Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Malaysia. Tampilkan semua postingan

Kisah Kancil dan Buaya

Kamis, 03 November 2011

| | | 1 komentar

Pada suatu hari, kancil  sedang minum di tepi sungai, ketika seekor buaya menggigit kakinya. Beberapa buaya lain juga berenang mendekat. Kancil tahu ia harus segera menemukan akal untuk menyelamatkan diri.

“Halo bapak buaya,” kata kancil sambil menyembunyikan suaranya yang  gemetar. “Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak perlu memanggil kalian.”

Para buaya bingung, mengapa kancil ingin bertemu dengan mereka? Buaya yang menggigit kaki kancil bahkan sudah melepaskan gigitannya. Kancil bisa saja melarikan diri, namun ia tahu buaya dapat bergerak dengan sangat cepat. Ia pasti tertangkap lagi.

“Begini, bapak ibu,” lanjut kancil. “Aku diperintah oleh Baginda Raja untuk menghitung jumlah penduduk hutan ini. Berapa jumlah semua buaya di sungai ini?”

Para buaya saling berpandang-pandangan. Mereka tidak tahu berapa jumlah buaya yang ada di sana.

Kancil menunggu sejenak.

“Kalian tidak tahu?”

Para buaya menggeleng.

“Baiklah.” kata kancil. “Panggil semua buaya kemari.”

Semua buaya dipanggil. Kancil pun mulai menghitung buaya sambil menunjuk-nunjuk. Ia tampak kesulitan menghitung.

“Lebih baik kalian berjajar dari sini ke seberang sana. Aku akan lebih mudah menghitung kalian.”

Para buaya sibuk berjajar. Kancil kemudian menghitung mereka dengan melompat-lompat dari punggung buaya yang satu ke yang lain.

“Satu... dua... tiga... sembilan belas... tiga puluh satu... enam puluh... enam puluh satu, dan terakhir, enam puluh dua!” kata kancil sambil melompat ke seberang sungai.

Namun kancil kelihatan bingung. Ia bergumam keras-keras, “Berapa ya tadi? Enam puluh dua atau enam puluh tiga?”

Para buaya mulai beranjak dari barisannya.

“Eh,” kata kancil. “Jangan bubar dulu. Lebih baik kuhitung sekali lagi.”

Mau dibayar hanya klik iklan? Lihat di sini

Kancil pun kembali melompat-lompat menghitung buaya kembali ke tepi sungai tempat tadi ia minum.

“Lima puluh sembilan... enam puluh... enam puluh satu... enam puluh dua!”

“Ternyata benar jumlahnya enam puluh dua. Sekarang aku harus melapor kepada Baginda. Terima kasih ya!”

Ia pun lari ke dalam hutan. Karena akalnya yang cerdik, kancil sekali lagi lolos dari bahaya.

Kancil dan Harimau

Sabtu, 17 September 2011

| | | 0 komentar


Pada suatu hari kancil bertemu dengan harimau di hutan. Harimau berkata, “ Kata sepupuku daging kancil sangat lezat. Sekarang aku punya kesempatan untuk mencicipinya.”

Kancil menoleh ke kanan dan kiri, ia harus menemukan akal agar harimau tidak dapat menangkapnya. Lalu ia melihat segumpal  lumpur di bawah pohon.

“Jangan,” kata kancil. “Aku sedang menjaga kue Baginda Raja.”

Ia menggerakkan bahunya ke arah gumpalan lumpur itu.

Harimau sangat lapar, melihat gumpalan lumpur itu, menitiklah air liurnya.
“Kue raja? Nampaknya enak sekali. Aku mau mencobanya.”

“Jangan. Nanti Baginda Raja marah,” kata kancil sambil menghadang harimau di depan lumpur.

“Sedikit saja,” kata harimau.

“Tidak.”

 “Ayolah, raja tidak akan tahu, aku makan sedikit saja.”

“Hmmm... Baiklah, tapi biarkan aku pergi dulu, aku tidak mau disalahkan.”

“Pergilah.”

Kancil pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melesat pergi.

Harimau segera menerkan kue sang raja dan menggigitnya.

“Puuaahh!” Harimau memuntahkan lumpur dari mulutnya.

“Ini lumpur!” kata harimau. “Awas kau kancil, kalau aku bertemu denganmu lagi , aku takkan mengampunimu!”

Esok harinya, kancil kembali bertemu dengan harimau.

“Nah. Jadi juga aku makan daging kancil.”

Kancil kembali mencari akal. Kebetulan ia melihat sarang lebah yang letaknya tidak tinggi.

“Kau tidak tahu, aku sekarang sedang menunggui tambur Baginda Raja? Kalau aku meninggalkan tugasku, seseorang pasti menabuhnya, dan Baginda Raja marah besar.”

“Ah, kau bohong. Mana ada tambur raja di sini?”

“Tentu saja ada. Itu, tuh. Di situ.”

Harimau melihat benda bulat yang tergantung di dahan pohon yang rendah.

“Benar juga kata kancil,” katanya dalam hati. “Tambur milik sang raja, bagaimana bunyinya ya?”

“Kancil,” kata harimau, “Aku tabuh tamburnya ya?”

“Jangan, nanti Baginda Raja marah.”

“Kalau begitu kau pergi dulu, baru aku menabuhnya. Dengan begitu kau tak kena marah.”

“Baiklah. Ingat, tunggu sampai aku agak jauh baru kau menabuh tambur itu, ya?”

Kancil pun lagi-lagi lolos dari bahaya. Ia segera melarikan diri.

Harimau menunggu beberapa saat kemudian mendekati sarang lebah itu. Ia memukulnya sekuat tenaga, berharap mendengar suara tambur yang merdu dan keras. Namun tambur itu hancur berantakan. Dari dalamnya muncul ribuan lebah yang menyengatnya tanpa ampun.

“Nggg! Nggg! Nggg!” Lebah-lebah terus mengejar harimau.

“Aduh! Aduh! Awas kau kancil, kau menipuku lagi!”

Harimau berlari namun lebah-lebah yang marah itu tetap mengejar dan menyengatnya. Harimau akhirnya menceburkan diri ke dalam kolam. Barulah lebah-lebah itu meninggalkannya. Seluruh tubuh harimau bengkak-bengkak akibat sengatan lebah.

Beberapa  hari kemudian, harimau melihat kancil sedang berbaring di bawah pohon. Tanpa menunggu lagi, ia menerkam kancil.

Kancil meronta,”Lepaskan aku! Gara-gara kau aku dimarahi Baginda Raja. Beliau memberikan kesempatan terakhir. Kalau aku gagal lagi menjalankan tugasku, tamatlah riwayatku.”

“Tugas apa? Jangan kaupikir bisa menipuku lagi. Kali ini aku benar-benar makan daging kancil.”

“Kau tidak melihat aku sedang menjaga ikat pinggang Baginda Raja?”

“Ikat pinggang? Mana?”

“Tuh, di bawah pohon beringin itu.”

Harimau mendekati pohon beringin. Benar ia melihat ikat pinggang besar yang cantik tergulung di sana. Harimau mendekati kancil lagi.

“Bagus sekali. Pasti aku cocok memakainya. Aku coba ya?”

“Tidak boleh!”

“Sebentar saja, tidak akan ada yang tahu.”

“Tidak.”

“Aku akan mencoba ikat pinggang itu lalu meletakkannya kembali.”
“Hmmm,” kancil pura-pura berpikir keras.

“Ayolah.”

“Kau begitu ingin mencoba ikat pinggang itu. Aku tidak tega menolaknya,” kata kancil. “Baiklah, tapi kau harus cepat. Jangan sampai ada yang melihat kau memakainya”

Harimau mengangguk-angguk penuh semangat. Ia pun segera mengambil ikat pinggang raja dan melingkarkannya di pinggangnya. Betapa terkejutnya ia melihat bahwa itu bukan ikat pinggang tetapi ular besar! Ular itu langsung membelitnya dan makin lama belitannya makin kencang.

Harimau meronta-ronta namun tak dapat melepaskan diri. Nafasnya pun mulai terasa sesak. Akhirnya ia coba menggigit ekor ular. Ular kesakitan dan mengendurkan belitannya sehingga harimau dapat melepaskan diri.

Kancil sudah tak tampak lagi.

Kisah Kancil dan Pak Tani

Selasa, 12 Juli 2011

| | | 0 komentar

Seekor kancil hidup di tepi hutan. Ia suka makan buah-buahan, akar-akaran dan tunas pohon. Namun ia lebih menyukai sayuran di ladang pak tani.
Pada suatu hari kancil pergi ke ladang pak tani. Ia melihat ketimun yang sudah siap dipetik. Ia langsung mengambil sebuah dan memakannya. Ia lalu berjalan untuk mengambil sebuah lagi, namun kakinya terkena jerat. Ia meronta dan menarik-narik jerat itu namun tak berhasil melepaskan diri.
Kemudian ia melihat pak tani mendekat. Ia lalu berbaring di tanah dan mengakukan badannya seolah-olah mati.
Pak tani menyentuh tubuh kancil dengan kakinya. Kancil tak bergerak. Pak tani pun melepaskan jerat dari kaki kancil dan melemparkan tubuh kancil ke luar ladang. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, kancil melompat dan lari.
Di belakangnya kancil mendengar pak tani berteriak, “Dasar nakal, dia menipuku!”
Beberapa hari kemudian kancil kembali pergi ke ladang. Ia ingin makan ketimun lagi. Ia melihat pak tani berdiri di sudut ladang. Ketika ia perhatikan ternyata itu bukan pak tani tapi orang-orangan sawah.
“Hanya boneka!” kata kancil. “Pak tani bodoh, ia mengira aku takut kepada boneka ini? Akan kutunjukkan betapa takutnya aku!”
Kancil menghampiri orang-orangan sawah itu dan memukulnya keras-keras. Namun tangannya menempel pada orang-orangan sawah. Pak tani telah melumuri boneka itu dengan getah karet yang lengket.
“Lepaskan aku!” kata kancil. Ia meronta-ronta. Kemudian ia mendorong boneka  dengan tangan yang sebelah lagi. Tangan itu juga menempel pada orang-orangan sawah.
Kancil terus meronta, dan akhinya ia mendorong boneka itu dengan kedua kakinya. Kakinya juga menempel. Ia terperangkap.
Kemudian ia melihat pak tani, ia mencoba mencari akal agar dapat meloloskan diri, namun gagal.
“Kau baik sekali mau datang lagi,” kata pak tani.
Ia melepaskan kancil dari orang-orangan sawah dan membawanya pulang. Pak tani mengurung kancil dalam sebuah kandang ayam kosong di halaman rumah.
“Kau tunggu di sini aja,” kata pak tani, “Besok kau akan menjadi makan malam kami.”
Kancil tidak dapat tidur. Ia mencari-cari akal untuk melarikan diri, namun tak satu gagasan pun muncul di kepalanya. Saat matahari terbit, kancil berbaring putus asa.
“Wah, wah, si kancil. Kau tertangkap juga akhirnya!”
Itu suara anjing peliharaan pak tani.
“Apa maksudmu? Pak tani tidak menangkapku.”
“Lalu kenapa kau ada di dalam kandang ayam?”
“Karena tidak ada kamar kosong di rumah. Kau tahu, pak tani mengadakan pesta besok. Aku akan menjadi tamu kehormatan.”
“Kau, tamu kehormatan?” kata anjing. “Aku telah bertahun-tahun mengabdi padanya dan kau cuma pencuri. Seharusnya akulah yang menjadi tamu kehormatan!”
“Benar juga,” kata kancil. “Kalau begitu, kau gantikan aku saja di sini. Jika pak tani melihatmu di sini, kaulah yang akan dijadikan tamu kehormatan.”
“Kau tidak keberatan?” tanya anjing.
“Tentu saja tidak. “
Sang anjing mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada kancil.
Maka anjing itu mengangkat kandang ayam dan membiarkan kancil keluar, kemudian ia sendiri masuk ke dalamnya.
Kancil lari ke tepi hutan. Ia mengamati rumah pak tani. Ia melihat pak tani mendekati kandang ayam dan kemudian ia mendengar pak tani berkata.”Kau anjing bodoh. Kau melepaskan kancil.”

Kisah Pohon Kelapa

Kamis, 23 Juni 2011

| | | 0 komentar


Dahulu kala hiduplah seorang kakek tua.  Ia sudah sangat tua, banyak orang mengatakan usianya sudah seribu tahun.  Kakek itu juga sangat bijaksana dan mengatahui banyak hal.  Banyak orang datang ke guanya di dekat laut. Mereka meminta kakek membantu memecahkan masalah mereka.

Pada suatu hari , seorang pemuda datang menemui sang kakek. 

“Kakek yang bijak,” kata pemuda itu.

 “Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Aku ingin melayani sepanjang hidupku.  Katakan padaku, kek, bagaimana aku dapat melakukannya?”

“Niatmu sangat terpuji,” kata kakek.

“Bawalah kotak ajaib ini. Jangan kaubuka kotak ini sebelum kau tiba di rumah.  Ingat, bila engkau membukanya sekarang, sesuatu akan terjadi pada dirim.”

“Terima kasih, kek,” kata pemuda. Ia mengambil kotak itu dan pergi.

Ketika tiba di luar gua, ia berhenti. 

“Aku penasaran, apa yang ada dalam kotak ini?” katanya dalam hati. 

“Aku lihat saja apa isinya.”

Ia membuka kotak itu dan seketika itu juga ia berubah menjadi sebatang pohon yang tinggi, pohon kelapa.  Itulah hukuman baginya karena tidak mematuhi peringatan sang kakek, namun ia tetap menjadi apa yang ia inginkan, karena  berguna untuk orang lain. Semua bagian pohon kelapa, dari akar, batang, buah, daun hingga bagian yang lain bermanfaat bagi manusia