan. Esoknya, kucing menunjukkan bagaimana menerkam dan menangkap buruannya.

Harimau belajar dengan cepat.  Ia sudah dapat menangkap hewan buruan besar. Tapi harimau tidak puas. 

“Kucing sangat pintar,” katanya dalam hati. “Pasti ada ilmu lain yang dimilikinya. Ia harus mengajarkannya kepadaku.”

“Hai, kucing,” kata harimau. “Kau sudah mengajarkan aku berburu. Ajari aku kepandaian lain, dong.”

“Kepandaian apa lagi?” jawab kucing. “Semua sudah kuajarkan kepadamu”

Harimau masih penasaran. Ia berpikir terus, bagaimana caranya agar kucing menunjukkan kemampuan yang belum diajarkannya. “Mungkin kalau aku mengejutkannya,” kata harimau dalam hati, “kucing akan menggunakan ilmu itu.”

Pada suatu hari, kucing sedang tidur. Harimau mengendap-endap dan menerkam kucing! Kucing terkejut tapi ia dapat menghindar dan memanjat sebatang pohon yang tinggi.

Pada saat itu kucing baru teringat bahwa ia belum mengajarkan cara memanjat pohon kepada harimau. Sementara harimau yang merasa dikhianati, marah besar.

“Kucing!” teriak harimau dari bawah pohon. “Aku tahu kau bukan teman yang baik. Akan kubalas kau!”
Harimau menunggu kucing turun dari pohon, tapi kucing tetap bertahan . Akhirnya harimau merasa lelah dan lapar, ia pun pergi sambil mengancam,” Kau tidak bisa lari dariku. Ke manapun kau pergi, aku akan mencarimu.”


Setelah harimau pergi, kucing turun dari pohon dan lari ke perkampungan manusia.  Kepandaiannya menangkap tikus membuat  manusia suka padanya dan sering membarinya makanan. Kucing pun tinggal di perkampungan.

Namun, walaupun kucing tahu harimau tidak dapat mengejarnya ke perkampungan, ia selalu berhati-hati. Setiap membuang kotoran selalu ditimbunnya dengan tanah agar tidak dapat ditemukan oleh harimau.





Harimau dari Chao-Cheng

Selasa, 02 Oktober 2012

| | | 2 komentar

Di kota  Chao-cheng hidup seorang wanita tua. Wanita itu mempunyai seorang anak laki-laki. Pada suatu hari, pemuda itu mendaki bukit dan dimangsa harimau. Sang ibu sangat berduka sehingga tidak ingin hidup lebih lama lagi.

Sambil meratapi anaknya, ia pergi menghadap hakim. Hakim menertawakannya dan mengatakan bahwa ia tidak dapat membantu ibu karena tentu saja tidak ada hukum bagi harimau yang memangsa anaknya. Ibu itu terus memohon, sehingga hakim merasa iba dan berjanji akan memenjarakan sang harimau. 

Hakim memerintahkan anak buahnya untuk menangkap harimau. Salah seorang dari mereka, Li Neng yang saat itu sedang mabuk, menyanggupi perintah itu. Sang ibu pun pulang ke rumahnya.
Ketika Li Neng sadar dari mabuknya, ia menyesal telah menerima perintah untuk menangkap harimau itu. Ia menghadap hakim dan memohon agar perintah itu dicabut.

“Li Neng,” kata hakim, “kau telah menyatakan sanggup menangkap harimau itu. Sekarang kau harus melaksanakannya.”

Sebulan lamanya Li Neng mencari harimau itu namun belum juga menemukannya. Li Neng sudah putus asa. Ia takut pada hukuman yang akan diterimanya karena tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada suatu hari ia pergi ke sebuah kuil. Ia berlutut dan berdoa sambil menangis.
Tiba-tiba seekor harimau masuk ke dalam kuil. Li Neng ketakutan. Pasti harimau itu akan memangsanya. Namun harimau itu seolah tidak melihatnya, ia duduk di pintu kuil.

“Harimau,” kata Li Neng dengan gemetar, “jika engkau telah memangsa putera ibu tua itu, biarkan aku mengikatmu dengan tali ini.”

Li Neng melemparkan tali jerat kepada harimau dan harimau itu diam saja. Ia menurut ketika Li Neng menuntunnya menghadap hakim.

Hakim mengadili harimau itu.

“Apakah kau memangsa putera wanita tua itu.”

Harimau mengangguk mengiyakan.

“Menurut hukum, pembunuh dijatuhi hukuman mati. Lagi pula wanita tua itu hanya memiliki satu anak laki-laki. Sekarang tak ada lagi yang menghidupinya.”

“Namun, bila kau mau menggantikan anaknya itu, kejahatanmu akan diampuni.”

Harimau mengangguk.

Hakim memerintahkan untuk melepaskan harimau , yang segera pergi ke hutan. Ibu tua sangat marah dan kecewa karena pembunuh anaknya tidak dihukum malah dibebaskan.

Keesokan harinya, ketika ibu tua membuka pintu rumahnya, di depan pintu itu tergeletak seekor rusa. Ibu tua  menjual daging dan kulit rusa untuk membeli makanan.

Sejak saat itu harimau selalu membawakan hewan buruan untuk ibu tua. bahkan kadang-kadang ia membawa uang dan barang berharga sehingga ibu tua menjadi kaya. Kehidupannya lebih baik daripada seandainya puteranya sendiri yang merawatnya.

Wanita tua itu menjadi sangat sayang kepada harimau. Harimau sering tidur di teras rumahnya sepanjang hari.

Beberapa tahun kemudian ibu tua meninggal. Harimau meraung sedih.

Tabungan ibu tua itu cukup banyak untuk mengadakan ucapara pemakaman yang mewah. Sanak keluarganya menghadiri pemakaman. Mereka berdiri mengelilingi makam. Tiba-tiba seekor harimau muncul sehingga semua orang lari ketakutan. Ternyata harimau itu hanya ingin memberikan penghormatan terakhir. Ia naik ke atas gundukan tanah makam dan meraung keras, kemudian ia menghilang ke dalam hutan.

Orang-orang di sekitar tempat itu kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan untuk menghormati harimau yang setia itu.

Gambar: http://www.picturesof.net/_images_300/A_Tiger_Laying_Down_and_Resting_Royalty_Free_Clipart_Picture_091112-230730-879009.jpg

Kisah Seorang Ibu

Minggu, 29 Juli 2012

| | | 1 komentar

Seorang ibu duduk bersama anaknya yang masih kecil. Ia begitu sedih, begitu takut anaknya akan meninggal. Anak itu begitu pucat, mata kecilnya telah menutup dengan sendirinya, dan ia menghela nafas begitu lembut, sekali-kali ia menghela nafas dalam-dalam, dan ibunya memandanginya lebih sedih lagi pada makhluk kecil itu.
Kemudian terdengar ketukan di pintu dan i laki-laki tua masuk. Ia mengenakan mantel yang tebal. Saat itu musim dingin. Di luar rumah semua tertutup es dan salju dan angin bertiup kencang sehingga melukai wajah.
Laki-laki tua itu gemetar kedinginan dan anak kecil itu tertidur. Maka sang ibu menuangkan ale dan menghangatkannya untuk laki-laki tua itu.  Laki-laki itu duduk dan menggoyangkan ayunan bayi, sang ibu duduk di kursi di dekatnya, memandangi anaknya yang sakit, yang menghela nafas begitu dalam dan mengangkat tangannya yang kecil.
“Apakah anda pikir aku tidak dapat menyelamatkannya?” kata ibu, “Tuhan tidak boleh mengambilnya dariku.”
Dan laki-laki tua itu yang ternyata adalah Maut sendiri, menggangguk aneh, seolah menjawab ya sekaligus tidak. Dan sang ibu menunduk memandangi pangkuannya, air mata mengalir menuruni pipinya, kepalanya terasa berat, ia tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Sekarang ia tertidur, hanya selama satu menit, ia mendadak bangun dan gemetar kedinginan.
“Apa itu?” katanya, memandang ke sekelilingnya. Orang tua itu sudah tak ada dan anaknya juga tidak ada. Ia pasti telah membawa anak kecil itu. Jam tua di sudut ____ , bandulnya yang besar mengelinding di lantai dan jam itu mati.
Ibu malang itu lari keluar rumah dan berteriak keras-keras memanggil anaknya.
Di luar sana, di tengah hujan salju, duduk seorang wanita dengan pakaian hitam panjang. Ia berkata, “Maut masuk ke kamarmu dan aku melihat ia bergegas pergi membawa anakmu. Ia berjalan lebih cepat dari angin, dan ia tidak pernah mengembalikan apa yang telah diambilnya.”
“Oh, tolong katakan ke mana ia pergi,” kata sang ibu. “Tunjukkan arahnya dan aku akan menemukannya!”
“Aku tahu ke mana ia pergi,” kata wanita berpakaian hitam. “Namun sebelum kukatakan kepadamu, kau harus menyanyikan semua lagu yang kaunyanyikan untuk anakmu! Aku suka sekali lagu-lagumu. Aku pernah mendengarmu menyanyi. Aku Sang Malam. Aku melihat air matamu ketika kau menyanyi.”
“Aku akan menyanyikannya untukmu, semuanya,” kata sang ibu. “Namun jangan halangi aku. Kalau aku cepat, aku dapat menemukan anakku.”

Namun sang Malam tak bergerak atau mengatakan apa-apa. Maka sang ibu menyanyi sambil memilin-milin tangannya dan menangis. Begitu banyak lagu dinyanyikannya dan lebih banyak lagi air matanya menetes. Kemudian sang Malam berkata, “Pergilah ke kanan, ke arah hutan pinus yang gelap itu, ke sana aku lihat Maut membawa anakmu.”
Sang ibu berjalan hingga tiba di persimpangan jalan di tengah hutan. Ia tak tahu harus ke mana. Dilihatnya sebuah semak berduri yang sudah tidak mempunyai daun dan bunga. Serpihan es menggantung pada cabang-cabangnya.
“Apakah kau melihat Maut lewat di sini membawa anakku yang masih kecil?” kata sang ibu.
“Ya,” kata semak berduri. “Namun aku tidak mau memberitahumu ke mana ia pergi, kecuali kau mau menghangatkanku. Aku hampir mati kedinginan dan menjadi gumpalan es.”
Sang ibu pun memeluk semak berduri begitu erat agar semak berduri benar-benar merasa hangat, sehingga duri-duri melukai tubuhnya dan darahnya menetes. Daun-daun segar dan hijau mulai bermunculan  dan berikutnya bunga-bunga mulai berkembang di tengah malam musim dingin, karena hati seorang ibu yang ____ begitu hangat. Semak berduri kemudian menunjukkan ke mana sang ibu harus pergi.
Sang ibu kemudian tiba di sebuah danau yang luas, di mana tidak ada kapal atau perahu. Danau itu tidak terlalu beku sehingga tidak dapat menahan berat tubuhnya, juga tidak terbuka atau cukup dangkal sehingga ia dapat berjalan menyeberanginya. Maka ia itu berbaring untuk meminum air danau. Yang jelas-jelas mustahil dilakukan seorang manusia, namun ibu yang ____ berpikir bahwa mungkin terjadi mujizat.
“Apa pun akan kuberikan untuk mendapatkan kembali anakku!” kata sang ibu sambil menangis. Ia masih terus menangis hingga sepasang matanya jatuh dan tenggelam ke dasar danau dan menjelma menjadi sepasang mutiara yang indah. Namun air danau menyapunya seolah ia duduk di atas ayunan dan ia terbawa ombak yang mengayunnya ke seberang. Di sana berdiri sebuah rumah besar yang aneh. Namun sang ibu tidak dapat melihatnya karena kedua matanya sudah hilang.
“Di mana aku akan menemukan Maut yang telah mengambil anakku?” katanya.
“Ia belum datang,” kata seorang wanita tua yang bertugas merawat rumah besar itu.  “Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Siapa yang telah menolongmu?”
“Tuhan menolongku,” kata sang ibu. “Di mana aku dapat menemukan anakku?”
“Kau tak dapat melihat!” kata wanita tua itu. Banyak bunga dan tanaman mati malam ini. Maut akan segera datang dan menanam mereka kembali. “
“Kau tentu tahu, setiap orang mempunyai pohon atau bunga kehidupan mereka sendiri. Mereka tampak seperti pohon biasa, namun jantung mereka berdenyut. Begitu juga pohon anakmu. Mungkin kau ingin tahu mana pohon anakmu, namun apa yang akan kau berikan kepadaku bila aku memberitahumu?
“Aku tak punya apa-apa lagi,” kata ibu yang afflicted. “Namun aku mau pergi pergi ke ujung dunia untukmu.”
“Tidak. Mau apa aku di sana?” kata wanita itu. “Namun kau bisa memberikan rambutmu yang hitam panjang itu kepadaku. Kau boleh mengambil rambutku yang putih ini.”
Sang ibu memberikan rambutnya yang hitam dan sebagai gantinya ia mengambil rambut putih wanita tua itu.
Wanita tua itu mengajak sang ibu masuk ke dalam kebun sang Maut. Tanaman bunga dan pohon tumbuh saling melilit di sana. Tanaman-tanaman itu semua nampak terawat dan disayangi. Semua tanaman memiiki nama dan di dalam mereka ada nyawa manusia yang masih hidup.
Ibu yang sedih itu mendekati semua tanaman yang terkecil dan mendengarkan detak jantung mereka. Di antara jutaan tanaman di sana dia dapat mengenali detak jantung anaknys.
“Ini dia!” jeritnya sambil menjulurkan tangannya kepada tanaman kecil berbunga biru yang sudah mulai layu.
“Jangan sentuh bunga itu!” kata wanita tua. “Kau tetaplah di situ. Dan bila Maut datang tak lama lagi, jangan biarkan ia mencabutnya. Ancam dia, katakan kau akan mencabut tanaman lain. Ia pasti takut karena ia bertanggung jawab kepada Tuhan dan tak seorang pun boleh mencabut tanaman sebelum ia memberi ijin.”
Tiba-tiba hawa dingin memasuki kebun itu dan ibu yang buta itu dapat merasakan bahwa Maut sudah datang.
“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyanya. “Bagaimana kau bisa lebih cepat dari aku?”
“Aku seorang ibu,” jawabnya.
“Aku hanya menjalankan perintah Tuhan,” kata Maut. “Aku tukang kebun Nya, aku mengambil semua pohon dan tanaman dan menanamnya kembali di taman Surga. Namun aku tak dapat mengatakan kepadamu bagaimana keadaan di sana.”
“Kembalikan anakku!” ratap ibu. Ia memegang dua tanaman bunga yang cantik di dekatnya dengan kedua tangannya. “Aku akan merusak semua tanamanmu karena aku putus asa.”
“Jangan sentuh!” kata Maut. “Kau mengatakan bahwa kau sangat sedih dan sekarang kau akan membuat ibu lain sama sedihnya denganmu.”
“Ibu lain?” kata wanita malang itu dan langsung melepaskan pegangannya pada kedua tanaman itu.
“Ambillah matamu ini,” kata Maut. Aku mengambilnya di dasar danau. Mata ini bersinar begitu terang dan aku tahu ini milikmu. Ambillah kembali, mata ini sekarang lebih terang dari sebelumnya.”
“Aku akan memberitahumu nama kedua bunga yang tadi hampir kaucabut dan kau akan melihat masa depan mereka, keberadaan mereka sebagai manusia. Lihatlah apa yang hampir kauhancurkan.”
Sang ibu melihat ke dalam sumur dan begitu bahagia melihat salah satunya membawa berkat bagi dunia dan betapa banyak kebahagiaan yang terasa di mana-mana. Kemudian ia melihat kehidupan yang satu lagi, penuh kesedihan, ketakutan dan kehancuran.
“Keduanya adalah kehendak Tuhan,” kata Maut.
“Yang mana bunga yang malang dan yang bahagia itu?”

“Aku tidak dapat mengatakannya kepadamu.” kata Maut. “Namun salah satunya adalah bunga anakmu. Kau telah melihat masa depan anakmu sendiri”

Sang ibu menjerit ketakutan. “Mana di antaranya anakku? Katakan! Selamatkan anakku dari kesengsaraan. Bawalah ia ke surga! Lupakan air mataku! Lupakan doaku dan apa yang telah kulakukan!”
“Aku tak mengerti,” kata Maut “Kau mau mengambil anakmu atau biarkan aku membawanya ke sana, ke tempat yang tidak kau ketahui?”
Sang ibu memilin-milin tangannya, jatuh berlutut dan berdoa, “Jangan dengarkan ketika aku berdoa melawan kehendakMu. KehendakMu lah yang tebaik. Jangan dengarkan aku!”
Ia membungkukkan kepalanya ke pangkuan dan maut mengambil anaknya dan pergi ke tempat yang tak seorang pun tahu.
 Seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya.

Gambar: http://spiritoftheages.com/The%20Story%20of%20a%20Mother%20(Kay%20Nielsen)%20(detail)%20(300).jpg

Kisah Tukang Batu dan Roh Gunung

| | | 0 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang tukang batu. Tiap hari ia pergi ke gunung dan memotong batu besar yang ada di sana. Ia sangat trampil. Ia tahu jenis  batu yang dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Karena hasil karyanya bagus, ia memiliki banyak pelanggan yang memesan berbagai peralatan dari batu.

Tukang batu itu hidup bahagia dan berkecukupan. Ia tak pernah menginginkan melebihi yang yang telah dimilikinya.

Di gunung itu tinggal roh yang kadang-kadang terlihat oleh orang-orang. Ia sering membantu orang menjadi kaya dan makmur. Tukang batu tidak pernah melihat roh itu dan tidak mempercayai cerita orang-orang tentang roh itu.
Pada suatu hari tukang batu mengantarkan pesanan ke rumah seorang kaya. Di dalam rumah orang kaya itu ia melihat banyak barang yang indah dan mewah yang tak pernah diimpikannya. Ketika pada suatu hari ia merasa lelah bekerja dan pekerjaannya dirasakannya kian berat, ia berkata pada dirinya sendiri, “Seandainya aku kaya raya, tempat tidurku empuk dan berlapis kain sutera, betapa bahagianya aku!”

Sebuah suara menjawab, “Keinginanmu dikabulkan, sekarang kau kaya raya!”
Tukang batu itu memandang ke sekelilingnya dan tidak melihat orang lain.

“Ah, cuma bayanganku saja,” katanya dalam hati.

Ia pun membenahi peralatannya dan pulang. Ketika tiba di rumah kecilnya, ia sangat terkejut karena rumahnya telah berubah menjadi gedung yang mewah, dengan perabotan yang sangat indah, terutama tempat tidur indah seperti yang diimpikannya. Ia sangat bahagia dan segera melupakan kehidupan lamanya.

Musim panas tiba. Matahari bersinar terik setiap hari. Pada suatu siang tukang batu merasa kepanasan, maka ia pun keluar rumah dan melihat-lihat jalan di depan rumahnya. Sebuah kereta mewah lewat, ditarik oleh para pelayan berpakaian seragam. Di dalam kereta itu duduk seorang pangeran, seorang pelayan membawa payung keemasan untuk melindungi pangeran dari terik matahari.

Tukang batu memandangi kereta hingga lenyap di kelokan jalan.
“Oh,” katanya dalam hati. “Andai saja aku seorang pangeran, naik kereta dan dipayungi dengan payung emas, langkap bahagianya!”

Tiba-tiba ia menjadi pangeran. Ia dikelilingi pelayan yang mengiringi keretanya dan memayunginya serta melayaninya. Namun ia kemudian menyadari, walaupun dilindungi payung, kulitnya makin hari makin cokelat hingga ia berteriak, “Matahari lebih lebat dariku, aku mau jadi matahari saja!”

Sekali lagi keinginannya terpenuhi, pangeran berubah menjadi matahari. Ia sangat bangga. Ia sekuat tenaga menyorotkan sinar ke bumi hingga rumput layu dan wajah orang-orang menjadi cokelat. Namun ia menjadi bosan dengan kekuatannya sendiri. Apalagi ketika awan menutupi wajahnya dan menghalangi sinarnya ke bumi. “Jadi awan itu lebih hebat dariku? Aku ingin jadi awan!”

Ia menangkap sinar matahari sehingga tidak dapat mencapai bumi. Rumput dan tumbuhan menjadi hijau dan segar. Ia mencurahkan hujan terus menerus hingga sungai meluap. Sawah-sawah tergenang dan tanaman padi terendam air. Namun ada satu yang tidak bergeming, yaitu batu besar di gunung.
“Oh, “ kata awan, “jadi batu itu lebih kuat dariku? Mengapa aku tidak menjadi batu saja?”

Tiba-tiba awan itu jatuh ke tanah dan berubah menjadi batu gunung yang besar. Ia sangat senang dan bangga. Sekarang ia yang paling hebat! Pada suatu hari ia mendengar bunyi ketukan berulang-ulang dan merasa kakinya tergelitik. Dilihatnya seorang tukang batu menancapkan pahat di kakinya dan mengetuk pahat itu dengan palu. Ia ketakutan melihat sebongkah batu besar jatuh dari kakinya. “Aduh, lama-lama tubuhku habis! Manusia ternyata lebih hebat dariku. Seandainya aku menjadi manusia.”

Seperti sebelumnya, roh gunung itu menjawab, “Keinginanmu dikabulkan. Jadilah kau manusia!”

Jadilah ia menjadi manusia kembali, menjadi tukang batu.  Tempat tidurnya keras dan ia hanya memiliki makanan secukupnya, namun ia sudah puas. Tak pernah lagi ia menginginkan lebih dari yang dimilikinya atau menjadi sesuatu atau seseorang yang bukan dirinya. Ia bahagia dan tak pernah mendengar suara roh gunung lagi.

Cinde Laras

Rabu, 11 Juli 2012

| | | 0 komentar



Dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Kediri di Jawa Timur. Kerajaan itu dipimpin oleh raja bernama Raden Putra. Raden Putra kaya raya dan berkuasa. Kegemarannya menyabung ayam.
Raden Putra memiliki permaisuri dan beberapa orang selir. Seorang selirnya ingin merebut kedudukan permaisuri. Ia memfitnah permaisuri dan mengatakan bahwa permaisuri menaruh racun pada makanan raja. Sang raja murka. Tanpa berpikir panjang dan memeriksa kebenaran berita itu, ia memerintahkan prajurit untuk membawa permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Para prajurit membawa permaisuri ke hutan, namun mereka tidak sampai hati membunuh permaisuri yang baik hati dan bijaksana. Apalagi ia sudah mengandung. Mereka dengan berat hati meninggalkan permaisuri di hutan. Mereka menangkap seekor rusa dan membawa jantungnya kepada raja sebagai bukti bahwa mereka telah membunuh permaisuri.

Beberapa bulan kemudian permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat. Bayi itu diberi nama Cinde Laras.

Cinde Laras tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas. Ia suka bermain di hutan. Pada suatu hari ia menemukan sebutir telur ayam. Cinde Laras membawa telur itu pulang dan merawatnya hingga menetaskan seekor anak ayam jantan. Anak ayam itu dengan cepat tumbuh menjadi besar.

Seperti ayahnya, Cindelaras suka menyabung ayam. Ia pergi ke desa-desa tetangga untuk menyabung ayam. Ayam jagonya sangat kuat dan selalu menang melawan ayam-ayam jago lain. Cindelaras menjadi terkenal. Semua orang mendengar cerita tentang anak laki-laki itu dan ayam jagonya.

Sang raja juga mendengar berita tentang ayam jago yang tak terkalajkan dan pemiliknya yang masih bocah. Raja mengundang Cinde Laras ke istana untuk melihat ayam jago terkenal itu bertarung.
Ketika Cinde Laras datang di istana, raja terkesiap. “Katanya anak ini  tinggal di hutan, namun tindak tanduknya seperti anak bangsawan,” pikirnya.

Raja mengajak Cinde Laras mengadu ayam. Cinde Laras mengajukan syarat, bila ia memenangkan pertandingan itu, raja harus merelakan setengah kerajaan untuk diberikan kepadanya. Raja langsung setuju. Ayam-ayam jagonya semua ayam pilihan dan dirawat dengan sangat baik. Tak mungkin ayam jago Cinde Laras bisa menang.

Raja memilih ayamnya yang terbaik untuk melawan ayam Cinde Laras, namun dengan mudah dikalahkan. Semua orang terkejut. Mereka lebih heran lagi ketika ayam Cinde Laras berkokok.

Bunyinya, “Kukuruuyuuuk...! Akulah ayam jago Cindelaras, yang hidup di hutan, tapi ia anak Raden Putra!”

Ayam itu berkokok lantang berulang-ulang. Raja sangat terkejut. Ia kemudian memanggil Cindelaras mendekat.

"Siapa namamu? Di mana rumahmu?” tanya raja.

“Nama saya Cinde Laras, yang mulia. Saya tinggal bersama ibu di hutan"

“Siapa nama ibumu?”

Cinde Laras menyebutkan nama ibunya dan raja terperanjat.

"Apakah benar ia anakku?" tanyanya dalam hati.

Raja memerintahkan prajurit untuk mengawalnya dan Cinde Laras ke rumahnya di hutan.
Di sana raja melihat seorang wanita dan langsung mengenalinya sebagai permaisuri yang dulu hendak dibunuhnya. Permaisuri menceritakan bahwa ia difitnah dan ia melahirkan Cinde Laras.

Raja sangat menyesal karena ia dulu terburu nafsu. Ia mengajak permaisuri dan Cinde Laras kembali ke istana.

Raja mengukuhkan kembali kedudukan permaisuri dan menghukum selir yang jahat itu. Setelah raja meninggal, Cinde Laras menggantikannya menjadi raja. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.

Gambar: http://elzhito.files.wordpress.com/2012/02/cindelaras.jpg