Anak Gembala Pembohong

Sabtu, 09 Mei 2015

| | | 0 komentar

Ada seorang anak laki-laki penggembala domba. Ia gembala yang baik Banyak domba yang dirawatnya. Semua sehat dan gemuk.

Pada suatu hari, ia menggembala di dekat sawah. Para petani sedang menanen padi. Mereka sibuk bekerja dan tidak sempat berbicara dengan gembala itu.

Timbul pikiran nakal pada gembala itu,

Tiba-tiba, "Serigala! Ada serigala!" Gembala berteriak ketakutan. "Tolong! Dombaku dimakan serigala!"

Para petani cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya, Mereka ingin menolong mengusir serigala.

"Di mana serigalanya?" tanya seorang petani.


Gembala tersenyum-senyum. "Aku hanya bercanda saja, aku lihat kalian kerja keras sampai tidak bisa tersenyum."

Petani hanya tersenyum masam mendengar jawaban gembala. Mereka kembali bekerja walaupun agak kesal.

Beberapa hari kemudian, para petani itu masih sibuk memanen padi. Sang gembala menunggui dombanya di padang rumput tak jauh dari sawah yang sedang dipanen itu.

Para petani kembali dikejutkan teriakan gembala, "Serigala! Tolong! Tolong!"
Seperti sebelumnya, mereka segera lari mendekat. Tapi, apa yang mereka lihat, domba-domba sedang merumput dengan tenang. Gembala pun sedang tertawa-tawa.

Sekarang petani marah. "Dasar gembala kurang kerjaan!" kata seorang dari mereka. Mereka pun pergi sambil menggerutu.

Beberapa waktu berlalu, sekarang para petani sedang sibuk menanami sawah dengan tanaman padi yang baru. Tiba-tiba terdengar jeritan, "Tolong! Tolong, Dombaku dibawa lari! Serigala!"

Para petani berbicara satu sama lain, "Gembala itu berulah lagi."

"Bagaimana kalau benar ada serigala?"

"Dulu dia bohong kepada kita, biarkan saja."

"Benar, kalau dombanya benar-benar diserang serigala, biar ditanggungnya sendiri."

Tak lama kemudian, para petani berjalan pulang. Mereka melalui padang rumput. Di sana sang gembala sedang menangis. Sekelompok serigala datang menyerang, melarikan beberapa domba. Tapi tak seorang pun datang menolongnya.

Ya, sekali kamu berbohong, temanmu tidak akan mempercayaimu lagi, walaupun kamu mengatakan hal yang sebenarnya. Jangan berbohong ya.

Anak Itik Buruk Rupa

| | | 0 komentar

Dahulu kala, di sebuah peternakan hidup seekor induk itik. Ia sedang mengerami telurnya. Sudah tiba waktunya telur-telur itu menetas. Satu persatu enam ekor anak itik keluar dari telur. Induk itik menghitung, ada enam ekor anak itik. Tapi masih ada satu telur belum menetas. Telur itu lebih besar dari telur yang lain.

Induk itik mulai tidak sabar. Ia ingin membawa anak-anaknya mencari makanan, tapi ia harus menunggu telur terakhir itu menetas. Induk itik sudah ingin meninggalkan telur itu, tapi telur itu mulai pecah dan muncullah seekor anak itik.

Enam anaknya berbulu kuning, anak itik ini bulunya berwarna kelabu. Tubuhnya juga lebih  besar, lehernya lebih panjang. Anak itik yang aneh sekali.

Meskipun heran melihat anak itik yang baru menetas itu, induk itik tetap sayang kepadanya. Ia membawa semua anaknya ke luar kandang untuk mencari makanan.
“Hai, ibu itik,” sapa seekor ayam. “Anak-anak sudah menetas?”
“Tapi mengapa yang satu itu jelek sekali?”
“Selamat pagi, bu ayam.” kata induk itik sambil berjalan terus bersama tujuh anaknya.

Beberapa merpati sedang makan. Ketika keluarga itik lewat, mereka menyapa dengan ramah. Mereka juga bertanya mengapa anak itik itu berbeda dengan saudara-saudaranya. Induk itik balas menyapa, tapi tidak mengatakan apa-apa tentang anaknya.

Anak itik kelabu itu makan lebih banyak dari saudaranya dan tubuhnya cepat sekali bertambah besar. Makin ia besar, makin ia tampak berbeda dengan anak itik yang lain.

Tiap kali mereka berjalan-jalan di peternakan, hewan-hewan lain mengejek mereka. Induk itik hanya berjalan cepat-cepat sambil menunduk. Anak-anak itik lain merasa kesal karena ikut diolok-olok hewan lain. Mereka tidak mau bermain dengannya bahkan tidak mau dekat dengannya.

Induk itik menyayanginya seperti saudara-saudaranya, tapi anak itik  tahu ibunya sedih karena ia jelek sekali. Ia sering menangis sedih ketika ibu dan saudaranya sudah tidur.

Pada suatu hari anak itik pergi meninggalkan peternakan. Ia berjalan sampai ke sebuah kolam. Di sana banyak burung sedang minum dan mandi.

 “Apakah bapak atau ibu pernah melihat anak itik berbulu kelabu seperti aku?” tanya anak itik.
“Aku tidak pernah melihat anak itik yang bulunya kelabu seperti kamu,” kata seekor bangau.
“Setahuku, anak itik bulunya kuning,” kata burung kecil berbulu cokelat. "Mungkin kamu bukan anak itik."

Anak itik berjalan lagi. Tiap bertemu hewan lain, ia selalu bertanya apakah mereka pernah bertemu anak itik berbulu kelabu seperti dia. Tak satu pun pernah bertemu dengan anak itik yang mirip dengannya.

Anak itik menyesal sudah kabur dari peternakan, tapi ia juga tidak tahu jalan pulang. Ia berjalan saja terus, mencari makan seadanya dan tidur di dekat semak-semak.

Pada suatu pagi, anak itik masih tidur. Seorang nenek menangkapnya dan membawanya pulang. Nenek itu memasukkannya ke kandang ayam dan memberinya makanan.

“Kau sudah kenyang,” kata nenek. “Sekarang bertelurlah.” Tiap hari nenek itu mengambil telur ayam di kandang. Ia juga memeriksa apakah anak itik bertelur.

Suatu hari, nenek itu melihat anak itik belum bertelur juga. “Tak apa-apa kalau kamu tidak bisa bertelur,” katanya. “Ayo makan lebih banyak supaya kamu gemuk.”
Anak itik bertanya kepada ayam-ayam betina tetangganya di kandang. “Mengapa aku tidak bisa bertelur?”
“Kamu itik jantan,” jawab seekor ayam cokelat sambil tertawa, “Mana bisa kamu bertelur?”
“Nenek mau membuatmu gemuk, kamu akan dipotong dan dimasak menjadi gulai,” kata seekor ayam putih.

Anak itik ketakutan. Sejak itu ia tidak mau makan. Tubuhnya menjadi kurus dan lemah. Pada suatu hari, setelah mengambil telur, nenek lupa menutup pintu kandang. Anak itik segera lari ke luar kandang dan pergi lauh-jauh.

Anak itik sampai di sebuah kolam besar. Udara sangat dingin, saat itu musim gugur. Sebentar lagi musim dingin. Beberapa jenis burung terbang ke daerah yang udaranya lebih hangat di selatan dan tinggal di sana selama musim dingin. Anak itik tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak dapat terbang ke selatan. Bahkan ia tidak tahu apakah itik juga terbang ke selatan.

Musim dingin tiba. Salju turun, udara sangat dingin. Kolam tempat tinggalnya membeku. Ia tidak dapat menemukan makanan. Akhirnya ia hanya diam saja, menggigil kedinginan.

Seorang petani datang. Ia mengambil anak itik itu. Anak itik ingat kepada nenek yang mau memasaknya. Ia ketakutan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.

Petani itu membawanya pulang. Ia memanggil anak-anaknya. “Lihat apa yang ayah temukan.,” katanya. “Kasihan, ia hampir beku. Bawa dia ke tempat yang hangat dan berilah makanan.”

Anak-anak petani merawatnya dengan penuh sayang. Anak itik mejadi kuat kembali, bahkan bertambah gemuk dan sehat. Anak itik tidak berani melarikan diri karena sekarang masih musim dingin. Ia sudah bertekat, begitu udara tidak terlalu dingin, ia akan segera kabur. Ia tidak mau menjadi gulai itik.

Tapi ternyata ia salah sangka. Musim semi tiba. Petani dan anak-anaknya membawa anak itik ke kolam tempat ia ditemukan hampir mati beku. “Pergilah,” kata petani. Mereka menunggu anak itik masuk ke kolam lalu mereka pergi.

Anak itik berenang di kolam. Tiba-tiba sekawanan angsa datang dan mendarat di kolam. Bulu mereka putih bersih. Leher mereka panjang dan indah.

Anak itik takut mereka  akan mengejeknya. Ia berenang menjauh. Tapi seekor angsa memanggilnya, “Hai, kenapa kami tidak pernah melihatmu?”
"Kamu tidak tinggal di sini?" tanya angsa lain
Angsa-angsa yang lain ikut memperhatikannya.  Anak itik menunduk. Ia melihat bayangannya di permukaan kolam. Betapa terkejutnya ia, bukan anak itik jelek yang dilihatnya, tapi seekor burung putih cantik seperti angsa-angsa yang mengerumuninya. Anak itik yang buruk rupa tidak pernah menyadari bahwa ia sebenarnya adalah seekor angsa.

Pak Kasim dan Ular

Selasa, 15 Oktober 2013

| | | 0 komentar



Pak Kasim dan isterinya tinggal di tepi hutan. Mereka berdua saja karena tidak mempunyai anak. Tiap hari pak Kasim mencari kayu bakar di hutan untuk dijual atau ditukar dengan barang kebutuhan lainnya.

Suatu siang, pak Kasim yang sudah mengumpulkan kayu sejak pagi, beristirahat di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara, “Tolong! Tolong keluarkan aku.”

Pak Kasim mencari asal suara itu dan melihat sebatang pohon yang tumbang menutupi sebuah lubang besar. Pak Kasim mengintip ke dalam lubang dan melihat seekor ular besar berusaha mendorong pohon tumbang itu.

Pak Kasim takut dan bermaksud pergi saja dari situ. Tapi ular itu memanggilnya, “Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.“

Pak Kasim ragu-ragu. Tapi ular itu berbicara lagi. “Tolong pindahkan pohon ini agar aku bisa ke luar. Aku akan mamberikan apa saja yang kauminta.”

Pak Kasim mendorong batang pohon sehingga ular itu bisa ke luar dari lubang.

“Sekarang katakan apa yang kau inginkan.” kata ular.

“Aku orang miskin,” kata pak Kasim. “Aku ingin menjadi kaya.”

“Baiklah,” jawab ular. “Pulanglah.”

Pak Kasim pulang dan rumahnya yang reyot sudah menjadi gedung yang megah. Bahkan isterinya mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah. Di meja makan sudah tersedia makanan yang lezat. Sekarang Pak dan Bu Kasim menikmati hidup sebagai orang kaya, bahkan tanpa harus bekerja.

Tak lama kemudian, para tetangga mulai membicarakan pasangan yang mendadak menjadi  kaya raya itu.

Bu Kasim merasa tidak enak. “Pak,” katanya kepada suaminya. “Para tetangga membicarakan kita. Katanya kira merampok sehingga menjadi kaya.”

“Biarkan saja, bu.” Kata Pak Kasim. “Mereka hanya iri.”

Beberapa hari kemudian, Bu Kasim berkata, “Kita memang kaya dan hidup enak, tapi aku tidak suka karena orang-orang justeru mengejek kita.”

“Pergilah menemui ular itu lagi, pak. Mintalah agar mereka menghormati kita.”

Pak Kasim pergi ke lubang ular itu dan menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah,” kata ular. “Pulanglah. Kau sudah menjadi raja sekarang. Tapi ingat, kau harus menjadi raja yang adil dan bijaksana.”

Pak Kasim pulang. Baru saja ia masuk ke rumah, ada orang mengetuk pintunya. Ternyata beberapa pengawal berdiri di depan rumahnya. Mereka menceritakan bahwa raja telah turun tahta dan menjadi pertapa. Sekarang mereka ingin pak Kasim menjadi raja.

Pak Kasim dibawa ke istana dan dinobatkan menjadi raja. Bu Kasim menjadi permaisuri. Semua orang menghormati mereka dan melakukan semua perintah mereka.

Pada suatu hari, permaisuri ingin memakai gaun kesayangannya. Tapi baju itu belum kering setelah dicuci. Permaisuri kesal.

Esok harinya, matahari bersinar terik sekali. Permaisuri kepanasan. Ia pergi ke kolam di istana bersama beberapa pelayan. Tapi sinar matahari membuat kulitnya terbakar.

Permaisuri menemui raja. “Pak, biar pun kita raja dan ratu, tapi kita hanya dihormati oleh manusia.  Pergilah ke ular itu dan mintalah agar matahari mematuhi kita.”

Raja pergi ke hutan menemui ular dan mengutarakan keinginannya. Ular menjadi marah.
“Pulanglah, pak Kasim,” kata ular. “Aku tak dapat menuruti keinginanmu. Kau terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri.”
Pak Kasim pun pulanglah ke istana. Ia merasa lega. Setidaknya ia masih menjadi raja.

Tapi esok harinya, raja yang asli kembali dari pertapaan. Pak Kasim dan isterinya dipersilakan kembali ke rumah mereka. Bu Kasim tidak puas, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Ketika mereka tiba di depan rumah, gedung megah mereka sudah tidak ada lagi. Di sana hanya ada rumah tua mereka yang sudah reyot.

Baca Parenting tips untuk orang tua sibuk Cara Mudah Meluangkan Wakru Untuk Anak




Kakek Batu

Minggu, 13 Oktober 2013

| | | 0 komentar

Dahulu kala hidup dua orang pemuda kakak beradik. Mereka bekerja menggarap ladang sayur mereka. Ketika sang kakak menikah, ia memberikan sebuah mantel  hujan dari ilalang dan sebuah cangkul. Disuruhnya adiknya mencari tanah sendiri. Pada masa itu, orang Cina tidak membeli jas hujan di toko. Mereka membuat jas hujan dari rumput dan ilalang. 

Sang adik pergi ke gunung mencari tanah untuk dijadikan ladang. ia menemukan tanah yang diinginkannya dan mulai mencangkul di dekat sebuah batu besar.

Pemuda itu beristirahat dan duduk di samping batu besar. Dilihatnya batu itu berbentuk seperti seorang kakek tua.

Saat itu matahari mulai muncul setelah hujan berhenti. Pemuda itu berkata kepada batu besar, "Selamat siang, kakek batu. Tolong kau jaga mantel  hujanku yang berharga ini."

Sore itu, pemuda itu berhenti bekerja dan mulai berbicara dengan batu itu seolah-olah mereka sahabat lama.

"Andai aku sekuat dirimu, kek," katanya. "Aku pasti tak pernah merasa lelah."

Pemuda itu bekerja di sana tiap hari.

Pada suatu hari ia sedang beristirahat dan seperti biasa, berbicara kepada kakek batu tentang betapa ia merasa lelah dan kepanasan. 

Tiba-tiba, "Anak muda," batu besar itu berbicara kepadanya! "Dengarkan. Kau mengeluh lelah dan panas? Tiap hari kau meletakkan mantel hujanmu ini di kepalaku. Mantel itu membuatku kepanasan dan gatal-gatal. Belum lagi terasa berat sekali di kepalaku."

"Ambillah mantelmu dan aku akan memberimu hadiah."

"Maaf, kek," kata pemuda itu sambil memindahkan mantel hujannya dari atas batu.

"Kek." kata pemuda itu setelah beberapa saat, "Tadi kau mengatakan akan memberiku hadiah?"

"Aku memang berkata begitu," kata batu. "Besok datanglah kemari membawa karung yang panjangnya tiga kaki.

Esoknya pemuda itu membawa karung sepanjang tiga kaki.

"Buka karung itu," kata batu.

Pemuda itu membuka mulut karung. Batu itu membuka mulutnya dan keluarlah ratusan koin perak berkilauan, masuk ke dalam karung. Tak lama, karung itu penuh.

"Bagaimana?" kata batu besar. "Cukup?"

"Oooh, banyak sekali, kek," kata pemuda itu senang. "Bahkan terlalu banyak untukku. Terima kasih, kek."

"Terlalu banyak?" kakek batu tertawa. "Tak banyak orang yang mengatakan terlalu banyak."

"Pergilah, bawa uang itu. Belilah rumah untuk dirimu. Kau pekerja keras, kau berhak mendapatkan uang itu."

Pemuda itu mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berpamitan dan pergi. Ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian kakaknya mendengar bahwa sang adik pulang sebagai orang kaya.

"Bagaimana kau bisa menjadi kaya raya, dik?" tanyanya.

Adiknya menceritakan semuanya.

"Di mana batu itu?" tanya sang kakak lagi.

"Kalau kau terus mengikuti jalan ini menuju pegunungan, kau akan menemukan sebidang tanah kosong yang luas. Batu itu ada di tengah tanah kosong itu."

"Kau pasti dapat menemukannya, kak."

Sang kakak segera mengambil mantel hujan dan cangkulnya sendiri. ia pergi mencari batu besar yang telah membuat adiknya kaya. Ia segera menemukan batu besar itu. ia meletakkan mantel hujannya di atas batu besar dan mulai mencangkul.

Setelah mencangkul sepanjang hari, ia duduk di sebelah batu besar dan berbicara kepadanya. "Apa kabar, kakek batu," katanya. "Apakah hari ini cukup hangat untukmu?"

Tidak ada jawaban.

"Hai, kau dengar tidak, batu?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Sepanjang siang sang kakak mengajak batu  besar itu berbicara, tapi batu itu diam saja.

"Aku dapat memaksamu bicara, batu tua!" katanya dalam hati.

Ia meletakkan batu-batu kecil di atas batu besar itu. Makin lama makin banyak batu yang ditumpuknya  sampai batu besar itu tidak kelihatan. 

"Singkirkan batu-batu ini," teriak kakek batu. "Aku akan memberimu hadiah."

Petani itu segera memindahkan batu-batu kecil dari batu besar.

"Datanglah besok, bawa karung sepanjang tiga kaki." kata batu besar. "Aku akan mengisinya dengan uang perak."

Matahari baru terbit ketika sang kakak datang membawa karung esok harinya.

"Baiklah," kata batu besar. "Buka karungmu."

Batu itu membuka mulut dan mengeluarkan uang perak sampai karung hampir penuh.

"Bagaimana?" tanya batu besar. "Sudah cukup, bukan?"

"Tidak," kata laki-laki serakah itu. "Tambahkan lagi."

"Baiklah." kata batu itu. Uang logam keluar lebih banyak lagi sampai karung hampir robek.

"Sudah cukup, sekarang?"

"Lagi! Tambahkan lagi!" kata sang kakak.

" Maaf, anak muda." kata batu itu. "Aku sudah tak punya uang lagi," 

Sang kakak berteriak, "Pasti masih ada uang lagi." Ia memasukkan kedua tangannya ke mulut batu, untuk mengambil uang lagi.

Mulut batu itu menutup dan tangan petani terjepit, tidak dapat dikeluarkan dari batu. 

"Batu tua, lepaskan tanganku!" Ia melompat-lompat, menendang, menarik tangannya. Batu itu tetap diam saja, tak bergerak sedikitpun.

"Kumohon, lepaskan tanganku!" Batu itu tetap diam saja. 

Malam tiba. Hujan lebat turun sampai tempat itu digenangi air. Karung berisi uang perak hanyut terbawa banjir. 

Pada hari yang ketiga, isteri petani itu datang mencarinya. Ia menangis melihat tangan suaminya terjebak di dalam batu. 

"Jangan hanya menangis." kata suaminya. "Lepaskan aku dari batu ini."

Tapi apa pn yang dilakukan sang isteri, tidak dapat melepaskannya. Sejak saat itu, tiap hari sang isteri datang membawakan makanan dan menyuapinya.

Petani itu terjebak selama tiga tahun. Tiap hari ia kepanasan dan kedinginan pada malam hari. Ia juga sering basah kuyup diguyur hujan. 

Kemudian, pada suatu hari, isterinya datang untuk mengantarkan makanan. Lelaki itu mengoceh. "Tiga tahun sudah aku berdiri di sini, kehujanan dan kepanasan. Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan memotong tanganku saja."

Tiba-tiba batu besar itu bergetar. dan mulai tertawa. Kemudian mulutnya terbuka lebar dan ia tertawa terbahak-bahak.

Petani serakah itu terjatuh ke tanah. Ia bebas sekarang. Cepat-cepat diajaknya sang isteri pergi dari tempat itu dan  tidak pernah kembali lagi.

Gadis Landak

| | | 0 komentar

Dahulu kala, hidup sepasang suami isteri di sebuah rumah kecil. Adik lelaki sang suami juga tinggal bersama mereka.

Pada suatu hari sang isteri berkata, “Adikmu sudah dewasa. Sudah waktunya menikah. Berikan saja setengah harta kita dan suruh dia mencari tempat tinggal sendiri.” Suaminya tidak tega menyuruh adiknya pergi, tapi isterinya mendesaknya terus.  Akhirnya ia setuju. 

Esok harinya , ia menyuruh adiknya memakai pakaian baru  lalu mengajaknya berjalan-jalan.
Mereka berjalan mendaki bukit dan ketika tiba di hutan, sang kakak memberikan sejumlah uang dan mengatakan bahwa sudah waktunya sang adik memulai hidup sendiri. Walaupun sedih, sang kakak menyuruh adiknya pergi dan ia sendiri pulang ke rumahnya.

Sang adik terus berjalan walaupun ia tidak punya tujuan. Malam tiba. Ia melihat sebuah gubuk.  Ia meminta ijin kepada pemburu pemilik gubuk itu untuk tinggal semalam.  

Malam itu, pemuda itu melihat seekor landak terikat pada tiang. Landak itu terus memandanginya.

“Tuan,” katanya kepada pemburu, “Mengapa kau mengikat landak itu di tiang?”

“Aku akan mengambil kulitnya dan memakan dagingnya.”

“Tapi tuan, lihatlah, landak itu sedih sekali. Tolong lepaskan dia.”

“Aku lelah sekali berburu hari ini, dan hanya landak itu yang kudapat. Tidak, aku tak mau melepaskannya.”

“Kalau begitu, biarlah aku membelinya!” kata pemuda itu sambil menunjukkan uang pemberian kakaknya.

Pemburu menjual  landak itu kepada pemuda itu.  Pemuda itu membawa landak pergi. Setelah cukup jauh dari gubuk pemburu, ia melepaskan tali pengikat  landak dan berkata. “Pergilah jauh-jauh. Kalau kau tertangkap lagi, belum tentu ada yang menolongmu.”

Landak itu memandangi sang pemuda lama sekali. Lalu ia pergi ke semak-semak dan menghilang.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dan ilalang di dekatnya bergerak-gerak. Alangkah terkejutnya pemuda itu, seorang gadis muda muncul. Gadis itu cantik sekali. Ia membawa sehelai selimut tebal.

“Tuan,” kata gadis itu, “Kau tentu kedinginan.” Ia memberikan selimut yang dibawanya kepada pemuda itu.

“Terima kasih, Nona. Kau baik sekali,” kata pemuda.

“Apakah kau tidak punya rumah?” tanya gadis itu.

“Tentu saja aku punya rumah.”

“Lalu mengapa kau ada di sini?”

Pemuda itu menceritakan perpisahannya dengan kakaknya.

“Apakah kau tidak rindu kepada rumahmu?” tanya gadis itu.

"Aku rindu kepada kakakku, tapi aku tidak berani kembali ke rumah."

“Jangan kuatir, aku akan membawamu ke rumahmu sendiri. Tapi kau harus menikahiku dulu.”

Walaupun agak bingung, pemuda itu setuju. Malam itu mereka mengucapkan sumpah pernikahan dan menjadi pasangan suami isteri.

Esoknya, pagi-pagi sekali, wanita muda itu berkata, “Tutuplah punggungku dengan selimut itu. Lalu naiklah ke punggungku. Berpeganganlah erat-erat dan tutup matamu sampai aku menyuruhmu membukanya.”

Suaminya mengikuti semua perkataan sang isteri. Dan pemuda itu merasa ia sedang terbang. Angin bertiup kencang di telinganya. Tapi dengan patuh ia tetap menutup kedua matanya.

Akhirnya, ia mendengar isterinya berkata, “Sekarang kau boleh membuka matamu.” Pemuda itu membuka matanya dan melihat mereka berada di tepi desanya sendiri.

“Suamiku,” kata sang isteri, “Jangan kembali ke rumah kakakmu dulu, ayo kita mencari tempat tinggal kita sendiri.”

Pemuda itu mengajak isterinya ke sebuah kedai.  Ia mengenal pemilik kedai itu. Ia mengenalkan isterinya kepada pemilik kedai dan mereka bercakap-cakap.

“Paman,” kata wanita muda itu, “Kami ingin menetap di desa ini. Dapatkah paman mencarikan sebidang tanah yang akan dijual?’

“Baiklah, aku akan mencarikan tanah yang baik untukmu,” kata paman.

Esok harinya, paman menunjukkan sebidang tanah yang akan dijual, tapi pemiliknya memasang harga yang sangat tinggi. “Kalau kalian sabar, aku akan mencarikan tanah yang lain,” kata paman.

Tapi wanita muda itu berkata, “Tidak usah, paman. Kami punya cukup uang untuk membeli tanah itu.” Wanita itu mengeluarkan uang dan meminta suaminya membeli tanah itu.

Malam itu suami isteri itu melihat tanah yang baru mereka beli.  Sang isteri mencabut jepit rambutnya dan membuat gambar rumah di tanah. Ketika ia menarik kembali jepit rambutnya, terdengar suara gemuruh dan bumi bergetar. Sekarang di depan mereka berdiri sebuah rumah besar yang indah dan megah.

“Ini rumah kita,” kata sang isteri, “ Ayo kita masuk.”

Rumah itu  sudah lengkap dengan perabotan yang indah. Di belakang rumah ada gudang  besar yang penuh bahan makanan . Di sampingnya berdiri sebuah kandang berisi belasan kuda. Mereka tinggal di sana dengan tenang dan bahagia.

Tiga tahun berlalu. Pada suatu hari, sang isteri berkata kepada suaminya. “Kita sudah lama menikah, tapi kita tidak dikaruniai anak. Kurasa kau harus mengambil seorang isteri lagi.”

Suaminya tidak setuju. “Aku bahagia hidup denganmu, walaupun kita tidak punya anak.”

“Kau tidak mengerti,” kata isterinya. “Aku tak akan lama hidup bersamamu.”

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa ia adalah landak yang dulu diselamatkan pemuda itu dari pemburu.  Ia mengubah dirinya menjadi manusia untuk membalas budi. Ia mendesak suaminya untuk mencari calon isteri.

Pemuda itu pergi mencari calon isteri yang baik. Ia telah bertemu banyak sekali gadis namun tak ada yang menurutnya sebaik gadis landak, isterinya.

Pada suatu hari ia melihat seorang gadis yang menarik hatinya. Pemuda itu menemui ayah sang gadis untuk melamar. Ayah gadis itu seorang pedagang kaya.  Ia setuju anak gadisnya dipersunting sang pemuda, dengan satu syarat. Ia minta pemuda membawa tujuh kereta penuh uang perak.

Pemuda itu kembali ke rumahnya dan menceritakan perjalanannya hingga menemukan seorang gadis. Ia menjelaskan syarat yang diminta ayah gadis itu. “Hanya itu syaratnya?” tanya gadis landak.

Esok harinya gadis landak meminta suaminya pergi ke rumah calon isteri barunya. Di halaman rumah sudah menunggu tujuh kereta lengkap dengan kuda dan kusir.

Setelah menikah dengan puteri pedagang, pemuda itu membawa isteri barunya pulang. Mereka disambut hangat oleh gadis landak.

Esok harinya, gadis landak sudah tidak ada. Pemuda itu tidak pernah lagi melihat isteri pertamanya. 

Setahun kemudian, isteri keduanya melahirkan sepasang anak kembar seperti yang diinginkan gadis landak.

Burung Phoenix Berkepala Dua

| | | 0 komentar
Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak mau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.
Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.”  Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau  tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.

Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan  seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji.  Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.

Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan  setengah kerajaannya kepada penasihat.