Telur Ayam Jago

Sabtu, 12 Oktober 2013

| | | 0 komentar


Pada suatu hari, seorang tuan tanah memanggil pengawalnya dan berkata, “Aku mau makan beberapa butir telur ayam jago. Kuberi kau waktu 3 hari. Jika dalam 3 hari kau tidak membawa telur itu, kau akan kuhukum mati.”

Pengawal itu pulang ke rumahnya. Ia terus berpikir, “Mana ada telur ayam jago? Ayam jantan mana bisa bertelur?”

Setiba di rumah, ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Isterinya, melihat sang suami murung dan gelisah, menjadi kuatir.

“Ada apa?” katanya. “Kau punya masalah?”

“Tuan menyuruhku mencari telur ayam jago. Aku akan dihukum mati bila tidak dapat menemukannya dalam 3 hari.”

“Kau tenang saja,” kata isterinya. “Tiga hari lagi aku akan pergi  menemui  tuanmu.Aku bisa menyelesaikan masalah ini.”

Pada hari ketiga, isteri pengawal itu pergi ke rumah tuan tanah sedangkan suaminya tinggal di rumah.

“Mengapa kau datang ke sini?” tanya tuan tanah. “Mana suamimu?”

“Maaf tuan,” jawab wanita itu, “Suami saya tidak dapat datang ke sini hari ini.”


“Ia baru saja melahirkan.”

“Apa?” teriak tuan tanah. “Siapa yang pernah melihat laki-laki melahirkan?”

“Tuan,” jawab wanita itu dengan berani, “Siapa yang pernah melihat ayam jago bertelur?”

Tuan tanah tidak dapat mengatakan apa-apa.

Kaki Anjing

| | | 0 komentar

Dahulu kala, hidup seorang anak laki-laki yang luar bisa cerdas. Namanya Gui Guzi. Pada usia 3 tahun ia belajar ilmu pengobatan dan ia sudah bisa mengobati orang sakit pada usia 5 tahun.
Tak lama, orang-orang berdatangan dari mana-mana untuk minta diobati.

Tidak seperti anak-anak seusianyya, Gui Guzi  tidak pernah bermain. Ia menjadi tabib yang menolong banyak orang sakit. Ia mampu memeriksa penyakit, membuat resep obat bahkan melakukan operasi. 

Seorang pejabat kerajaan  sakit. Kaki kanannya penuh luka yang membusuk. Tidak ada yang dapat mengobatinya. Sudah banyak dokter dipanggil untuk mengobatinya, tapi tidak ada yang berhasil.

Kemudian pejabat itu mendengar tentang Gui Guzi. Ia menyuruhkepala pengawalnya untuk menjemput Gui Guzi.

Pengawal yang sombong dan kasar itu mencari Gui Guzi. Ketika itu anak itu sedang mengobati orang.

“Ayo ikut, nak,” kata pengawal. “Tuanku pejabat membutuhkan bantuanmu.”

“Bapak pejabat?” jawab Guzi. “Aku tidak mengobati orang seperti dia. Aku hanya menolong orang yang tidak mampu berobat ke dokter.”

“Lancang!” bentak pengawal  itu. “Bangun dan ikut aku. Itu perintah!”

“Tidak mau.”

Pengawal  memukul Guzi beberapa kali dan menyeret Guzi ke rumah pejabat.
Tak lama kemudian Gui Guzi berhadapan dengan pejabat.

“Terima kasih atas kedatanganmu,  nak,” kata pejabat. “Aku dengar kau bisa mengobati orang sakit. Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Karena aku sudah ada di sini,” kata Guzi, “aku akan membantumu.”

Pejabat menunjukkan kakinya yang sakit. “Tolong obati kakiku ini, aku kan memberimu banyak uang.”

“Aku bisa membantumu,” kata Guzi. “Tapi...”

“Tapi apa?”

“Aku harus memotong kakimu dan menggantinya dengan kaki orang lain, yang sehat.”

“Memotong kakiku? Bagaimana aku berjalan dengan satu kaki. Kau lupa aku ini pejabat? Kau pasti bercanda.”

Pejabat melihat bahwa anak itu serius. “Baiklah,” katanya. Ia memanggil pegawai yang menjemput Guzi. “Pergilah ke penjara dan bawa kemari seorang tahanan yang kaki kanannya sehat.”

“Tidak, tuan,” kata Guzi. “aku perlu memeriksa kaki yang akan menggantikan kakimu. Kalau tidak teliti, kaki itu mungkin lebih panjang atau lebih pendek dari kaki kirimu. Atau mungkin kakinya kasar, tidak seperti kakimu.”

“Aku perlu memilih kaki untukmu.”

Pejabat mempersilakan Guzi memeriksa kaki orang-orang di rumahnya. Akhirnya Guzi mengatakan bahwa ia sudah menemukan kaki yang cocok.

“Kaki siapa?” tanya pejabat. Guzi menunjuk pegawai yang kasar itu. “Kakinya yang paling cocok untukmu, tuan.”

Pengawal itu menjadi pucat ketakutan. “Jangan potong kakiku, tuan.” Tapi pejabat tidak menunjukkan belas kasihan.

“Kau mau menolak permintaanku? Aku pejabat kerajaan.” Ia menoleh kepada Gui Guzi, “Potong kakinya untukku.”
Guzi memotong kaki kanan pejabat yang sakit. Kemudian dengan bantuan beberapa orang yang kuat, ia memotong kaki  kanan kepala .pengawal. Guzi kemudian menyambungkan kaki pengawal ke tubuh pejabat. Tak lama kemudian pejabat sudah dapat berjalan-jalan dengan kaki barunya.

“Hebat!” kata pejabat, “Seperti kaki baru.”

Sementara itu, kepala pengawal hanya bisa merintih kesakitan dan dan merenungi nasibnya.
Gui Guzi merasa kasihan kepada pengawal. Ia memotong kaki belakang seekor anjing dan menyambungkannya pada tubuh kepala pengawal. Sekarang walaupun satu kakinya adalah kaki anjing, ia dapat berjalan.

Dari cerita ini, hingga saat ini banyak orang Cina menyebut pejabat yang korupsi, pegawai yang bekerja tidak benar dan orang yang suka menyiksa dan mengancam orang lain dengan sebutan “kaki anjing.”


Singa Besar dan Kelinci Kecil

| | | 0 komentar

Dahulu kala hidup seekor singa besar di hutan. Tiap hari ia berburu dan membunuh banyak hewan untuk dimakan. Hewan lain khawatir bahwa lama-lama tidak ada lagi hewan yang selamat. Mereka memutuskan untuk menemui sang singa.

Ketika singa melihat hewan-hewan mendatanginya, ia sangat gembira. Dikiranya tak perlu lagi susah payah berburu. Ia akan membunuh semua hewan itu sekaligus.

Para hewan itu memohon agar diperbolehkan bicara dulu. “Tuan singa,” kata salah satu hewan, “kau raja kami dan kami rakyatmu. Kalau kau membunuh kami semua, kau tidak punya rakyat lagi. Selain itu, bila tidak ada lagi hewan di hutan ini, tuanku harus berburu ke tempat yang jauh”

“Ijinkan kami mengirimkan persembahan kepadamu, tuan,” lanjutnya. “Tiap hari satu dari kami akan datang kepadamu.”

Singa setuju, dengan satu syarat. Bila pada suatu hari hewan-hewan itu tidak mengirimkan santapan untuknya, ia akan membunuh mereka semua.

Sejak saat itu, tiap hari seekor hewan datang ke sarang singa. Singa sangat senang.

Pada suatu hari, tibalah giliran seekor kelinci kecil untuk pergi kepada singa. Kelinci itu berpikir dan berpikir agar tidak menjadi santapan singa. Ia membuat rencana yang akan menyelamatkan dirinya dan  juga hewan-hewan lain di hutan itu.

Kelinci pergi ke sarang singa. Ia sengaja datang terlambat. Singa berjalan mondar mandir di sarangnya. Ia sudah lapar sekali dan santapannya belum datang. Ia tambah marah ketika melihat hanya seekor kelinci kecil yang datang.

“Tuanku jangan marah,” kata kelinci takut-takut. “Sebenarnya aku datang bersama saudara-saudaraku. Kami berenam.”
“Enam?” geram singa. “Ke mana lima kelinci itu? Mengapa hanya kau yang datang ke sini?”

“Ketika kami pergi ke mari,” kata kelinci. “kami diserang seekor singa yang besar dan kuat. Hanya aku yang dilepaskannya.”

“Mengapa kau dilepaskan?” tanya singa

“Singa itu menyuruhku menyampaikan pesan kepadamu, tuan,” kata kelinci. “Ia menantangmu untuk membuktikan siapa raja hutan yang sebenarnya.”

 “Apa?” geram singa. “Di mana singa itu? Tunjukkan kepadaku!”

Kelinci kecil itu membawa singa ke sebuah sumur.

"Singa itu ada di sana, tuanku.”

Singa melongok ke dalam sumur dan melihat bayangannya di air sumur. Ia mengira bayangannya  adalah singa yang menantangnya. Ia menggeram. Suara geramannya terpantul di dinding sumur sehingga terdengar lebih keras dan menyeramkan. Singa segera melompat ke dalam sumur. Kepalanya terbentur keras pada batu besar dan ia tenggelam.


Kelinci segera pergi menemui hewan-hewan lain untuk mengabarkan bahwa singa yang kejam itu sudah mati.

Gambar adalah prangko yang diterbitkan negara India berdasarkan cerita ini

Manusia Kue Jahe

| | | 0 komentar



Dahulu kala ada sepasang kakek dan nenek yang tinggal di rumah kecil di tepi hutan. Mereka kesepian karena hanya berdua saja.  Nenek suka menjahit, merajut  dan membuat kue untuk mengisi hari-harinya.

Pada suatu hari, nenek membuat kue jahe. Ia mencampur mentega, telur, tepung, bubuk jahe, bubuk kayu manis dan gula.

Ketika adonan sudah jadi, nenek membentuk kuenya seperti orang. Nenek memberi hiasan dari gula untuk membuat rambut, mulut dan pakaiannya. Bahkan nenek membuatkan mata dan kancing dari kepingan cokelat. Kue jahe itu tampak bagus sekali.


Nenek memasukkan kue ke dalam oven. Ketika kue sudah matang, nenek membuka pintu oven.
Alangkah terkejutnya nenek, kue jahe melompat dan lari keluar dari pintu sambil menyanyi,

“Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku!
Aku manusia kue jahe!

Kakek dan nenek mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe terus lari dan lari. Ia bertemu dengan seekor sapi.



“Mooo...!”  kata sapi, “Kelihatannya kau lezat sekali!” Sapi pun ikut mengejar kue jahe. Kue jahe lari lebih cepat sambil bernyanyi,

“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku bisa lari darimu
Aku bisaaa!”
 

Kue jahe lari terus, dan ia bertemu dengan seekor kuda.
"Iiiiee...!,"kata kue, “Kau kelihatan enak sekali. Aku mau memakanmu,” kata kuda.

"Tapi kamu tidak bisa!" kata kue jahe.


“Nenek tak bisa menangkapku

Kakek tak bisa menangkapku
Sapi tak bisa menangkapku
Kau pikir bisa menangkapku?”

Kue jahe lari sambil menyanyi,

"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Kuda lari mengejar kue jahe, tapi tak bisa menangkapnya.


Kue jahe lari dan lari, tertawa dan bernyanyi. Ia bertemu dengan seekor ayam.

"Tok, tok, petok," kata ayam, "Kau kelihatannya cocok untuk makan malamku. Aku akan memakanmu, kue jahe.”

Tapi kue jahe hanya tertawa.



“Aku lari dari nenek
Aku lari dari kakek
Aku lari dari sapi
Aku lari dari kuda
Aku juga bisa lari darimu
Tentu aku bisaa...!”


Dan kue jahe lari sambil bernyanyi,


"Lari, lari secepat kau bisa!
Kau tak bisa menangkapku
Aku manusia kue jahe!”

Ayam mengejar kue jahe, tapi tak dapat menangkapnya.

Kue jahe bangga sekali karena dapat berlari cepat. “Tak ada yang dapat menangkapku.” Jadi ia terus berlari dan bertemu seekor rubah.

Kue jahe merasa rubah harus tahu bahwa ia lari lebih cepat dari yang lain.

“Tuan rubah,” kata kue jahe. “Walaupun aku kelihatan lezat, aku tak akan membiarkan kau menangkap dan memakanku.”

“Aku lari lebih cepat dari nenek
Aku lari lebih cepat dari kakek
Aku lari lebih cepat dari sapi
Aku lari lebih cepat dari kuda
Aku lari lebih cepat dari ayam
Kau pun takkan bisa menangkapku”

Tapi rubah tidak kelihatan tertarik. “Mengapa aku harus menangkapmu?” kata rubah. “Aku tidak suka kue jahe. Aku tidak ingin memakanmu.”

“Tapi kau tak bisa lagi lari dari orang-orang yang mengejarmu,” kata rubah. “Lihat sungai itu menghalangimu.”

Kue jahe berpikir, kalau ia menyeberangi sungai, tubuhnya akan basah dan lama-lama hancur. Tapi ia harus segera pergi agar tidak tertangkap oleh nenek, kakek, sapi, kuda dan ayam yang mengejarnya.


“Ayo kubantu kau menyeberang. Naiklah ke ekorku, supaya kakimu tidak basah.”

Kue jahe naik ke ekor rubah. Rubah membawanya menyeberangi sungai. Tak lama kemudian, ekor rubah mulai tenggelam. 

“Naiklah ke punggungku,” kata rubah Kue jahe naik ke punggung rubah.

Tapi sebentar kemudian, punggung rubah pun mulai basah. “Kepalaku lebih tinggi,” kata rubah. Kue jahe melompat ke kepala rubah.

 
Tapi tak lama kemudian, air sudah mengenai kakii kue jahe. “Naiklah ke hidungku. Kau aman di sini.”



Kue jahe melompat ke hidung rubah, tapi... “Hap!” Rubah menggigit kue jahe dan memakannya sampai habis.

“Kue jahe memang lezat sekali,” kata
 rubah dalam hati. “Siapa yang tidak suka kue jahe?”

Cerita yang menarik, bukan?
Yuk sekarang jawab pertanyaan ini:
  1. Siapa yang membuat kue jahe?
  2. Apakah orang yang membuat kue jahe memakan kue itu? Mengapa?
  3. Siapa saja yang mengejar kue jahe?
  4. Siapa yang makan kue jahe?
Gambar diadaptasi dari http://rtagreenfylde.primaryblogger.co.uk/files/2013/03/Gingerbread-man-storymap_1.jpeg

Tak Ternilai dan Tak Bernilai (Kisah Nasreddin Hoja)

Sabtu, 30 Maret 2013

| | | 0 komentar




Pada suatu hari teman-teman Hoja bertanya, “Anda sangat bijaksana, Tuan Hoja. Menurut anda, benda apa yang paling tidak ternilai di dunia ini?”

“Menurutku, benda yang tidak ternilai adalah nasihat."

Teman-teman Hoja memikirkan jawaban itu, kemudian bertanya lagi, “Kalau begitu, menurut anda benda apa yang paling tidak bernilai?”

“Aku harus mengatakan bahwa nasihat adalah benda yang tidak bernilai di dunia ini, “sahut Hoja.

“Ayolah, Tuan Hoja,“ protes mereka, “Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu tak ternilai juga tak bernilai?”

“Nasihat yang didengarkan dan dilaksanakan akan menjadi sesuatu yang tak ternilai. Namun anda tahu betapa tidak bernilainya nasihat yang diabaikan.”

Legenda Banyuwangi

| | | 1 komentar


Dahulu kala, di ujung timur pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan besar. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang bijaksana. Raja memiliki seorang putera bernama Raden Banterang.

Raden Banterang adalah seorang pemuda yang gagah berani.  Sayangnya, pangeran muda itu sering bertindak gegabah. Ia  sering bertindak tanpa  memikirkan lebih dahulu akibat perbuatannya.

Pada suatu hari,  Raden Banterang pergi ke hutan untuk berburu. Ia mengejar seekor rusa jauh ke tengah hutan.  Tiba-tiba ia bertemu dengan seorang gadis. Raden Banterang keheranan, mengapa  gadis cantik itu berjalan sendirian di tengah hutan?

“Siapa kamu? Mengapa kamu ada di hutan ini?”

“Namaku Surati. Ayahku raja kerajaan Klungkung. Ayahanda terbunuh dalam peperangan. Musuh mengejarku, untung aku berhasil lari dan bersembunyi di hutan ini,” kata gadis itu.

Raut muka Surati menjadi sedih dan air matanya mengalir. “Entah bagaimana nasib ibu dan kakakku. Kami terpisah.”

Raden Banterang iba mendengar cerita Surati. Ia kemudian mengajak gadis itu pulang ke istana. Beberapa hari kemudian mereka menikah.

Pada suatu hari, seperti biasa Raden Banterang pergi berburu.  Isterinya mengantarkannya  ke gerbang istana.

Di tepi hutan, Raden Banterang  bertemu dengan pengemis berpakaian robek-robek. Raden Banterang  memberikan sedekah  kepada pengemis itu.

“Tuanku,” kata pengemis, “Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kepadamu.” Tambahan uang untuk ibu RT, mahasiswa. Modal kecil

“Rahasia?” sahut Raden Banterang, “Coba ceritakan kepadaku.”

“Tuan,” kata pengemis, “Berhati-hatilah pada isteri tuan. Ia minta bantuan seorang laki-laki untuk membunuh tuanku.”

Raden Banterang tertawa geli. “Wah, pengemis ini pasti kurang waras pikirannya. Bagaimana mungkin Surati yang begitu lemah lembut tega melakukan itu? Lagi pula pengemis ini kan tidak kenal aku dan isteriku?”

Pengemis itu berkata, “ Tuan akan  percaya kepadaku bila melhat bukti  kejahatannya. Isteri  tuankui menyimpan barang  milik laki-laki itu di bawah bantalnya.” Kemudian ia pergi.

Dibayar hanya untuk klik iklan. Mau? Klik di sini

Raden Banterang pulang ke istana. Ia merasa gelisah. Ia tidak percaya kepada si pengemis, namun kata-kata pengemia itu terus mengganggu pikirannya. Ia kemuudian menuju tempat tidurnya dan mengangkat bantal isterinya. Betapa terperanjatnya ketika ia menemukan sebuah ikat kepala laki-laki di bawah bantal itu.

Raden Banterang sangat marah. Beraninya Surati yang dulu hidup sebatang kara di hutan, yang ditolong dan kemudian dinikahinya  sekarang berbuat keji kepadanya. “Sebelum ia mencelakaiku, lebih baik aku berjaga-jaga.”

Diajaknya isterinya berjalan-jalan di tepi sungai. Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan  pengemis di hutan.

“Kanda,” kata Surati, “Jangan percaya cerita pengemis  itu, saya tidak pernah memiliki niat jahat kepada kanda.”

“Ini apa?” kata Raden Bentareng sambil menunjukkan ikat kepala yang ditemukannya.

Surati kemudian menuturkan bahwa setelah suaminya berangkat berburu, ia bertemu dengan seorang pengemis berpakaian robek-robek di gerbang istana.  Ternyata pengemis itu adalah kakak kandungnya, Rupaksa. Surati sangat gembira karena selama ini ia mengira kakaknya itu sudah meninggal.

Tak disangkanya Rupaksa  menyimpan dendam kepada keluarga suaminya. Rupaksa menyuruhnya membunuh suaminya sendiri untuk membalas dendam. Surati tidak mau. Kakaknya sangat marah. Walaupun Surati mengatakan bahwa keluarga suaminya tidak pernah terlibat perang dengan kerajaan Klungkung, kakaknya tetap ingin membunuh Raden Banterang. Akhirnya Rupaksa memberikan ikat kepalanya kepada Surati dan menyuruhnya meletakkannya di bawah bantal.

“Aku tak percaya kepadamu,” kata Raden Banterang kepada isterinya. “Rencanamu kali ini gagal, Klik di sininamun suatu saat nanti pasti kau mencobanya lagi.”

Raden Banterang menghunus kerisnya dan berjalan mendekati isterinya.

“Kanda,” kata Surati, “Aku tidak berdusta. Aku akan membuktikannya. Bila aku bersalan,  air sungai ini akan menjadi keruh dan berbau busuk. Namun sebaliknya bila aku tidak bersalah, air akan  jernih dan berbau wangi”

Ia kemudian melompat ke dalam sungai sebelum suaminya sempat mencegah.  Raden Banterang merasa sedih karena isterinya tenggelam sekaligus lega karena ia tak perlu membunuh isterinya sendiri.

Raden Banterang beranjak pulang. Tiba-tiba bertiup angin bertiup dari arah sungai membawa bau harum semerbak. Air sungai berubah menjadi jernih bekilauan. Raden Banterang sangat menyesal. Tahulah ia bahwa isterinya tidak bersalah.  Namun semuanya telah terlambat. Sejak itu tempat itu dikenal sebagai Banyuwangi  yang artinya air yang harum. 

Lalu Di Mana Dagingnya? (Kisah Nasrudin Hoja)

| | | 0 komentar



Nasrudin Hoja beberapa kali membawa pulang daging ke rumah . Namun tak sekalipun ia mendapat kesempatan memakannya. Isterinya memakan daging itu atau memberikannya kepada teman-temannya.

Tiap kali Hoja bertanya, isterrinya selalu menjawab, "Dagingnya dicuri kucing. Aku kejar dia, tapi tak berhasil menangkapnya."

Pada suatu hari Hoja kembali membawa pulang daging. Tidak tanggung-tangung, beratnya dua kilogram! Sore harinya Hoja bertanya kepada isterinya dan kembali mendengar jawaban bahwa kucing mereka makan semua daging itu.

Hoja menangkap kucing dan mengambil timbangan. Kucing itu ditimbangnya, beratnya dua kilogram. 
"Kalau ini dagingnya, mana kucingnya? Kalau ini kucingnya, lalu di mana dagingnya?"

Gambar diadaptasi dari http://u.cs.biu.ac.il/~schiff/Net/t13.jpg