Burung Phoenix Berkepala Dua

Minggu, 13 Oktober 2013

| | | 0 komentar
Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak mau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.
Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.”  Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau  tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.

Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan  seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji.  Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.

Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan  setengah kerajaannya kepada penasihat.

Anak Melon

| | | 1 komentar


Dahulu, hidup sepasang suami isteri petani. Mereka sudah tua.. Walaupun saling mencintai, mereka sering merasa kesepian karena tidak pernah ada tawa riang dan celoteh anak-anak di rumah mereka.

Menjelang suatu musim dingin, walaupun sudah bekerja keras, hasil ladang mereka hanya menghasilkan sebuah melon. Pak tani membawa melon itu pulang. Isteri petani mengeluh karena panen mereka musim itu tidak berhasil baik.

Tiba-tiba, melon itu berbicara kepada mereka. “Kalau begitu, anggap saja aku anak kalian.”

“Tapi kau melon,” kata pasangan itu. “Bagaimana kau menjadi anak kami?”

“Kalian menanam dan merawatku dengan baik, maka aku anak kalian, bukan?”

Mereka menyebut melon itu Anak Melon. Anak Melon tumbuh dengan cepat menjadi seorang pemuda. Ia rajin dan kuat sekali. Ia dapat melakukan pekerjaan di ladang kecil itu sendiri, dari membajak, menanam, menyiram dan menyiangi ladang. Pak dan ibu tani tidak perlu lagi khawatir karena berkat Anak Melon mereka selalu punya persediaan makanan.

Tiga tahun berlalu, terjadi perang. Para ayah dan ibu meratapi putera-putera mereka yang dipaksa menjadi tentara dan ikut berperang. Banyak di antara pemuda-pemuda itu yang tidak pernah kembali ke rumah mereka.

Kaisar mengirim seorang petugas untuk mencari para pemuda ke rumah-rumah.  Pada suatu hari, petugas itu datang ke rumah pak tani. Ia ingin membawa Anak Melon.

“Aku mohon, tuan.” kata pak tani, “Jangan ambil anak kami. Ia bahkan bukan anak manusia. Ia berasal dari melon.”

“Aku tak peduli anakmu itu melon atau labu,” kata petugas itu. “Ia harus ikut dengan kami.”

Pak dan ibu tani terus memohon. Akhirnya, sambil tertawa-tawa, petugas itu berkata, ”Tak mau menyerahkan anakmu? Baiklah. Kuberi tahu kau, cara agar anakmu tidak perlu ikut berperang.”

"Bagaimana, tuan?" tanya bu tani penuh harap.

"Kumpulkan emas.”

“Emas.... Berapa. Tuan?”

“Tidak banyak” kata petugas itu. “Asal cukup untuk menutup jalan dari rumahmu sampai gerbang istana dengan emas.”

Pak tani hampir pingsan. Itu jumlah yang sangat banyak. “Aku belum pernah melihat uang emas, apalagi memilikinya.”

“Kalau begitu,” kata petugas sambil tersenyum, “Lebih baik anakmu ikut saja dengan kami.”

“Tunggu dulu!” Anak Melon muncul dari dalam rumah. “Aku bisa menyediakan emas itu,” katanya.

“Kau bisa?” kata petugas. “Aku akan bermurah hati. Kau punya waktu dua hari. Bila kau gagal. Kau harus ikut denganku dengan suka rela.”

“Baiklah,” jawab Anak Melon. “Dua hari lebih dari cukup untukku.”

"Bagus, nak,” kata petugas. “Asal aku bisa berjalan di atas emas dari pintu rumahmu sampai gerbang istana raja, kau dan orang tuamu kubebaskan.”

Petugas itu pergi sambil menyeret beberapa pemuda yang terikat rantai.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan emas sebanyak itu, nak?” tanya bu tani. ia mulai menangis.

“Percayalah padaku,” kata Anak Melon. “Aku akan mendapatkan emas itu. Kalian tidak usah khawatir.”

“Bagaimana caranya?” tanya bu tani. “Waktu kita tidak banyak.”

“Ayah, ibu,” kata Anak Melon, “Pergilah mencari seekor anjing betina yang hanya punya tiga kaki.”

“Dan satu ikan yang seluruh tubuhnya merah, serta satu ikan yang seluruh tubuhnya putih tanpa noda.”

“Di mana ada binatang seaneh itu?” kata orang tuanya.

“Kalian akan menemukan binatang itu.” Kata Anak Melon. “Carilah di tepi sungai dan di gunung.”

Sore harinya, pasangan petani itu membawa pulang seekor anjing betina berkaki tiga, satu ikan merah dan satu ikan putih.

Anak Melon memasak kedua ikan itu dan memberikannya kepada anjing berkaki tiga. Ia lalu pergi ke rumpun bambu, mencari sebatang bambu yang kecil tapi kuat.

“Ayah,” kata Anak Melon, “Besok pagi, bawalah anjing itu ke istana. Begitu keluar dari rumah kita, pukul anjing dengan tongkat bambu ini. Lakukan terus sampai ayah tiba di gerbang istana.”

Esoknya, pak tani keluar rumah membawa anjing berkaki tiga. Ia memukul anjing itu dengan tongkat bambu. Tiap kali dipukul, anjing itu buang kotoran, tapi yang dikeluarkannya adalah sebongkah kecil emas.

Demikianlah, orang tua itu berjalan ke istana sambil terus memukul anjing dengan tongkat bambu. Ketika tiba di gerbang istana, seluruh jalan yang dilaluinya tertutup emas.

Kaisar mendapat laporan tentang kejadian itu. Ia segera pergi melihatnya sendiri.

Pak tani menjelaskan kepada Kaisar bahwa ia datang untuk memenuhi  syarat dari petugas yang datang ke rumahnya, agar anakya tidak perlu pergi berperang.

“Baiklah,” kata Kaisar. “Aku menyatakan bahwa anakmu terbebas dari kewajiban pergi ke medan perang.”

Kemudian Kaisar memerintahkan para pengawal untuk segera mengumpulkan semua emas itu dan membawanya ke gudang harta.

Ribuan pengawal dikerahkan untuk mengumpulkan emas itu. Mereka memasukkan emas ke dalam karung-karung dan membawanya ke gudang Kaisar.


Pak tani pulang ke rumah dengan perasaan lega karena Anak Melon tidak perlu meninggalkan mereka. Mereka bertiga hidup bahagia dengan bertani seperti semula.

Beberapa tahun kemudian, timbul bau yang tidak sedap di sekitar istana. Bau itu makin lama makin kuat sehingga orang-orang di sekitar istana sulit bernafas, bahkan muntah-muntah atau jatuh sakit.

Kaisar memerintah para pengawal untuk mencari sumber bau itu.
Akhirnya mereka menemukan bahwa bau itu tersebar dari gudang harta Kaisar. Gudang dibuka. Di sana masih ada tumpukan karung yang diisi dengan emas dari pak tani, tapi... isinya bukan lagi emas, melainkan kotoran anjing yang sangat bau dan dikerumuni lalat!

Kaisar sangat marah. Ia memerintah untuk menangkap keluarga petani itu. Para pengawal mencari ke seluruh penjuru negeri, namun tidak menemukan Anak Melon dan orang tuanya.



Telur Ayam Jago

Sabtu, 12 Oktober 2013

| | | 0 komentar


Pada suatu hari, seorang tuan tanah memanggil pengawalnya dan berkata, “Aku mau makan beberapa butir telur ayam jago. Kuberi kau waktu 3 hari. Jika dalam 3 hari kau tidak membawa telur itu, kau akan kuhukum mati.”

Pengawal itu pulang ke rumahnya. Ia terus berpikir, “Mana ada telur ayam jago? Ayam jantan mana bisa bertelur?”

Setiba di rumah, ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Isterinya, melihat sang suami murung dan gelisah, menjadi kuatir.

“Ada apa?” katanya. “Kau punya masalah?”

“Tuan menyuruhku mencari telur ayam jago. Aku akan dihukum mati bila tidak dapat menemukannya dalam 3 hari.”

“Kau tenang saja,” kata isterinya. “Tiga hari lagi aku akan pergi  menemui  tuanmu.Aku bisa menyelesaikan masalah ini.”

Pada hari ketiga, isteri pengawal itu pergi ke rumah tuan tanah sedangkan suaminya tinggal di rumah.

“Mengapa kau datang ke sini?” tanya tuan tanah. “Mana suamimu?”

“Maaf tuan,” jawab wanita itu, “Suami saya tidak dapat datang ke sini hari ini.”


“Ia baru saja melahirkan.”

“Apa?” teriak tuan tanah. “Siapa yang pernah melihat laki-laki melahirkan?”

“Tuan,” jawab wanita itu dengan berani, “Siapa yang pernah melihat ayam jago bertelur?”

Tuan tanah tidak dapat mengatakan apa-apa.

Kaki Anjing

| | | 0 komentar

Dahulu kala, hidup seorang anak laki-laki yang luar bisa cerdas. Namanya Gui Guzi. Pada usia 3 tahun ia belajar ilmu pengobatan dan ia sudah bisa mengobati orang sakit pada usia 5 tahun.
Tak lama, orang-orang berdatangan dari mana-mana untuk minta diobati.

Tidak seperti anak-anak seusianyya, Gui Guzi  tidak pernah bermain. Ia menjadi tabib yang menolong banyak orang sakit. Ia mampu memeriksa penyakit, membuat resep obat bahkan melakukan operasi. 

Seorang pejabat kerajaan  sakit. Kaki kanannya penuh luka yang membusuk. Tidak ada yang dapat mengobatinya. Sudah banyak dokter dipanggil untuk mengobatinya, tapi tidak ada yang berhasil.

Kemudian pejabat itu mendengar tentang Gui Guzi. Ia menyuruhkepala pengawalnya untuk menjemput Gui Guzi.

Pengawal yang sombong dan kasar itu mencari Gui Guzi. Ketika itu anak itu sedang mengobati orang.

“Ayo ikut, nak,” kata pengawal. “Tuanku pejabat membutuhkan bantuanmu.”

“Bapak pejabat?” jawab Guzi. “Aku tidak mengobati orang seperti dia. Aku hanya menolong orang yang tidak mampu berobat ke dokter.”

“Lancang!” bentak pengawal  itu. “Bangun dan ikut aku. Itu perintah!”

“Tidak mau.”

Pengawal  memukul Guzi beberapa kali dan menyeret Guzi ke rumah pejabat.
Tak lama kemudian Gui Guzi berhadapan dengan pejabat.

“Terima kasih atas kedatanganmu,  nak,” kata pejabat. “Aku dengar kau bisa mengobati orang sakit. Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Karena aku sudah ada di sini,” kata Guzi, “aku akan membantumu.”

Pejabat menunjukkan kakinya yang sakit. “Tolong obati kakiku ini, aku kan memberimu banyak uang.”

“Aku bisa membantumu,” kata Guzi. “Tapi...”

“Tapi apa?”

“Aku harus memotong kakimu dan menggantinya dengan kaki orang lain, yang sehat.”

“Memotong kakiku? Bagaimana aku berjalan dengan satu kaki. Kau lupa aku ini pejabat? Kau pasti bercanda.”

Pejabat melihat bahwa anak itu serius. “Baiklah,” katanya. Ia memanggil pegawai yang menjemput Guzi. “Pergilah ke penjara dan bawa kemari seorang tahanan yang kaki kanannya sehat.”

“Tidak, tuan,” kata Guzi. “aku perlu memeriksa kaki yang akan menggantikan kakimu. Kalau tidak teliti, kaki itu mungkin lebih panjang atau lebih pendek dari kaki kirimu. Atau mungkin kakinya kasar, tidak seperti kakimu.”

“Aku perlu memilih kaki untukmu.”

Pejabat mempersilakan Guzi memeriksa kaki orang-orang di rumahnya. Akhirnya Guzi mengatakan bahwa ia sudah menemukan kaki yang cocok.

“Kaki siapa?” tanya pejabat. Guzi menunjuk pegawai yang kasar itu. “Kakinya yang paling cocok untukmu, tuan.”

Pengawal itu menjadi pucat ketakutan. “Jangan potong kakiku, tuan.” Tapi pejabat tidak menunjukkan belas kasihan.

“Kau mau menolak permintaanku? Aku pejabat kerajaan.” Ia menoleh kepada Gui Guzi, “Potong kakinya untukku.”
Guzi memotong kaki kanan pejabat yang sakit. Kemudian dengan bantuan beberapa orang yang kuat, ia memotong kaki  kanan kepala .pengawal. Guzi kemudian menyambungkan kaki pengawal ke tubuh pejabat. Tak lama kemudian pejabat sudah dapat berjalan-jalan dengan kaki barunya.

“Hebat!” kata pejabat, “Seperti kaki baru.”

Sementara itu, kepala pengawal hanya bisa merintih kesakitan dan dan merenungi nasibnya.
Gui Guzi merasa kasihan kepada pengawal. Ia memotong kaki belakang seekor anjing dan menyambungkannya pada tubuh kepala pengawal. Sekarang walaupun satu kakinya adalah kaki anjing, ia dapat berjalan.

Dari cerita ini, hingga saat ini banyak orang Cina menyebut pejabat yang korupsi, pegawai yang bekerja tidak benar dan orang yang suka menyiksa dan mengancam orang lain dengan sebutan “kaki anjing.”


Singa Besar dan Kelinci Kecil

| | | 0 komentar

Dahulu kala hidup seekor singa besar di hutan. Tiap hari ia berburu dan membunuh banyak hewan untuk dimakan. Hewan lain khawatir bahwa lama-lama tidak ada lagi hewan yang selamat. Mereka memutuskan untuk menemui sang singa.

Ketika singa melihat hewan-hewan mendatanginya, ia sangat gembira. Dikiranya tak perlu lagi susah payah berburu. Ia akan membunuh semua hewan itu sekaligus.

Para hewan itu memohon agar diperbolehkan bicara dulu. “Tuan singa,” kata salah satu hewan, “kau raja kami dan kami rakyatmu. Kalau kau membunuh kami semua, kau tidak punya rakyat lagi. Selain itu, bila tidak ada lagi hewan di hutan ini, tuanku harus berburu ke tempat yang jauh”

“Ijinkan kami mengirimkan persembahan kepadamu, tuan,” lanjutnya. “Tiap hari satu dari kami akan datang kepadamu.”

Singa setuju, dengan satu syarat. Bila pada suatu hari hewan-hewan itu tidak mengirimkan santapan untuknya, ia akan membunuh mereka semua.

Sejak saat itu, tiap hari seekor hewan datang ke sarang singa. Singa sangat senang.

Pada suatu hari, tibalah giliran seekor kelinci kecil untuk pergi kepada singa. Kelinci itu berpikir dan berpikir agar tidak menjadi santapan singa. Ia membuat rencana yang akan menyelamatkan dirinya dan  juga hewan-hewan lain di hutan itu.

Kelinci pergi ke sarang singa. Ia sengaja datang terlambat. Singa berjalan mondar mandir di sarangnya. Ia sudah lapar sekali dan santapannya belum datang. Ia tambah marah ketika melihat hanya seekor kelinci kecil yang datang.

“Tuanku jangan marah,” kata kelinci takut-takut. “Sebenarnya aku datang bersama saudara-saudaraku. Kami berenam.”
“Enam?” geram singa. “Ke mana lima kelinci itu? Mengapa hanya kau yang datang ke sini?”

“Ketika kami pergi ke mari,” kata kelinci. “kami diserang seekor singa yang besar dan kuat. Hanya aku yang dilepaskannya.”

“Mengapa kau dilepaskan?” tanya singa

“Singa itu menyuruhku menyampaikan pesan kepadamu, tuan,” kata kelinci. “Ia menantangmu untuk membuktikan siapa raja hutan yang sebenarnya.”

 “Apa?” geram singa. “Di mana singa itu? Tunjukkan kepadaku!”

Kelinci kecil itu membawa singa ke sebuah sumur.

"Singa itu ada di sana, tuanku.”

Singa melongok ke dalam sumur dan melihat bayangannya di air sumur. Ia mengira bayangannya  adalah singa yang menantangnya. Ia menggeram. Suara geramannya terpantul di dinding sumur sehingga terdengar lebih keras dan menyeramkan. Singa segera melompat ke dalam sumur. Kepalanya terbentur keras pada batu besar dan ia tenggelam.


Kelinci segera pergi menemui hewan-hewan lain untuk mengabarkan bahwa singa yang kejam itu sudah mati.

Gambar adalah prangko yang diterbitkan negara India berdasarkan cerita ini

Manusia Kue Jahe

| | | 0 komentar



Dahulu kala ada sepasang kakek dan nenek yang tinggal di rumah kecil di tepi hutan. Mereka kesepian karena hanya berdua saja.  Nenek suka menjahit, merajut  dan membuat kue untuk mengisi hari-harinya.

Pada suatu hari, nenek membuat kue jahe. Ia mencampur mentega, telur, tepung, bubuk jahe, bubuk kayu manis dan gula.

Ketika adonan sudah jadi, nenek membentuk kuenya seperti orang. Nenek memberi hiasan dari gula untuk membuat rambut, mulut dan pakaiannya. Bahkan nenek membuatkan mata dan kancing dari kepingan cokelat. Kue jahe itu tampak bagus sekali.


Nenek memasukkan kue ke dalam oven. Ketika kue sudah matang, nenek membuka pintu oven.
Alangkah terkejutnya nenek, kue jahe melompat dan lari keluar dari pintu sambil menyanyi,

“Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku!
Aku manusia kue jahe!

Kakek dan nenek mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe terus lari dan lari. Ia bertemu dengan seekor sapi.



“Mooo...!”  kata sapi, “Kelihatannya kau lezat sekali!” Sapi pun ikut mengejar kue jahe. Kue jahe lari lebih cepat sambil bernyanyi,

“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku bisa lari darimu
Aku bisaaa!”
 

Kue jahe lari terus, dan ia bertemu dengan seekor kuda.
"Iiiiee...!,"kata kue, “Kau kelihatan enak sekali. Aku mau memakanmu,” kata kuda.

"Tapi kamu tidak bisa!" kata kue jahe.


“Nenek tak bisa menangkapku

Kakek tak bisa menangkapku
Sapi tak bisa menangkapku
Kau pikir bisa menangkapku?”

Kue jahe lari sambil menyanyi,

"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Kuda lari mengejar kue jahe, tapi tak bisa menangkapnya.


Kue jahe lari dan lari, tertawa dan bernyanyi. Ia bertemu dengan seekor ayam.

"Tok, tok, petok," kata ayam, "Kau kelihatannya cocok untuk makan malamku. Aku akan memakanmu, kue jahe.”

Tapi kue jahe hanya tertawa.



“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku lari dari sapi
Aku lari dari kuda
Aku juga bisa lari darimu
Tentu aku bisaa...!”


Dan kue jahe lari sambil bernyanyi,


"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Ayam mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe bangga sekali karena dapat berlari cepat. “Tak ada yang dapat menangkapku.” Jadi ia terus berlari dan bertemu seekor rubah.

Kue jahe merasa rubah harus tahu bahwa ia lari lebih cepat dari yang lain.

“Tuan rubah,” kata kue jahe. “Walaupun aku kelihatan lezat, aku tak akan membiarkan kau menangkap dan memakanku.”

“Aku lari lebih cepat dari nenek
Aku lari lebih cepat dari kakek
Aku lari lebih cepat dari sapi
Aku lari lebih cepat dari kuda
Aku lari lebih cepat dari ayam
Kau pun takkan bisa menangkapku”

Tapi rubah tidak kelihatan tertarik. “Mengapa aku harus menangkapmu?” kata rubah. “Aku tidak suka kue jahe. Aku tidak ingin memakanmu.”

“Tapi kau tak bisa lagi lari dari orang-orang yang mengejarmu,” kata rubah. “Lihat sungai itu menghalangimu.”

Kue jahe berpikir, kalau ia menyeberangi sungai, tubuhnya akan basah dan lama-lama hancur. Tapi ia harus segera pergi agar tidak tertangkap oleh nenek, kakek, sapi, kuda dan ayam yang mengejarnya.


“Ayo kubantu kau menyeberang. Naiklah ke ekorku, supaya kakimu tidak basah.”

Kue jahe naik ke ekor rubah. Rubah membawanya menyeberangi sungai. Tak lama kemudian, ekor rubah mulai tenggelam. 

“Naiklah ke punggungku,” kata rubah Kue jahe naik ke punggung rubah.

Tapi sebentar kemudian, punggung rubah pun mulai basah. “Kepalaku lebih tinggi,” kata rubah. Kue jahe melompat ke kepala rubah.

 
Tapi tak lama kemudian, air sudah mengenai kakii kue jahe. “Naiklah ke hidungku. Kau aman di sini.”



Kue jahe melompat ke hidung rubah, tapi... “Hap!” Rubah menggigit kue jahe dan memakannya sampai habis.

“Kue jahe memang lezat sekali,” kata
 rubah dalam hati. “Siapa yang tidak suka kue jahe?”

Cerita yang menarik, bukan?
Yuk sekarang jawab pertanyaan ini:
  1. Siapa yang membuat kue jahe?
  2. Apakah orang yang membuat kue jahe memakan kue itu? Mengapa?
  3. Siapa saja yang mengejar kue jahe?
  4. Siapa yang makan kue jahe?
Gambar diadaptasi dari http://rtagreenfylde.primaryblogger.co.uk/files/2013/03/Gingerbread-man-storymap_1.jpeg