Pak Kasim dan Ular

Selasa, 15 Oktober 2013

| | | 0 komentar



Pak Kasim dan isterinya tinggal di tepi hutan. Mereka berdua saja karena tidak mempunyai anak. Tiap hari pak Kasim mencari kayu bakar di hutan untuk dijual atau ditukar dengan barang kebutuhan lainnya.

Suatu siang, pak Kasim yang sudah mengumpulkan kayu sejak pagi, beristirahat di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara, “Tolong! Tolong keluarkan aku.”

Pak Kasim mencari asal suara itu dan melihat sebatang pohon yang tumbang menutupi sebuah lubang besar. Pak Kasim mengintip ke dalam lubang dan melihat seekor ular besar berusaha mendorong pohon tumbang itu.

Pak Kasim takut dan bermaksud pergi saja dari situ. Tapi ular itu memanggilnya, “Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.“

Pak Kasim ragu-ragu. Tapi ular itu berbicara lagi. “Tolong pindahkan pohon ini agar aku bisa ke luar. Aku akan mamberikan apa saja yang kauminta.”

Pak Kasim mendorong batang pohon sehingga ular itu bisa ke luar dari lubang.

“Sekarang katakan apa yang kau inginkan.” kata ular.

“Aku orang miskin,” kata pak Kasim. “Aku ingin menjadi kaya.”

“Baiklah,” jawab ular. “Pulanglah.”

Pak Kasim pulang dan rumahnya yang reyot sudah menjadi gedung yang megah. Bahkan isterinya mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah. Di meja makan sudah tersedia makanan yang lezat. Sekarang Pak dan Bu Kasim menikmati hidup sebagai orang kaya, bahkan tanpa harus bekerja.

Tak lama kemudian, para tetangga mulai membicarakan pasangan yang mendadak menjadi  kaya raya itu.

Bu Kasim merasa tidak enak. “Pak,” katanya kepada suaminya. “Para tetangga membicarakan kita. Katanya kira merampok sehingga menjadi kaya.”

“Biarkan saja, bu.” Kata Pak Kasim. “Mereka hanya iri.”

Beberapa hari kemudian, Bu Kasim berkata, “Kita memang kaya dan hidup enak, tapi aku tidak suka karena orang-orang justeru mengejek kita.”

“Pergilah menemui ular itu lagi, pak. Mintalah agar mereka menghormati kita.”

Pak Kasim pergi ke lubang ular itu dan menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah,” kata ular. “Pulanglah. Kau sudah menjadi raja sekarang. Tapi ingat, kau harus menjadi raja yang adil dan bijaksana.”

Pak Kasim pulang. Baru saja ia masuk ke rumah, ada orang mengetuk pintunya. Ternyata beberapa pengawal berdiri di depan rumahnya. Mereka menceritakan bahwa raja telah turun tahta dan menjadi pertapa. Sekarang mereka ingin pak Kasim menjadi raja.

Pak Kasim dibawa ke istana dan dinobatkan menjadi raja. Bu Kasim menjadi permaisuri. Semua orang menghormati mereka dan melakukan semua perintah mereka.

Pada suatu hari, permaisuri ingin memakai gaun kesayangannya. Tapi baju itu belum kering setelah dicuci. Permaisuri kesal.

Esok harinya, matahari bersinar terik sekali. Permaisuri kepanasan. Ia pergi ke kolam di istana bersama beberapa pelayan. Tapi sinar matahari membuat kulitnya terbakar.

Permaisuri menemui raja. “Pak, biar pun kita raja dan ratu, tapi kita hanya dihormati oleh manusia.  Pergilah ke ular itu dan mintalah agar matahari mematuhi kita.”

Raja pergi ke hutan menemui ular dan mengutarakan keinginannya. Ular menjadi marah.
“Pulanglah, pak Kasim,” kata ular. “Aku tak dapat menuruti keinginanmu. Kau terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri.”
Pak Kasim pun pulanglah ke istana. Ia merasa lega. Setidaknya ia masih menjadi raja.

Tapi esok harinya, raja yang asli kembali dari pertapaan. Pak Kasim dan isterinya dipersilakan kembali ke rumah mereka. Bu Kasim tidak puas, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Ketika mereka tiba di depan rumah, gedung megah mereka sudah tidak ada lagi. Di sana hanya ada rumah tua mereka yang sudah reyot.

Baca Parenting tips untuk orang tua sibuk Cara Mudah Meluangkan Wakru Untuk Anak




Kakek Batu

Minggu, 13 Oktober 2013

| | | 0 komentar

Dahulu kala hidup dua orang pemuda kakak beradik. Mereka bekerja menggarap ladang sayur mereka. Ketika sang kakak menikah, ia memberikan sebuah mantel  hujan dari ilalang dan sebuah cangkul. Disuruhnya adiknya mencari tanah sendiri. Pada masa itu, orang Cina tidak membeli jas hujan di toko. Mereka membuat jas hujan dari rumput dan ilalang. 

Sang adik pergi ke gunung mencari tanah untuk dijadikan ladang. ia menemukan tanah yang diinginkannya dan mulai mencangkul di dekat sebuah batu besar.

Pemuda itu beristirahat dan duduk di samping batu besar. Dilihatnya batu itu berbentuk seperti seorang kakek tua.

Saat itu matahari mulai muncul setelah hujan berhenti. Pemuda itu berkata kepada batu besar, "Selamat siang, kakek batu. Tolong kau jaga mantel  hujanku yang berharga ini."

Sore itu, pemuda itu berhenti bekerja dan mulai berbicara dengan batu itu seolah-olah mereka sahabat lama.

"Andai aku sekuat dirimu, kek," katanya. "Aku pasti tak pernah merasa lelah."

Pemuda itu bekerja di sana tiap hari.

Pada suatu hari ia sedang beristirahat dan seperti biasa, berbicara kepada kakek batu tentang betapa ia merasa lelah dan kepanasan. 

Tiba-tiba, "Anak muda," batu besar itu berbicara kepadanya! "Dengarkan. Kau mengeluh lelah dan panas? Tiap hari kau meletakkan mantel hujanmu ini di kepalaku. Mantel itu membuatku kepanasan dan gatal-gatal. Belum lagi terasa berat sekali di kepalaku."

"Ambillah mantelmu dan aku akan memberimu hadiah."

"Maaf, kek," kata pemuda itu sambil memindahkan mantel hujannya dari atas batu.

"Kek." kata pemuda itu setelah beberapa saat, "Tadi kau mengatakan akan memberiku hadiah?"

"Aku memang berkata begitu," kata batu. "Besok datanglah kemari membawa karung yang panjangnya tiga kaki.

Esoknya pemuda itu membawa karung sepanjang tiga kaki.

"Buka karung itu," kata batu.

Pemuda itu membuka mulut karung. Batu itu membuka mulutnya dan keluarlah ratusan koin perak berkilauan, masuk ke dalam karung. Tak lama, karung itu penuh.

"Bagaimana?" kata batu besar. "Cukup?"

"Oooh, banyak sekali, kek," kata pemuda itu senang. "Bahkan terlalu banyak untukku. Terima kasih, kek."

"Terlalu banyak?" kakek batu tertawa. "Tak banyak orang yang mengatakan terlalu banyak."

"Pergilah, bawa uang itu. Belilah rumah untuk dirimu. Kau pekerja keras, kau berhak mendapatkan uang itu."

Pemuda itu mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berpamitan dan pergi. Ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian kakaknya mendengar bahwa sang adik pulang sebagai orang kaya.

"Bagaimana kau bisa menjadi kaya raya, dik?" tanyanya.

Adiknya menceritakan semuanya.

"Di mana batu itu?" tanya sang kakak lagi.

"Kalau kau terus mengikuti jalan ini menuju pegunungan, kau akan menemukan sebidang tanah kosong yang luas. Batu itu ada di tengah tanah kosong itu."

"Kau pasti dapat menemukannya, kak."

Sang kakak segera mengambil mantel hujan dan cangkulnya sendiri. ia pergi mencari batu besar yang telah membuat adiknya kaya. Ia segera menemukan batu besar itu. ia meletakkan mantel hujannya di atas batu besar dan mulai mencangkul.

Setelah mencangkul sepanjang hari, ia duduk di sebelah batu besar dan berbicara kepadanya. "Apa kabar, kakek batu," katanya. "Apakah hari ini cukup hangat untukmu?"

Tidak ada jawaban.

"Hai, kau dengar tidak, batu?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Sepanjang siang sang kakak mengajak batu  besar itu berbicara, tapi batu itu diam saja.

"Aku dapat memaksamu bicara, batu tua!" katanya dalam hati.

Ia meletakkan batu-batu kecil di atas batu besar itu. Makin lama makin banyak batu yang ditumpuknya  sampai batu besar itu tidak kelihatan. 

"Singkirkan batu-batu ini," teriak kakek batu. "Aku akan memberimu hadiah."

Petani itu segera memindahkan batu-batu kecil dari batu besar.

"Datanglah besok, bawa karung sepanjang tiga kaki." kata batu besar. "Aku akan mengisinya dengan uang perak."

Matahari baru terbit ketika sang kakak datang membawa karung esok harinya.

"Baiklah," kata batu besar. "Buka karungmu."

Batu itu membuka mulut dan mengeluarkan uang perak sampai karung hampir penuh.

"Bagaimana?" tanya batu besar. "Sudah cukup, bukan?"

"Tidak," kata laki-laki serakah itu. "Tambahkan lagi."

"Baiklah." kata batu itu. Uang logam keluar lebih banyak lagi sampai karung hampir robek.

"Sudah cukup, sekarang?"

"Lagi! Tambahkan lagi!" kata sang kakak.

" Maaf, anak muda." kata batu itu. "Aku sudah tak punya uang lagi," 

Sang kakak berteriak, "Pasti masih ada uang lagi." Ia memasukkan kedua tangannya ke mulut batu, untuk mengambil uang lagi.

Mulut batu itu menutup dan tangan petani terjepit, tidak dapat dikeluarkan dari batu. 

"Batu tua, lepaskan tanganku!" Ia melompat-lompat, menendang, menarik tangannya. Batu itu tetap diam saja, tak bergerak sedikitpun.

"Kumohon, lepaskan tanganku!" Batu itu tetap diam saja. 

Malam tiba. Hujan lebat turun sampai tempat itu digenangi air. Karung berisi uang perak hanyut terbawa banjir. 

Pada hari yang ketiga, isteri petani itu datang mencarinya. Ia menangis melihat tangan suaminya terjebak di dalam batu. 

"Jangan hanya menangis." kata suaminya. "Lepaskan aku dari batu ini."

Tapi apa pn yang dilakukan sang isteri, tidak dapat melepaskannya. Sejak saat itu, tiap hari sang isteri datang membawakan makanan dan menyuapinya.

Petani itu terjebak selama tiga tahun. Tiap hari ia kepanasan dan kedinginan pada malam hari. Ia juga sering basah kuyup diguyur hujan. 

Kemudian, pada suatu hari, isterinya datang untuk mengantarkan makanan. Lelaki itu mengoceh. "Tiga tahun sudah aku berdiri di sini, kehujanan dan kepanasan. Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan memotong tanganku saja."

Tiba-tiba batu besar itu bergetar. dan mulai tertawa. Kemudian mulutnya terbuka lebar dan ia tertawa terbahak-bahak.

Petani serakah itu terjatuh ke tanah. Ia bebas sekarang. Cepat-cepat diajaknya sang isteri pergi dari tempat itu dan  tidak pernah kembali lagi.

Gadis Landak

| | | 0 komentar

Dahulu kala, hidup sepasang suami isteri di sebuah rumah kecil. Adik lelaki sang suami juga tinggal bersama mereka.

Pada suatu hari sang isteri berkata, “Adikmu sudah dewasa. Sudah waktunya menikah. Berikan saja setengah harta kita dan suruh dia mencari tempat tinggal sendiri.” Suaminya tidak tega menyuruh adiknya pergi, tapi isterinya mendesaknya terus.  Akhirnya ia setuju. 

Esok harinya , ia menyuruh adiknya memakai pakaian baru  lalu mengajaknya berjalan-jalan.
Mereka berjalan mendaki bukit dan ketika tiba di hutan, sang kakak memberikan sejumlah uang dan mengatakan bahwa sudah waktunya sang adik memulai hidup sendiri. Walaupun sedih, sang kakak menyuruh adiknya pergi dan ia sendiri pulang ke rumahnya.

Sang adik terus berjalan walaupun ia tidak punya tujuan. Malam tiba. Ia melihat sebuah gubuk.  Ia meminta ijin kepada pemburu pemilik gubuk itu untuk tinggal semalam.  

Malam itu, pemuda itu melihat seekor landak terikat pada tiang. Landak itu terus memandanginya.

“Tuan,” katanya kepada pemburu, “Mengapa kau mengikat landak itu di tiang?”

“Aku akan mengambil kulitnya dan memakan dagingnya.”

“Tapi tuan, lihatlah, landak itu sedih sekali. Tolong lepaskan dia.”

“Aku lelah sekali berburu hari ini, dan hanya landak itu yang kudapat. Tidak, aku tak mau melepaskannya.”

“Kalau begitu, biarlah aku membelinya!” kata pemuda itu sambil menunjukkan uang pemberian kakaknya.

Pemburu menjual  landak itu kepada pemuda itu.  Pemuda itu membawa landak pergi. Setelah cukup jauh dari gubuk pemburu, ia melepaskan tali pengikat  landak dan berkata. “Pergilah jauh-jauh. Kalau kau tertangkap lagi, belum tentu ada yang menolongmu.”

Landak itu memandangi sang pemuda lama sekali. Lalu ia pergi ke semak-semak dan menghilang.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dan ilalang di dekatnya bergerak-gerak. Alangkah terkejutnya pemuda itu, seorang gadis muda muncul. Gadis itu cantik sekali. Ia membawa sehelai selimut tebal.

“Tuan,” kata gadis itu, “Kau tentu kedinginan.” Ia memberikan selimut yang dibawanya kepada pemuda itu.

“Terima kasih, Nona. Kau baik sekali,” kata pemuda.

“Apakah kau tidak punya rumah?” tanya gadis itu.

“Tentu saja aku punya rumah.”

“Lalu mengapa kau ada di sini?”

Pemuda itu menceritakan perpisahannya dengan kakaknya.

“Apakah kau tidak rindu kepada rumahmu?” tanya gadis itu.

"Aku rindu kepada kakakku, tapi aku tidak berani kembali ke rumah."

“Jangan kuatir, aku akan membawamu ke rumahmu sendiri. Tapi kau harus menikahiku dulu.”

Walaupun agak bingung, pemuda itu setuju. Malam itu mereka mengucapkan sumpah pernikahan dan menjadi pasangan suami isteri.

Esoknya, pagi-pagi sekali, wanita muda itu berkata, “Tutuplah punggungku dengan selimut itu. Lalu naiklah ke punggungku. Berpeganganlah erat-erat dan tutup matamu sampai aku menyuruhmu membukanya.”

Suaminya mengikuti semua perkataan sang isteri. Dan pemuda itu merasa ia sedang terbang. Angin bertiup kencang di telinganya. Tapi dengan patuh ia tetap menutup kedua matanya.

Akhirnya, ia mendengar isterinya berkata, “Sekarang kau boleh membuka matamu.” Pemuda itu membuka matanya dan melihat mereka berada di tepi desanya sendiri.

“Suamiku,” kata sang isteri, “Jangan kembali ke rumah kakakmu dulu, ayo kita mencari tempat tinggal kita sendiri.”

Pemuda itu mengajak isterinya ke sebuah kedai.  Ia mengenal pemilik kedai itu. Ia mengenalkan isterinya kepada pemilik kedai dan mereka bercakap-cakap.

“Paman,” kata wanita muda itu, “Kami ingin menetap di desa ini. Dapatkah paman mencarikan sebidang tanah yang akan dijual?’

“Baiklah, aku akan mencarikan tanah yang baik untukmu,” kata paman.

Esok harinya, paman menunjukkan sebidang tanah yang akan dijual, tapi pemiliknya memasang harga yang sangat tinggi. “Kalau kalian sabar, aku akan mencarikan tanah yang lain,” kata paman.

Tapi wanita muda itu berkata, “Tidak usah, paman. Kami punya cukup uang untuk membeli tanah itu.” Wanita itu mengeluarkan uang dan meminta suaminya membeli tanah itu.

Malam itu suami isteri itu melihat tanah yang baru mereka beli.  Sang isteri mencabut jepit rambutnya dan membuat gambar rumah di tanah. Ketika ia menarik kembali jepit rambutnya, terdengar suara gemuruh dan bumi bergetar. Sekarang di depan mereka berdiri sebuah rumah besar yang indah dan megah.

“Ini rumah kita,” kata sang isteri, “ Ayo kita masuk.”

Rumah itu  sudah lengkap dengan perabotan yang indah. Di belakang rumah ada gudang  besar yang penuh bahan makanan . Di sampingnya berdiri sebuah kandang berisi belasan kuda. Mereka tinggal di sana dengan tenang dan bahagia.

Tiga tahun berlalu. Pada suatu hari, sang isteri berkata kepada suaminya. “Kita sudah lama menikah, tapi kita tidak dikaruniai anak. Kurasa kau harus mengambil seorang isteri lagi.”

Suaminya tidak setuju. “Aku bahagia hidup denganmu, walaupun kita tidak punya anak.”

“Kau tidak mengerti,” kata isterinya. “Aku tak akan lama hidup bersamamu.”

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa ia adalah landak yang dulu diselamatkan pemuda itu dari pemburu.  Ia mengubah dirinya menjadi manusia untuk membalas budi. Ia mendesak suaminya untuk mencari calon isteri.

Pemuda itu pergi mencari calon isteri yang baik. Ia telah bertemu banyak sekali gadis namun tak ada yang menurutnya sebaik gadis landak, isterinya.

Pada suatu hari ia melihat seorang gadis yang menarik hatinya. Pemuda itu menemui ayah sang gadis untuk melamar. Ayah gadis itu seorang pedagang kaya.  Ia setuju anak gadisnya dipersunting sang pemuda, dengan satu syarat. Ia minta pemuda membawa tujuh kereta penuh uang perak.

Pemuda itu kembali ke rumahnya dan menceritakan perjalanannya hingga menemukan seorang gadis. Ia menjelaskan syarat yang diminta ayah gadis itu. “Hanya itu syaratnya?” tanya gadis landak.

Esok harinya gadis landak meminta suaminya pergi ke rumah calon isteri barunya. Di halaman rumah sudah menunggu tujuh kereta lengkap dengan kuda dan kusir.

Setelah menikah dengan puteri pedagang, pemuda itu membawa isteri barunya pulang. Mereka disambut hangat oleh gadis landak.

Esok harinya, gadis landak sudah tidak ada. Pemuda itu tidak pernah lagi melihat isteri pertamanya. 

Setahun kemudian, isteri keduanya melahirkan sepasang anak kembar seperti yang diinginkan gadis landak.

Burung Phoenix Berkepala Dua

| | | 0 komentar
Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak mau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.
Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.”  Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau  tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.

Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan  seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji.  Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.

Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan  setengah kerajaannya kepada penasihat.

Anak Melon

| | | 0 komentar


Dahulu, hidup sepasang suami isteri petani. Mereka sudah tua.. Walaupun saling mencintai, mereka sering merasa kesepian karena tidak pernah ada tawa riang dan celoteh anak-anak di rumah mereka.

Menjelang suatu musim dingin, walaupun sudah bekerja keras, hasil ladang mereka hanya menghasilkan sebuah melon. Pak tani membawa melon itu pulang. Isteri petani mengeluh karena panen mereka musim itu tidak berhasil baik.

Tiba-tiba, melon itu berbicara kepada mereka. “Kalau begitu, anggap saja aku anak kalian.”

“Tapi kau melon,” kata pasangan itu. “Bagaimana kau menjadi anak kami?”

“Kalian menanam dan merawatku dengan baik, maka aku anak kalian, bukan?”

Mereka menyebut melon itu Anak Melon. Anak Melon tumbuh dengan cepat menjadi seorang pemuda. Ia rajin dan kuat sekali. Ia dapat melakukan pekerjaan di ladang kecil itu sendiri, dari membajak, menanam, menyiram dan menyiangi ladang. Pak dan ibu tani tidak perlu lagi khawatir karena berkat Anak Melon mereka selalu punya persediaan makanan.

Tiga tahun berlalu, terjadi perang. Para ayah dan ibu meratapi putera-putera mereka yang dipaksa menjadi tentara dan ikut berperang. Banyak di antara pemuda-pemuda itu yang tidak pernah kembali ke rumah mereka.

Kaisar mengirim seorang petugas untuk mencari para pemuda ke rumah-rumah.  Pada suatu hari, petugas itu datang ke rumah pak tani. Ia ingin membawa Anak Melon.

“Aku mohon, tuan.” kata pak tani, “Jangan ambil anak kami. Ia bahkan bukan anak manusia. Ia berasal dari melon.”

“Aku tak peduli anakmu itu melon atau labu,” kata petugas itu. “Ia harus ikut dengan kami.”

Pak dan ibu tani terus memohon. Akhirnya, sambil tertawa-tawa, petugas itu berkata, ”Tak mau menyerahkan anakmu? Baiklah. Kuberi tahu kau, cara agar anakmu tidak perlu ikut berperang.”

"Bagaimana, tuan?" tanya bu tani penuh harap.

"Kumpulkan emas.”

“Emas.... Berapa. Tuan?”

“Tidak banyak” kata petugas itu. “Asal cukup untuk menutup jalan dari rumahmu sampai gerbang istana dengan emas.”

Pak tani hampir pingsan. Itu jumlah yang sangat banyak. “Aku belum pernah melihat uang emas, apalagi memilikinya.”

“Kalau begitu,” kata petugas sambil tersenyum, “Lebih baik anakmu ikut saja dengan kami.”

“Tunggu dulu!” Anak Melon muncul dari dalam rumah. “Aku bisa menyediakan emas itu,” katanya.

“Kau bisa?” kata petugas. “Aku akan bermurah hati. Kau punya waktu dua hari. Bila kau gagal. Kau harus ikut denganku dengan suka rela.”

“Baiklah,” jawab Anak Melon. “Dua hari lebih dari cukup untukku.”

"Bagus, nak,” kata petugas. “Asal aku bisa berjalan di atas emas dari pintu rumahmu sampai gerbang istana raja, kau dan orang tuamu kubebaskan.”

Petugas itu pergi sambil menyeret beberapa pemuda yang terikat rantai.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan emas sebanyak itu, nak?” tanya bu tani. ia mulai menangis.

“Percayalah padaku,” kata Anak Melon. “Aku akan mendapatkan emas itu. Kalian tidak usah khawatir.”

“Bagaimana caranya?” tanya bu tani. “Waktu kita tidak banyak.”

“Ayah, ibu,” kata Anak Melon, “Pergilah mencari seekor anjing betina yang hanya punya tiga kaki.”

“Dan satu ikan yang seluruh tubuhnya merah, serta satu ikan yang seluruh tubuhnya putih tanpa noda.”

“Di mana ada binatang seaneh itu?” kata orang tuanya.

“Kalian akan menemukan binatang itu.” Kata Anak Melon. “Carilah di tepi sungai dan di gunung.”

Sore harinya, pasangan petani itu membawa pulang seekor anjing betina berkaki tiga, satu ikan merah dan satu ikan putih.

Anak Melon memasak kedua ikan itu dan memberikannya kepada anjing berkaki tiga. Ia lalu pergi ke rumpun bambu, mencari sebatang bambu yang kecil tapi kuat.

“Ayah,” kata Anak Melon, “Besok pagi, bawalah anjing itu ke istana. Begitu keluar dari rumah kita, pukul anjing dengan tongkat bambu ini. Lakukan terus sampai ayah tiba di gerbang istana.”

Esoknya, pak tani keluar rumah membawa anjing berkaki tiga. Ia memukul anjing itu dengan tongkat bambu. Tiap kali dipukul, anjing itu buang kotoran, tapi yang dikeluarkannya adalah sebongkah kecil emas.

Demikianlah, orang tua itu berjalan ke istana sambil terus memukul anjing dengan tongkat bambu. Ketika tiba di gerbang istana, seluruh jalan yang dilaluinya tertutup emas.

Kaisar mendapat laporan tentang kejadian itu. Ia segera pergi melihatnya sendiri.

Pak tani menjelaskan kepada Kaisar bahwa ia datang untuk memenuhi  syarat dari petugas yang datang ke rumahnya, agar anakya tidak perlu pergi berperang.

“Baiklah,” kata Kaisar. “Aku menyatakan bahwa anakmu terbebas dari kewajiban pergi ke medan perang.”

Kemudian Kaisar memerintahkan para pengawal untuk segera mengumpulkan semua emas itu dan membawanya ke gudang harta.

Ribuan pengawal dikerahkan untuk mengumpulkan emas itu. Mereka memasukkan emas ke dalam karung-karung dan membawanya ke gudang Kaisar.


Pak tani pulang ke rumah dengan perasaan lega karena Anak Melon tidak perlu meninggalkan mereka. Mereka bertiga hidup bahagia dengan bertani seperti semula.

Beberapa tahun kemudian, timbul bau yang tidak sedap di sekitar istana. Bau itu makin lama makin kuat sehingga orang-orang di sekitar istana sulit bernafas, bahkan muntah-muntah atau jatuh sakit.

Kaisar memerintah para pengawal untuk mencari sumber bau itu.
Akhirnya mereka menemukan bahwa bau itu tersebar dari gudang harta Kaisar. Gudang dibuka. Di sana masih ada tumpukan karung yang diisi dengan emas dari pak tani, tapi... isinya bukan lagi emas, melainkan kotoran anjing yang sangat bau dan dikerumuni lalat!

Kaisar sangat marah. Ia memerintah untuk menangkap keluarga petani itu. Para pengawal mencari ke seluruh penjuru negeri, namun tidak menemukan Anak Melon dan orang tuanya.