Raja Midas

Senin, 08 Agustus 2016

| | | 0 komentar
Dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Midas. Raja Midas mempunyai seorang puteri bernama Marigold.

Raja Midas sangat kaya. Banyak orang mengatakan bahwa raja Midas memiliki emas yang lebih banyak dari raja-raja lainnya.

Satu ruangan di istananya penuh berisi barang-barang dari emas. Raja Midas menjadi seorang yang tamak. Ia makin menyukai emasnya dan berusaha mengumpulkan emas lebih banyak lagi.

Raja Midas suka mengurung diri di ruangan penyimpanan emasnya untuk mengagumi dan menghitung emasnya. Ia bahkan sering tidak memperhatikan puterinya, Marigold.

Pada suatu hari, seperti biasa Midas sedang menghitung emasnya. Tiba-tiba muncul seorang peri di depannya. Wajah peri itu bersinar. Ia mempunyai sayap dan sebuah tongkat kecil.
“Midas,” kata peri itu. “Kau adalah orang terkaya di dunia ini. Tidak ada raja lain yang memiliki emas sebanyak kamu.” Peluang mendapat uang tambahan, mudah dan murah Klik di sini

“Oh, mungkin itu benar,” kata raja Midas, “Tapi aku ingin memiliki emas lebih banyak lagi. Emas adalah benda yang paling berharga di dunia.”

"Apakah kamu yakin?” tanya peri.

"Sangat yakin, tidak ada yang lebih berharga dari emas", kata raja
“Aku punya hadiah untukmu," kata peri.
'Kalau aku dapat mengabulkan satu permintaanmu, “ kata peri. “Apakah kamu akan minta emas?”

"Kalau aku hanya memiliki satu permintaan,” kata raja. “Aku akan minta, semua benda yang kusentuh berubah menjadi  emas.”

"Permintaanmu akan dikabulkan,” kata peri. Ujung tongkat kecilnya bercahaya. “Besok  pagi pada saat matahari terbit. Semua  benda yang kausentuh akan berubah menjadi emas. Tapi aku peringatkan, permintaan ini tidak akan membuatmu bahagia.”

“Aku mengerti," kata raja. "Aku siap menanggung akibatnya. Lagi pula, tak mungkin aku tidak bahagia bila dapat mengubah apa pun menjadi emas hanya dengan menyentuhnya."
Malam itu raja Midas sulit tidur. Ia sangat senang membayangkan dapat mengubah semua benda yang disentuhnya menjadi emas. Emasnya akan menjadi makin banyak. Mungkin ia perlu membangun satu gudang emas lagi.
Akhirnya raja Midas tertidur. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Ia ingin segera membuktikan janji sang peri kepadanya.
Matahari sudah terbit. Raja Midas mencoba menyentuh tempat tidurnya dengan tangannya. Wow, tempat tidur kayu berukir itu berubah menjadi emas. Ia menyentuh meja dan kursi. Seketika meja dan kursinya berubah menjadi emas murni.

Raja Midas sangat gembira. Ia berlari mengelilingi kamarnya dan menyentuh semua benda yang dilihatnya. Semua menjadi emas yang berkilauan.

Raja tiba-tiba merasa lapar. Ia segera pergi ke ruang makan. Ia mengambil segelas air. Air itu bersama dengan gelasnya berubah menjadi emas. Ia tidak bisa minum.
Raja mengambil roti. Ia juga mengambil buah apel yang segar. Tapi tak ada yang bisa dimakannya. Semuanya berubah menjadi emas.

Tiba-tiba Marigold lari masuk ke ruang makan. “Ayah!” Gadis kecil itu lari menghampiri raja. Raja Midas berusaha untuk tidak menyentuh puterinya, tapi Marigold memegang tangan sang ayah. Seketika gadis kecil itu berubah menjadi patung emas.


“Puteriku..., apa yang telah kulakukan?” raja Midas sangat sedih. Ia menangis memanggil peri yang telah memberinya kemampuan mengubah benda menjadi emas. 

Terjadinya Pulau Timor

| | | 0 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga nelayan. Pada suatu hari anak itu diajak ayahnya pergi ke laut untuk mencari ikan. Setelah mendapat cukup banyak ikan, mereka kembali ke pantai.

Sembari menunggu ayahnya sedang memilah-milah ikan tangkapan mereka, anak laki-laki itu berjalan-jalan dan bermain di pantai. Ia menemukan seekor anak buaya yang hampir mati karena sinar matahari yang sangat terik. Iba hati anak itu melihat buaya kecil yang lemas itu. Diberinya buaya itu minum. Kemudian ia membawa buaya itu pulang untuk dirawat.

Beberapa hari kemudian, buaya itu sudah lebih kuat. Sejak itu tiap hari mereka bermain bersama. Ketika buaya itu sudah agak besar, ia sering membawa anak nelayan itu berjalan-jalan. Ia juga sering membawa anak itu berenang di laut.

Persahabatan mereka terus berlanjut hingga keduanya dewasa. Anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kemudian menikah dan mempunyai anak-anak. Sementara buaya sahabatnya menjadi seekor buaya raksasa.

Pada suatu hari, buaya itu membawa sang pemuda berenang di laut. Sampai di tengah laut Timor, buaya itu merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Ia berhenti berenang dan berkata, “Sahabatku, kau sangat baik hati. Aku bisa hidup sampai sekarang karena kebaikanmu. Sekarang aku akan mati. Bawalah keluarga dan anak cucumu tinggal di atas tubuhku.”  


Kemudian buaya itu mati. Tubuhnya berubah menjadi sebuah pulau. Kepalanya ada di Kupang dan ekornya ada di Timor Leste. Punggungnya yang bergerigi menjadi pegunungan di sepanjang pulau itu. Pulau itu disebut pulau Timor.

Balapan Katak dan Kepiting

| | | 0 komentar



Pada suatu malam bulan purnama, seekor katak bertemu seekor kepiting di tepi sungai.
Pasir di tepi sungai itu tampak indah sekali di bawah cahaya bulan.

“Hai, katak. Indah sekali malam ini.”

“Benar! Seperti di siang hari ya? Bagaimana kalau kita balapan?” kata katak. 

“Ayo!” jawab kepiting. "Kita balapan sampai akar pohon itu ya?”

“Tapi... kau mungkin dapat lari cepat sekali, dan aku akan kalah,” kata katak.

“Begini saja,” kata kepiting. “Kau naik ke punggungku, sehingga kau dapat melihat seberapa cepat aku lari. kemudian saat kau lari aku naik di punggungmu.”

Kepiting bersiap-siap lari. Katak naik ke punggungnya. Kepiting lari secepat-cepatnya ke pohon yang sudah mereka sepakati. 

Sekarang giliran katak. Ia melompat tinggi sekali sambil berteriak, “Aku bisa lari secepat angin sambil melompat setinggi bulan. Jangan melihat ke bawah, nanti kau bisa pusing. Dan berpeganganlah erat-erat.”

“Oh, katak,” kata kepiting, “kau lari cepat sekali sehingga aku hampir pingsan karena pusing.”

“Sekarang kau tahu, aku lari lebih cepat darimu,” kata katak. Peluang bisnis modal murah, cara mudah Klik di sini

Ketika turun dari punggung katak, kepiting melihat bahwa mereka berada di tempat mereka memulai balapan. Baru ia sadar bahwa katak tidak berlari sama sekali. Ia hanya melompat ke atas dan turun lagi di tempat yang sama. Katak curang!

Katak menjadi marah, “Kau tidak lari! Kau melompat tinggi ke atas, membuatku percaya kau lari jauh!”


Kepiting menjepit pinggang katak dengan capitnya. Sampai sekarang, pinggang katak bengkok karena jepitan kepiting.

Anak Gembala Pembohong

Sabtu, 09 Mei 2015

| | | 0 komentar

Ada seorang anak laki-laki penggembala domba. Ia gembala yang baik Banyak domba yang dirawatnya. Semua sehat dan gemuk.

Pada suatu hari, ia menggembala di dekat sawah. Para petani sedang menanen padi. Mereka sibuk bekerja dan tidak sempat berbicara dengan gembala itu.

Timbul pikiran nakal pada gembala itu,

Tiba-tiba, "Serigala! Ada serigala!" Gembala berteriak ketakutan. "Tolong! Dombaku dimakan serigala!"

Para petani cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya, Mereka ingin menolong mengusir serigala.

"Di mana serigalanya?" tanya seorang petani.


Gembala tersenyum-senyum. "Aku hanya bercanda saja, aku lihat kalian kerja keras sampai tidak bisa tersenyum."

Petani hanya tersenyum masam mendengar jawaban gembala. Mereka kembali bekerja walaupun agak kesal.

Beberapa hari kemudian, para petani itu masih sibuk memanen padi. Sang gembala menunggui dombanya di padang rumput tak jauh dari sawah yang sedang dipanen itu.

Para petani kembali dikejutkan teriakan gembala, "Serigala! Tolong! Tolong!"
Seperti sebelumnya, mereka segera lari mendekat. Tapi, apa yang mereka lihat, domba-domba sedang merumput dengan tenang. Gembala pun sedang tertawa-tawa.

Sekarang petani marah. "Dasar gembala kurang kerjaan!" kata seorang dari mereka. Mereka pun pergi sambil menggerutu.

Beberapa waktu berlalu, sekarang para petani sedang sibuk menanami sawah dengan tanaman padi yang baru. Tiba-tiba terdengar jeritan, "Tolong! Tolong, Dombaku dibawa lari! Serigala!"

Para petani berbicara satu sama lain, "Gembala itu berulah lagi."

"Bagaimana kalau benar ada serigala?"

"Dulu dia bohong kepada kita, biarkan saja."

"Benar, kalau dombanya benar-benar diserang serigala, biar ditanggungnya sendiri."

Tak lama kemudian, para petani berjalan pulang. Mereka melalui padang rumput. Di sana sang gembala sedang menangis. Sekelompok serigala datang menyerang, melarikan beberapa domba. Tapi tak seorang pun datang menolongnya.

Ya, sekali kamu berbohong, temanmu tidak akan mempercayaimu lagi, walaupun kamu mengatakan hal yang sebenarnya. Jangan berbohong Peluang bisnis komisi 100% ditranfer ke rekening Anda

Anak Itik Buruk Rupa

| | | 0 komentar

Dahulu kala, di sebuah peternakan hidup seekor induk itik. Ia sedang mengerami telurnya. Sudah tiba waktunya telur-telur itu menetas. Satu persatu enam ekor anak itik keluar dari telur. Induk itik menghitung, ada enam ekor anak itik. Tapi masih ada satu telur belum menetas. Telur itu lebih besar dari telur yang lain.

Induk itik mulai tidak sabar. Ia ingin membawa anak-anaknya mencari makanan, tapi ia harus menunggu telur terakhir itu menetas. Induk itik sudah ingin meninggalkan telur itu, tapi telur itu mulai pecah dan muncullah seekor anak itik.

Enam anaknya berbulu kuning, anak itik ini bulunya berwarna kelabu. Tubuhnya juga lebih  besar, lehernya lebih panjang. Anak itik yang aneh sekali.

Meskipun heran melihat anak itik yang baru menetas itu, induk itik tetap sayang kepadanya. Ia membawa semua anaknya ke luar kandang untuk mencari makanan.
“Hai, ibu itik,” sapa seekor ayam. “Anak-anak sudah menetas?”
“Tapi mengapa yang satu itu jelek sekali?”
“Selamat pagi, bu ayam.” kata induk itik sambil berjalan terus bersama tujuh anaknya.

Beberapa merpati sedang makan. Ketika keluarga itik lewat, mereka menyapa dengan ramah. Mereka juga bertanya mengapa anak itik itu berbeda dengan saudara-saudaranya. Induk itik balas menyapa, tapi tidak mengatakan apa-apa tentang anaknya.

Anak itik kelabu itu makan lebih banyak dari saudaranya dan tubuhnya cepat sekali bertambah besar. Makin ia besar, makin ia tampak berbeda dengan anak itik yang lain.

Tiap kali mereka berjalan-jalan di peternakan, hewan-hewan lain mengejek mereka. Induk itik hanya berjalan cepat-cepat sambil menunduk. Anak-anak itik lain merasa kesal karena ikut diolok-olok hewan lain. Mereka tidak mau bermain dengannya bahkan tidak mau dekat dengannya.

Induk itik menyayanginya seperti saudara-saudaranya, tapi anak itik  tahu ibunya sedih karena ia jelek sekali. Ia sering menangis sedih ketika ibu dan saudaranya sudah tidur.

Pada suatu hari anak itik pergi meninggalkan peternakan. Ia berjalan sampai ke sebuah kolam. Di sana banyak burung sedang minum dan mandi.

 “Apakah bapak atau ibu pernah melihat anak itik berbulu kelabu seperti aku?” tanya anak itik.
“Aku tidak pernah melihat anak itik yang bulunya kelabu seperti kamu,” kata seekor bangau.
“Setahuku, anak itik bulunya kuning,” kata burung kecil berbulu cokelat. "Mungkin kamu bukan anak itik."

Anak itik berjalan lagi. Tiap bertemu hewan lain, ia selalu bertanya apakah mereka pernah bertemu anak itik berbulu kelabu seperti dia. Tak satu pun pernah bertemu dengan anak itik yang mirip dengannya.

Anak itik menyesal sudah kabur dari peternakan, tapi ia juga tidak tahu jalan pulang. Ia berjalan saja terus, mencari makan seadanya dan tidur di dekat semak-semak.

Pada suatu pagi, anak itik masih tidur. Seorang nenek menangkapnya dan membawanya pulang. Nenek itu memasukkannya ke kandang ayam dan memberinya makanan.

“Kau sudah kenyang,” kata nenek. “Sekarang bertelurlah.” Tiap hari nenek itu mengambil telur ayam di kandang. Ia juga memeriksa apakah anak itik bertelur.

Suatu hari, nenek itu melihat anak itik belum bertelur juga. “Tak apa-apa kalau kamu tidak bisa bertelur,” katanya. “Ayo makan lebih banyak supaya kamu gemuk.”
Anak itik bertanya kepada ayam-ayam betina tetangganya di kandang. “Mengapa aku tidak bisa bertelur?”
“Kamu itik jantan,” jawab seekor ayam cokelat sambil tertawa, “Mana bisa kamu bertelur?”
“Nenek mau membuatmu gemuk, kamu akan dipotong dan dimasak menjadi gulai,” kata seekor ayam putih.

Anak itik ketakutan. Sejak itu ia tidak mau makan. Tubuhnya menjadi kurus dan lemah. Pada suatu hari, setelah mengambil telur, nenek lupa menutup pintu kandang. Anak itik segera lari ke luar kandang dan pergi lauh-jauh.

Anak itik sampai di sebuah kolam besar. Udara sangat dingin, saat itu musim gugur. Sebentar lagi musim dingin. Beberapa jenis burung terbang ke daerah yang udaranya lebih hangat di selatan dan tinggal di sana selama musim dingin. Anak itik tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak dapat terbang ke selatan. Bahkan ia tidak tahu apakah itik juga terbang ke selatan.

Musim dingin tiba. Salju turun, udara sangat dingin. Kolam tempat tinggalnya membeku. Ia tidak dapat menemukan makanan. Akhirnya ia hanya diam saja, menggigil kedinginan.

Seorang petani datang. Ia mengambil anak itik itu. Anak itik ingat kepada nenek yang mau memasaknya. Ia ketakutan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.

Petani itu membawanya pulang. Ia memanggil anak-anaknya. “Lihat apa yang ayah temukan.,” katanya. “Kasihan, ia hampir beku. Bawa dia ke tempat yang hangat dan berilah makanan.”

Anak-anak petani merawatnya dengan penuh sayang. Anak itik mejadi kuat kembali, bahkan bertambah gemuk dan sehat. Anak itik tidak berani melarikan diri karena sekarang masih musim dingin. Ia sudah bertekat, begitu udara tidak terlalu dingin, ia akan segera kabur. Ia tidak mau menjadi gulai itik.

Tapi ternyata ia salah sangka. Musim semi tiba. Petani dan anak-anaknya membawa anak itik ke kolam tempat ia ditemukan hampir mati beku. “Pergilah,” kata petani. Mereka menunggu anak itik masuk ke kolam lalu mereka pergi.

Anak itik berenang di kolam. Tiba-tiba sekawanan angsa datang dan mendarat di kolam. Bulu mereka putih bersih. Leher mereka panjang dan indah.

Anak itik takut mereka  akan mengejeknya. Ia berenang menjauh. Tapi seekor angsa memanggilnya, “Hai, kenapa kami tidak pernah melihatmu?”
"Kamu tidak tinggal di sini?" tanya angsa lain
Angsa-angsa yang lain ikut memperhatikannya.  Anak itik menunduk. Ia melihat bayangannya di permukaan kolam. Betapa terkejutnya ia, bukan anak itik jelek yang dilihatnya, tapi seekor burung putih cantik seperti angsa-angsa yang mengerumuninya. Anak itik yang buruk rupa tidak pernah menyadari bahwa ia sebenarnya adalah seekor angsa.

Pak Kasim dan Ular

Selasa, 15 Oktober 2013

| | | 0 komentar



Pak Kasim dan isterinya tinggal di tepi hutan. Mereka berdua saja karena tidak mempunyai anak. Tiap hari pak Kasim mencari kayu bakar di hutan untuk dijual atau ditukar dengan barang kebutuhan lainnya.

Suatu siang, pak Kasim yang sudah mengumpulkan kayu sejak pagi, beristirahat di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara, “Tolong! Tolong keluarkan aku.”

Pak Kasim mencari asal suara itu dan melihat sebatang pohon yang tumbang menutupi sebuah lubang besar. Pak Kasim mengintip ke dalam lubang dan melihat seekor ular besar berusaha mendorong pohon tumbang itu.

Pak Kasim takut dan bermaksud pergi saja dari situ. Tapi ular itu memanggilnya, “Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.“

Pak Kasim ragu-ragu. Tapi ular itu berbicara lagi. “Tolong pindahkan pohon ini agar aku bisa ke luar. Aku akan mamberikan apa saja yang kauminta.”

Pak Kasim mendorong batang pohon sehingga ular itu bisa ke luar dari lubang.

“Sekarang katakan apa yang kau inginkan.” kata ular.

“Aku orang miskin,” kata pak Kasim. “Aku ingin menjadi kaya.”

“Baiklah,” jawab ular. “Pulanglah.”

Pak Kasim pulang dan rumahnya yang reyot sudah menjadi gedung yang megah. Bahkan isterinya mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah. Di meja makan sudah tersedia makanan yang lezat. Sekarang Pak dan Bu Kasim menikmati hidup sebagai orang kaya, bahkan tanpa harus bekerja.

Tak lama kemudian, para tetangga mulai membicarakan pasangan yang mendadak menjadi  kaya raya itu.

Bu Kasim merasa tidak enak. “Pak,” katanya kepada suaminya. “Para tetangga membicarakan kita. Katanya kira merampok sehingga menjadi kaya.”

“Biarkan saja, bu.” Kata Pak Kasim. “Mereka hanya iri.”

Beberapa hari kemudian, Bu Kasim berkata, “Kita memang kaya dan hidup enak, tapi aku tidak suka karena orang-orang justeru mengejek kita.”  Peluang bisnis komisi 100% ditranfer ke rekening Anda

“Pergilah menemui ular itu lagi, pak. Mintalah agar mereka menghormati kita.”

Pak Kasim pergi ke lubang ular itu dan menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah,” kata ular. “Pulanglah. Kau sudah menjadi raja sekarang. Tapi ingat, kau harus menjadi raja yang adil dan bijaksana.”

Pak Kasim pulang. Baru saja ia masuk ke rumah, ada orang mengetuk pintunya. Ternyata beberapa pengawal berdiri di depan rumahnya. Mereka menceritakan bahwa raja telah turun tahta dan menjadi pertapa. Sekarang mereka ingin pak Kasim menjadi raja.

Pak Kasim dibawa ke istana dan dinobatkan menjadi raja. Bu Kasim menjadi permaisuri. Semua orang menghormati mereka dan melakukan semua perintah mereka.

Pada suatu hari, permaisuri ingin memakai gaun kesayangannya. Tapi baju itu belum kering setelah dicuci. Permaisuri kesal.

Esok harinya, matahari bersinar terik sekali. Permaisuri kepanasan. Ia pergi ke kolam di istana bersama beberapa pelayan. Tapi sinar matahari membuat kulitnya terbakar.

Permaisuri menemui raja. “Pak, biar pun kita raja dan ratu, tapi kita hanya dihormati oleh manusia.  Pergilah ke ular itu dan mintalah agar matahari mematuhi kita.”

Raja pergi ke hutan menemui ular dan mengutarakan keinginannya. Ular menjadi marah.
“Pulanglah, pak Kasim,” kata ular. “Aku tak dapat menuruti keinginanmu. Kau terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri.”
Pak Kasim pun pulanglah ke istana. Ia merasa lega. Setidaknya ia masih menjadi raja.

Tapi esok harinya, raja yang asli kembali dari pertapaan. Pak Kasim dan isterinya dipersilakan kembali ke rumah mereka. Bu Kasim tidak puas, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Ketika mereka tiba di depan rumah, gedung megah mereka sudah tidak ada lagi. Di sana hanya ada rumah tua mereka yang sudah reyot.

Baca Parenting tips untuk orang tua sibuk Cara Mudah Meluangkan Wakru Untuk Anak




Kakek Batu

Minggu, 13 Oktober 2013

| | | 0 komentar

Dahulu kala hidup dua orang pemuda kakak beradik. Mereka bekerja menggarap ladang sayur mereka. Ketika sang kakak menikah, ia memberikan sebuah mantel  hujan dari ilalang dan sebuah cangkul. Disuruhnya adiknya mencari tanah sendiri. Pada masa itu, orang Cina tidak membeli jas hujan di toko. Mereka membuat jas hujan dari rumput dan ilalang. 

Sang adik pergi ke gunung mencari tanah untuk dijadikan ladang. ia menemukan tanah yang diinginkannya dan mulai mencangkul di dekat sebuah batu besar.

Pemuda itu beristirahat dan duduk di samping batu besar. Dilihatnya batu itu berbentuk seperti seorang kakek tua.

Saat itu matahari mulai muncul setelah hujan berhenti. Pemuda itu berkata kepada batu besar, "Selamat siang, kakek batu. Tolong kau jaga mantel  hujanku yang berharga ini."

Sore itu, pemuda itu berhenti bekerja dan mulai berbicara dengan batu itu seolah-olah mereka sahabat lama.

"Andai aku sekuat dirimu, kek," katanya. "Aku pasti tak pernah merasa lelah."

Pemuda itu bekerja di sana tiap hari.

Pada suatu hari ia sedang beristirahat dan seperti biasa, berbicara kepada kakek batu tentang betapa ia merasa lelah dan kepanasan. 

Tiba-tiba, "Anak muda," batu besar itu berbicara kepadanya! "Dengarkan. Kau mengeluh lelah dan panas? Tiap hari kau meletakkan mantel hujanmu ini di kepalaku. Mantel itu membuatku kepanasan dan gatal-gatal. Belum lagi terasa berat sekali di kepalaku."

"Ambillah mantelmu dan aku akan memberimu hadiah."

"Maaf, kek," kata pemuda itu sambil memindahkan mantel hujannya dari atas batu.

"Kek." kata pemuda itu setelah beberapa saat, "Tadi kau mengatakan akan memberiku hadiah?"

"Aku memang berkata begitu," kata batu. "Besok datanglah kemari membawa karung yang panjangnya tiga kaki.

Esoknya pemuda itu membawa karung sepanjang tiga kaki.

"Buka karung itu," kata batu.

Pemuda itu membuka mulut karung. Batu itu membuka mulutnya dan keluarlah ratusan koin perak berkilauan, masuk ke dalam karung. Tak lama, karung itu penuh.

"Bagaimana?" kata batu besar. "Cukup?"

"Oooh, banyak sekali, kek," kata pemuda itu senang. "Bahkan terlalu banyak untukku. Terima kasih, kek."

"Terlalu banyak?" kakek batu tertawa. "Tak banyak orang yang mengatakan terlalu banyak."

"Pergilah, bawa uang itu. Belilah rumah untuk dirimu. Kau pekerja keras, kau berhak mendapatkan uang itu."

Pemuda itu mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berpamitan dan pergi. Ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian kakaknya mendengar bahwa sang adik pulang sebagai orang kaya.

"Bagaimana kau bisa menjadi kaya raya, dik?" tanyanya.

Adiknya menceritakan semuanya.

"Di mana batu itu?" tanya sang kakak lagi.

"Kalau kau terus mengikuti jalan ini menuju pegunungan, kau akan menemukan sebidang tanah kosong yang luas. Batu itu ada di tengah tanah kosong itu."

"Kau pasti dapat menemukannya, kak."

Sang kakak segera mengambil mantel hujan dan cangkulnya sendiri. ia pergi mencari batu besar yang telah membuat adiknya kaya. Ia segera menemukan batu besar itu. ia meletakkan mantel hujannya di atas batu besar dan mulai mencangkul.

Setelah mencangkul sepanjang hari, ia duduk di sebelah batu besar dan berbicara kepadanya. "Apa kabar, kakek batu," katanya. "Apakah hari ini cukup hangat untukmu?"

Tidak ada jawaban.

"Hai, kau dengar tidak, batu?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Sepanjang siang sang kakak mengajak batu  besar itu berbicara, tapi batu itu diam saja.

"Aku dapat memaksamu bicara, batu tua!" katanya dalam hati.

Ia meletakkan batu-batu kecil di atas batu besar itu. Makin lama makin banyak batu yang ditumpuknya  sampai batu besar itu tidak kelihatan. 

"Singkirkan batu-batu ini," teriak kakek batu. "Aku akan memberimu hadiah."

Petani itu segera memindahkan batu-batu kecil dari batu besar.

"Datanglah besok, bawa karung sepanjang tiga kaki." kata batu besar. "Aku akan mengisinya dengan uang perak."

Matahari baru terbit ketika sang kakak datang membawa karung esok harinya.

"Baiklah," kata batu besar. "Buka karungmu."

Batu itu membuka mulut dan mengeluarkan uang perak sampai karung hampir penuh.

"Bagaimana?" tanya batu besar. "Sudah cukup, bukan?"

"Tidak," kata laki-laki serakah itu. "Tambahkan lagi."

"Baiklah." kata batu itu. Uang logam keluar lebih banyak lagi sampai karung hampir robek.

"Sudah cukup, sekarang?"

"Lagi! Tambahkan lagi!" kata sang kakak.

" Maaf, anak muda." kata batu itu. "Aku sudah tak punya uang lagi," 

Sang kakak berteriak, "Pasti masih ada uang lagi." Ia memasukkan kedua tangannya ke mulut batu, untuk mengambil uang lagi.

Mulut batu itu menutup dan tangan petani terjepit, tidak dapat dikeluarkan dari batu. 

"Batu tua, lepaskan tanganku!" Ia melompat-lompat, menendang, menarik tangannya. Batu itu tetap diam saja, tak bergerak sedikitpun.

"Kumohon, lepaskan tanganku!" Batu itu tetap diam saja. 

Malam tiba. Hujan lebat turun sampai tempat itu digenangi air. Karung berisi uang perak hanyut terbawa banjir. 

Pada hari yang ketiga, isteri petani itu datang mencarinya. Ia menangis melihat tangan suaminya terjebak di dalam batu. 

"Jangan hanya menangis." kata suaminya. "Lepaskan aku dari batu ini."

Tapi apa pn yang dilakukan sang isteri, tidak dapat melepaskannya. Sejak saat itu, tiap hari sang isteri datang membawakan makanan dan menyuapinya.

Petani itu terjebak selama tiga tahun. Tiap hari ia kepanasan dan kedinginan pada malam hari. Ia juga sering basah kuyup diguyur hujan. 

Kemudian, pada suatu hari, isterinya datang untuk mengantarkan makanan. Lelaki itu mengoceh. "Tiga tahun sudah aku berdiri di sini, kehujanan dan kepanasan. Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan memotong tanganku saja."

Tiba-tiba batu besar itu bergetar. dan mulai tertawa. Kemudian mulutnya terbuka lebar dan ia tertawa terbahak-bahak.

Petani serakah itu terjatuh ke tanah. Ia bebas sekarang. Cepat-cepat diajaknya sang isteri pergi dari tempat itu dan  tidak pernah kembali lagi.