Kisah Gadis Yang Menikah Dengan Ular

Sabtu, 30 Maret 2013

| | | 1 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang brahmana dan isterinya. Sudah lama mereka mengharapkan kehadiran seorang bayi, namun mereka tidak juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya setelah lama menanti, sang isteri mengandung dan melahirkan. Namun ternyata bayi yang dilahirkannya adalah seekor ular.

Para tetangga yang ketakutan menyuruh mereka segera membuang ular itu, namun suami isteri itu tetap merawat ular itu seperti layaknya anak menusia. Ular itu tumbuh menjadi dewasa dan ibunya sangat menyayanginya.

Pada suatu hari, sang ibu minta kepada suaminya untuk mencari calon isteri untuk putera mereka.

"Anak kita sudah dewasa, pak. Sudah waktunya ia menikah dan membangun rumah tangganya sendiri," kata wanita itu.

"Aku tahu, bu," jawab suaminya. "Tapi gadis mana yang mau menikah dengan seekor ular?"

Isterinya terus mendesak dan menangis. Akhirnya sang suami memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya di desa tetangga. Siapa tahu, teman lamanya itu dapat membantu.

Sesampai di rumah sahabatnya, brahmana menceritakan bahwa ia sedang mencari calon isteri untuk puteranya. Sahabatnya malah memanggil anak gadisnya dan berkata. "Kalau begitu, ambillah puteriku ini menjadi isteri puteramu."

Brahmana tercengang, "Kurasa... sebaiknya kau melihat puteraku dulu. Puteraku...."

"Ah, tidak perlu..." sela sahabatnya. "Kita sudah lama berteman, puteramu pasti pemuda yang baik."

Maka brahmana membawa gadis itu pulang untuk dinikahkan dengan puteranya. 

Isteri brahmana segera mempersiapkan pernikahan. Para tetangga yang datang membantu persiapan pernikahan membujuk calon pengantin untuk membatalkan pernikahannya, namun gadis itu tetap pada pendiriannya.

Akhirnya mereka menikah. Walaupun suaminya seekor ular, gadis itu melayani keperluannya dengan sangat baik. Ular itu tidur di sebuah peti kayu di samping tempat tidur isternya.

Pada suatu malam wanita muda itu terbangun. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pemuda tampan duduk di tepi tempat tidurnya. 

"Jangan takut, isteriku," kata pemuda itu.
"Siapa kau? Di mana suamiku?" jawab wanita itu ketakutan.
"Aku suamimu. Lihatlah,ini kulitku," kata pemuda itu sambil menunjukkan kulit ular yang kosong.
"Aduuh... jangan-jangan kau mencelakakan suamiku," kata wanita sambil menangis.
"Lihatlah," kata pemuda itu sambil mengenakan kulit ular itu lalu menanggalkannya lagi.

Sejak saat itu tiap malam pemuda itu melepaskan kulit ularnya. Ia tinggal bersama isterinya sepanjang malam. menjelang fajar ia berubah menjadi ular lagi. 

Pada suatu malam, brahmana mendengar suara orang bercakap-cakap di kamar menantunya. Karena curiga, ia mengintip dan melihat puteranya menanggalkan kulitnya dan berubah menjadi seorang pemuda. 

Brahmana bergegas masuk ke kamar. Ia mengambil kulit ular itu dan melemparkannya ke dalam api. Dalam sekejap kulit ular itu terbakar menjadi abu.

"Terima kasih, ayah," kata pemuda itu, "sekarang aku terbebas dari kutukan dan hidup sebagai manusia sewajarnya."

Pemuda itu pun hidup bahagia dan tenteram bersama isteri dan orang tuanya.

Gambar: http://www.clipartpal.com/_thumbs/snake_slither_98949_tnb.png

Kisah Keledai Yang Bodoh

| | | 0 komentar


Dahulu kala, seorang saudagar memiliki seekor keledai. Tiap hari keledai itu membawa muatan yang berat.
Barang yang dibawanya bermacam-macam, tergantung pesanan yang harus diantarkan ke langganan saudagar itu.

Pada suatu hari, keledai itu membawa muatan menyeberang sungai. Ketika ia sedang berada di atas jembatan, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke dalam sungai. Pelayan sang saudagar segera membantunya keluar dari sungai dan menaikkan muatan lagi.

"Aneh sekali, rupanya air sungai itu berkhasiat", pikir keledai. "Muatanku tadi berat sekali, tapi setelah jatuh ke sungai, sekarang jadi ringan sekali."
Rupanya ia sedang membawa sekarung garam. Ketika terkena air, sebagian garam larut sehingga muatan menjadi ringan. 

Esok harinya, ketika membawa barang lagi, keledai itu melewati jembatan yang sama. Ia sengaja menjatuhkan diri ke dalam sungai. Kebetulan ia membawa garam lagi, sehingga ia pun senang karena muatan menjadi ringan.

Beberapa hari kemudian, keledai melewati tempat itu lagi. Ia melompat ke dalam sungai. Namun apa yang terjadi? Setelah keluar dari sungai, muatannya bukan menjadi ringan namun beratnya sekarang berlipat ganda. Keledai itu tidak tahu, bukan garam yang dibawanya, namun kapas. Ketika kapas terkena air, air meresap ke dalam kapas, sehingga tentu saja menjadi berat sekali.


Gambar: http://aaradhnak.files.wordpress.com/2010/04/donkey2.gif

Nasrudin Hoja dan Sebatang Lilin

| | | 0 komentar
candle clipart

Pada suatu hari Nasrudin Hoja berkumpul dengan teman-temannya. Mereka mengobrol seru, hingga pembicaraan bergeser kepada cuaca yang sangat dingin beberapa hari terakhir ini. Beberapa teman Hoja mengeluhkan cuaca dingin itu.


"Karena dingin, aku jadi pilek."

"Aku sakit perut."

"Tulang-tulangku ngilu."

"Begitu ya," Hoja tertawa. "Masa kalian kalah sama dingin? Aku tak ada masalah dengan cuaca sekarang ini."

Teman-temannya terkejut  dan menjadi agak kesal.

"Kamu kan selalu di dalam rumah pada malam hari, makanya tidak kedinginan," salah satu temannya menimpali. 

"Aku sering keluar rumah untuk berjalan-jalan di malam hari dan tak pernah merasa kedinginan, apalagi sampai sakit."

Makin kesal lah teman-temannya. Mereka sepakat memberi Hoja pelajaran.

"Ayo buktikan bahwa kau tidak kedinginan."

"Baiklah," kata Hoja, "Siapa takut?"

"Malam ini, pergilah ke luar rumah, kau boleh masuk kembali setelah satu jam."

"Hanya satu jam?"

Akhirnya disepakati malam itu Hoja akan tinggal di luar rumah selama satu jam. Bila Hoja berhasil menyelesaikan tantangan itu, mereka akan menraktirnya makan malam. Sebaliknya, bila Hoja gagal, ia harus menyediakan makan malam untuk mereka.

Malam itu, Hoja keluar dan berjalan-jalan di sekeliling rumahnya. Tak disangkanya malam itu sangat dingin. Ia menggigil kedinginan. Tak lama kemudian ia mulai bersin-bersin dan pilek. Hanya beberapa menit kemudian tulang-tulangnya terasa sakit dan ngilu. Itu belum semuanya, perutnya pun mulai terasa kembung dan sakit.

Hoja menyesal telah membual dan menerima tantangan itu. Ia segera berjalan kembali ke rumah. Kemudian ia melihat sebatang lilin yang tadi diletakkannya di jendela. Ia mendekati lilin itu dan mendekatkan tangannya. Ia membayangkan cahaya lilin itu menghangatkan seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian Hoja tidak merasa kedinginan lagi, bahkan mulai merasa hangat. Ia terus membayangkan kehangatan lilin itu hingga satu jam berlalu.

Esok harinya, teman-temannya menanyakan apa yang terjadi. Hoja menceritakannya.

"Wah," seru temannya, "Kalau begitu kau curang!"

"Betul, tidak ada lilin dalam perjanjian kita." kata yang lain.

Hoja berusaha menjelaskan, namun mereka tidak mau menerima penjelasan itu. Hoja tetap dinyatakan gagal dan harus menyiapkan makan malam untuk mereka. Mau tak mau Hoja setuju.

"Baiklah," kata Hoja, "Datanglah ke rumahku jam enam nanti sore."

Jam enam, mereka datang. Hoja tidak kelihatan. Mereka memanggil, dan Hoja menyilakan mereka duduk di ruang makan. 

"Sebentar lagi makanan siap. Tunggu ya."

Setengah jam kemudian Hoja belum muncul. Ketika mereka bertanya, Hoja menjawab, sebentar lagi makan malam siap.

Satu jam, jawaban Hoja tetap sama.

Satu setengah jam, dua jam menunggu, mereka sudah lapar sekali dan Hoja tetap tidak muncul. Mereka mencarinya di dapur. Di sana mereka melihat Hoja mengaduk-aduk isi sebuah panci.

"Maaf ya, makanannya belum matang juga," kata Hoja.

"Lama sekali kau memasaknya," kata mereka.

"Aku juga heran," kata Hoja, "Padahal aku sudah masak dari siang, lho."

Teman-temannya penasaran, masakan apa yang sedang disiapkan oleh Hoja hingga membutuhkan waktu begitu lama?  Mereka mendekat. Di dalam panci ada sup dan di bawah panci bukan tungku yang mereka lihat, melainkan sebatang lilin.

Mereka menjadi malu. Mereka sebenarnya tahu bahwa sebatang lilin saja tidak dapat menghangatkan tubuh Hoja di malam yang dingin itu. 

Gambar: http://www.free-clipart-pictures.net/free_clipart/object_clipart/object_clipart_candle.gif

Mengapa Kelelawar Terbang Pada Malam Hari

| | | 0 komentar



Seekor tikus bernama Oyot bersahabat dengan Emiong, si kelelawar. Mereka selalu makan bersama, namun sebenarnya Emiong iri kepada tikus sahabatnya itu.

Masakan Emiong selalu menggugah selera, dan Oyot yang penasaran bertanya, “Mengapa sup masakanmu selalu lezat?”

“Oh,” jawab si kelelawar, “itu karena aku selalu merebus diriku sendiri di dalam air. Dagingku manis, sehingga supnya juga, kau tahu sendiri, lezat sekali.”

Emiong lalu mengatakan akan menunjukkan kepada Oyot. Ia mengambil panci dan mengisinya dengan air hangat. Namun ia mengatakan bahwa air itu baru saja mendidih.

“Lihat,” kata Emiong, lalu masuk ke  dalam panci itu, lalu cepat-cepat keluar lagi.

Sup yang dimasak Emiong lezat seperti biasanya, karena sebelumnya ia telah memasukkan bumbu-bumbunya.

Oyot pulang ke rumahnya. Ia menyuruh isterinya mendidihkan air.

“Bu,” katanya, “kau tahu, sup buatan Emiong sangat lezat, kan?

Isterinya menggangguk.

“Nah,” kata Oyot lagi, “aku sudah tahu rahasianya. Emiong tadi menunjukkan kepadaku caranya masak sup yang enak.”

Ketika isterinya tidak melihat, Oyot melompat ke dalam panci dan tewas seketika. Isteri Oyot sangat sedih dan marah karena suaminya meninggal. Ia melaporkan kejadian itu kepada raja.

Raja memberikan perintah untuk menangkap kelelawar dan memenjarakannya. Semua mencari dan ingin menangkap Emiong, namun kelelawar itu sudah bersembunyi. Ia hanya keluar dari persembunyiannya untuk mencari makanan ketika hari sudah gelap sehingga tak ada yang melihatnya. Itulah sebabnya kita jarang sekali melihat kelelawar pada siang hari.

Katak Yang Ingin Jadi Sapi

| | | 2 komentar



Seekor anak katak melompat-lompat pulang dari pergi bermain. Ibunya sudah menunggu di  depan rumah.

“Ke mana saja kamu seharian? Sudah sore begini baru pulang.” tanya ibu katak

“Habis main, bu, bersama teman-teman.” Jawab anak katak.

“Kalau mau pergi, kamu mestinya bilang sama ibu, mau ke mana, pergi sama siapa,” kata ibu katak lagi sambil cemberut.

“Maaf, bu," kata anak katak. 

"O ya,  kami tadi melihat hewan besaaaar sekali, “ anak katak berceloteh. “Kata temanku namanya sapi.”

“Sapi? Seperti apa hewan itu?”

“Warnanya  putih, ada hitam-hitamnya  sedikit.”

“Bentuknya seperti apa?”

Anak katak tak dapat menjawab. Lalu ia hanya menambahkan, “Pokoknya besar sekali , bu!”

“Sebesar ibu?” tanya ibu katak yang ternyata belum pernah melihat sapi.

“Lebih besar dari ibu.”

“Masa?”

Ibu katak mengambil napas dalam-dalam dan menahannya dalam perut sehingga tubuhnya menjadi lebih besar.

“Sebesar ini?”

“Lebih besar lagi.”

Ibu katak, yang tidak mau ada hewan lain yang lebih besar dari dirinya, mengambil napas dalam-dalam lagi dan menggelembungkan dirinya lagi.

“Lihat, nak! Pasti tidak sebesar ini.”

“Lebih besaaar... bu.”

Ibu katak kembali bertambah besar dan besar, namun anaknya tetap mengatakan bahwa sapi yang dilihatnya masih lebih besar lagi.

Ia mengambil napas lagi, namun, kali ini ia tersedak dan jatuh terjungkal. Napas yang dari tadi ditahannya terhembus keluar dan ia menjadi kecil seperti semula.  Sementara seluruh tubuhnya terasa sakit dan kepalanya benjol karena terantuk waktu terjatuh tadi.

Ia sudah bersiap untuk membesarkan diri lagi, namun anaknya langsung mencegahnya.

“Sudahlah, bu, sapi itu besar sekali. Ibu tak akan bisa menjadi sebesar dia, “ kata anak katak.
“Besok, kita jalan-jalan yuk, aku tunjukkan sapinya pada ibu.”

Ibu katak akhirnya berkata, “Baiklah nak,” lalu dengan  agak malu, ia mengaku, “Ibu tadi  hampir celaka karena ingin menyamai sapi.”

Kisah Kucing dan Harimau

Sabtu, 02 Maret 2013

| | | 4 komentar

Dahulu kala, kucing bersahabat dengan harimau.  Mereka selalu bersama-sama di hutan . Harimau tidak pandai berburu, maka kucing yang mencari hewan buruan untuk mereka berdua.  Karena tubuh kucing kecil, maka ia hanya dapat menangkap hewan-hewan kecil untuk mereka makan.

Harimau sering merasa lapar karena makanannya hanya sedikit. Ia sering melihat kucing berburu dan berpikir, kalau ia berburu, tentu ia akan mendapat mangsa yang lebih besar dan ia dapat makan sampai puas.

“Kucing,” kata harimau. “Aku ingin berburu, tapi aku tidak tahu caranya. Ajari dong,”

“Gampang, kok,” kata kucing.

Lalu ia mulai mengajarkan cara mengejar hewan buruan. Esoknya, kucing menunjukkan bagaimana menerkam dan menangkap buruannya.

Harimau belajar dengan cepat.  Ia sudah dapat menangkap hewan buruan besar. Tapi harimau tidak puas. 

“Kucing sangat pintar,” katanya dalam hati. “Pasti ada ilmu lain yang dimilikinya. Ia harus mengajarkannya kepadaku.”

“Hai, kucing,” kata harimau. “Kau sudah mengajarkan aku berburu. Ajari aku kepandaian lain, dong.”

“Kepandaian apa lagi?” jawab kucing. “Semua sudah kuajarkan kepadamu”

Harimau masih penasaran. Ia berpikir terus, bagaimana caranya agar kucing menunjukkan kemampuan yang belum diajarkannya. “Mungkin kalau aku mengejutkannya,” kata harimau dalam hati, “kucing akan menggunakan ilmu itu.”

Pada suatu hari, kucing sedang tidur. Harimau mengendap-endap dan menerkam kucing! Kucing terkejut tapi ia dapat menghindar dan memanjat sebatang pohon yang tinggi.

Pada saat itu kucing baru teringat bahwa ia belum mengajarkan cara memanjat pohon kepada harimau. Sementara harimau yang merasa dikhianati, marah besar.

“Kucing!” teriak harimau dari bawah pohon. “Aku tahu kau bukan teman yang baik. Akan kubalas kau!”
Harimau menunggu kucing turun dari pohon, tapi kucing tetap bertahan . Akhirnya harimau merasa lelah dan lapar, ia pun pergi sambil mengancam,” Kau tidak bisa lari dariku. Ke manapun kau pergi, aku akan mencarimu.”


Setelah harimau pergi, kucing turun dari pohon dan lari ke perkampungan manusia.  Kepandaiannya menangkap tikus membuat  manusia suka padanya dan sering membarinya makanan. Kucing pun tinggal di perkampungan.

Namun, walaupun kucing tahu harimau tidak dapat mengejarnya ke perkampungan, ia selalu berhati-hati. Setiap membuang kotoran selalu ditimbunnya dengan tanah agar tidak dapat ditemukan oleh harimau.





Harimau dari Chao-Cheng

Selasa, 02 Oktober 2012

| | | 2 komentar

Di kota  Chao-cheng hidup seorang wanita tua. Wanita itu mempunyai seorang anak laki-laki. Pada suatu hari, pemuda itu mendaki bukit dan dimangsa harimau. Sang ibu sangat berduka sehingga tidak ingin hidup lebih lama lagi.

Sambil meratapi anaknya, ia pergi menghadap hakim. Hakim menertawakannya dan mengatakan bahwa ia tidak dapat membantu ibu karena tentu saja tidak ada hukum bagi harimau yang memangsa anaknya. Ibu itu terus memohon, sehingga hakim merasa iba dan berjanji akan memenjarakan sang harimau. 

Hakim memerintahkan anak buahnya untuk menangkap harimau. Salah seorang dari mereka, Li Neng yang saat itu sedang mabuk, menyanggupi perintah itu. Sang ibu pun pulang ke rumahnya.
Ketika Li Neng sadar dari mabuknya, ia menyesal telah menerima perintah untuk menangkap harimau itu. Ia menghadap hakim dan memohon agar perintah itu dicabut.

“Li Neng,” kata hakim, “kau telah menyatakan sanggup menangkap harimau itu. Sekarang kau harus melaksanakannya.”

Sebulan lamanya Li Neng mencari harimau itu namun belum juga menemukannya. Li Neng sudah putus asa. Ia takut pada hukuman yang akan diterimanya karena tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada suatu hari ia pergi ke sebuah kuil. Ia berlutut dan berdoa sambil menangis.
Tiba-tiba seekor harimau masuk ke dalam kuil. Li Neng ketakutan. Pasti harimau itu akan memangsanya. Namun harimau itu seolah tidak melihatnya, ia duduk di pintu kuil.

“Harimau,” kata Li Neng dengan gemetar, “jika engkau telah memangsa putera ibu tua itu, biarkan aku mengikatmu dengan tali ini.”

Li Neng melemparkan tali jerat kepada harimau dan harimau itu diam saja. Ia menurut ketika Li Neng menuntunnya menghadap hakim.

Hakim mengadili harimau itu.

“Apakah kau memangsa putera wanita tua itu.”

Harimau mengangguk mengiyakan.

“Menurut hukum, pembunuh dijatuhi hukuman mati. Lagi pula wanita tua itu hanya memiliki satu anak laki-laki. Sekarang tak ada lagi yang menghidupinya.”

“Namun, bila kau mau menggantikan anaknya itu, kejahatanmu akan diampuni.”

Harimau mengangguk.

Hakim memerintahkan untuk melepaskan harimau , yang segera pergi ke hutan. Ibu tua sangat marah dan kecewa karena pembunuh anaknya tidak dihukum malah dibebaskan.

Keesokan harinya, ketika ibu tua membuka pintu rumahnya, di depan pintu itu tergeletak seekor rusa. Ibu tua  menjual daging dan kulit rusa untuk membeli makanan.

Sejak saat itu harimau selalu membawakan hewan buruan untuk ibu tua. bahkan kadang-kadang ia membawa uang dan barang berharga sehingga ibu tua menjadi kaya. Kehidupannya lebih baik daripada seandainya puteranya sendiri yang merawatnya.

Wanita tua itu menjadi sangat sayang kepada harimau. Harimau sering tidur di teras rumahnya sepanjang hari.

Beberapa tahun kemudian ibu tua meninggal. Harimau meraung sedih.

Tabungan ibu tua itu cukup banyak untuk mengadakan ucapara pemakaman yang mewah. Sanak keluarganya menghadiri pemakaman. Mereka berdiri mengelilingi makam. Tiba-tiba seekor harimau muncul sehingga semua orang lari ketakutan. Ternyata harimau itu hanya ingin memberikan penghormatan terakhir. Ia naik ke atas gundukan tanah makam dan meraung keras, kemudian ia menghilang ke dalam hutan.

Orang-orang di sekitar tempat itu kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan untuk menghormati harimau yang setia itu.

Gambar: http://www.picturesof.net/_images_300/A_Tiger_Laying_Down_and_Resting_Royalty_Free_Clipart_Picture_091112-230730-879009.jpg