THE CAT AND THE MICE

Minggu, 13 November 2011

| | | 0 komentar

There was once a house that was overrun with Mice. A Cat heard of this, and said to herself, "That's the place for me," and off she went and took up her quarters in the house, and caught the Mice one by one and ate them. At last the Mice could stand it no longer, and they determined to take to their holes and stay there. "That's awkward," said the Cat to herself: "the only thing to do is to coax them out by a trick." So she considered a while, and then climbed up the wall and let herself hang down by her hind legs from a peg, and pretended to be dead. By and by a Mouse peeped out and saw the Cat hanging there. "Aha!" it cried, "you're very clever, madam, no doubt: but you may turn yourself into a bag of meal hanging there, if you like, yet you won't catch us coming anywhere near you."

If you are wise you won't be deceived by the innocent airs of those whom you have once found to be dangerous.

THE GOOSE THAT LAID THE GOLDEN EGGS

| | | 0 komentar

A Man and his Wife had the good fortune to possess a Goose which laid a Golden Egg every day. Lucky though they were, they soon began to think they were not getting rich fast enough, and, imagining the bird must be made of gold inside, they decided to kill it in order to secure the whole store of precious metal at once. But when they cut it open they found it was just like any other goose. Thus, they neither got rich all at once, as they had hoped, nor enjoyed any longer the daily addition to their wealth.

Much wants more and loses all.

THE FOX AND THE GRAPES

| | | 0 komentar

A hungry Fox saw some fine bunches of Grapes hanging from a vine that was trained along a high trellis, and did his best to reach them by jumping as high as he could into the air. But it was all in vain, for they were just out of reach: so he gave up trying, and walked away with an air of dignity and unconcern, remarking, "I thought those Grapes were ripe, but I see now they are quite sour."

The Walnut Tree

| | | 0 komentar
A Walnut-tree, which grew by the roadside, bore every year a plentiful crop of nuts. Every one who passed by pelted its branches with sticks and stones, in order to bring down the fruit, and the tree suffered severely. "It is hard," it cried, "that the very persons who enjoy my fruit should thus reward me with insults and blows."

The Wolf and the Crane

| | | 0 komentar
A Wolf had been gorging on an animal he had killed, when suddenly a small bone in the meat stuck in his throat and he could not swallow it. He soon felt terrible pain in his throat, and ran up and down groaning and groaning and seeking for something to relieve the pain. He tried to induce every one he met to remove the bone. "I would give anything," said he, "if you would take it out." At last the Crane agreed to try, and told the Wolf to lie on his side and open his jaws as wide as he could. Then the Crane put its long neck down the Wolf's throat, and with its beak loosened the bone, till at last it got it out.

"Will you kindly give me the reward you promised?" said the Crane.

The Wolf grinned and showed his teeth and said: "Be content. You have put your head inside a Wolf's mouth and taken it out again in safety; that ought to be reward enough for you."

Gratitude and greed go not together.

Tiga Pangeran dan Peri Air

Jumat, 11 November 2011

| | | 1 komentar

Dahulu kala hiduplah seorang raja dengan tiga putera. Yang tertua bernama Pangeran Bintang, adiknya bernama Pangeran Bulan dan yang bungsu Pangeran Matahari. Sang raja begitu gembira dengan kelahiran pengeran ketiga sehingga ia berjanji kepada sang ratu akan memenuhi apapun yang dimintanya.
Sang ratu mengingat janji raja kepadanya, namun ia menunggu hingga putera ketiganya dewasa.

Pada ulang tahun Pangeran Matahari yang ke duapuluh satu, sang ratu berkata kepada raja,”Yang mulia, ketika anak ketiga kita lahir dulu, kau berjanji akan memberiku hadiah. Sekarang aku minta Yang Mulia menyerahkan kerajaan ini kepada  Pangeran Matahari.”

Sang raja menolak, dan mengatakan bahwa kerajaan harus diserahkan putera tertua, karena itu sudah menjadi haknya. Kemudian bila putera pertama tidak dapat menjadi raja, kerajaan menjadi hak putera kedua. Hanya bila kedua kakaknya meninggal, putera ketiga berhak memerintah kerajaan.

Ratu pergi, namun raja dapat melihat bahwa ratu tidak puas dengan jawabannya. Raja khawatir ratu akan melakukan sesnatu untuk menyingkirkan putera pertama dan kedua.

Maka ia memanggil pangeran pertama dan kedua. Ia menyuruh mereka pergi dan tinggal di hutan hingga ia wafat. “Kemudian kembalilah dan memerintah di kerajaan ini sesuai dengan hakmu.”

Ketika mereka berjalan ke luar istana, Pangeran Matahari melihat mereka dan bertanya, “Kak, ke mana kalian pergi?”

Ketika mendengar kemana dan mengapa mereka pergi, Pangeran Matahari berkata, “Aku ikut bersama kalian, Kak.”

Mereka terus berjalan hingga masuk ke hutan. Di sana mereka menemukan sebuah kolam dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Pergilah ke kolam, Dik,” kata pangeran tertua kepada Pangeran Matahari. “Mandi dan minumlah. Kemudian bawakan sedikit air, kami menunggu di sini.”

Raja peri telah memberikan kolam itu kepada seorang peri air. “Kau berkuasa di kolam ini,” kata raja peri. “dan kau boleh melakukan apa saja kepada siapa pun yang datang ke kolam ini, kecuali bila ia dapat menjawab pertanyaanku.” Peri air mendengarkan dengan seksama. Pertanyaan itu adalah,”Seperti apa peri yang baik itu?”

Ketika Pangeran Matahari masuk ke dalam kolam, peri air betanya kepadanya,”Seperti apa peri yang baik itu?”

“Peri yang baik,” kata Pangeran Matahari setelah berpikir sejenak, “seperti matahari dan bulan.”

“Kau tidak tahu seperti apa peri yang baik,” dan peri air membawa pemuda malang itu ke guanya di dasar kolam.

Setelah menunggu cukup lama dan adik mereka tidak muncul, Pangeran Bintang menyuruh Pangeran Bulan menyusulnya.

Di kolam ia tidak melihat adiknnya. Air kolam yang jernih membuatnya ingin mandi. Ia masuk ke dalam kolam. Tiba-tiba muncul peri air yang langsung bertanya, “Katakan, seperti apa peri yang baik?”

“Seperti langit di atas kita,” jawab Pangeran Bulan.

“Ternyata kau juga tidak tahu," kata peri air sambil menyeret Pangeran Bulan ke guanya.

“Pasti terjadi sesuatu pada adik-adikku,” kata Pangeran Bintang dalam hati. Ia pun pergi ke kolam. Di tepi kolam ia melihat jejak kaki adik-adiknya masuk ke dalam kolam. Tahulah ia bahwa ada seorang peri air tinggal di dalam kolam itu. Ia menarik pedangnya dan menyiapkan busurnya. Ia menunggu dengan sabar.

Peri muncul, menyamar sebagai seorang pencari kayu.”Kau tampak lelah, teman,” katanya kepada Pangeran. “Mengapa kau tidak mandi di kolam lalu berbaring di tepi sana?”

Namun Pangeran itu tahu pencari kayu itu adalah peri air. Ia berkata,”Kau telah mengambil kedua adikku.”

"Ya," kata peri air.

"Mengapa kau mengambil mereka?"

"Karena mereka tidak dapat menjawab pertanyaanku,"  kata peri air, “dan raja peri memberiku kuasa untuk melakukan apa saja kepada semua orang yang masuk ke dalam air kecuali mereka yang dapat menjawab pertanyaanku dengan benar."

"Aku akan menjawabnya," kata Pangeran, “Peri yang baik seperti pemilik hati yang murni, yang takut akan dosa dan berbuat baik dalam kata-kata dan perbuatan."

"Oh Pangeran yang bijaksana,” kata peri air. “aku akan mengembalikan satu adikmu. Yang mana yang harus kukembalikan kepadamu?"

"Kembalikan si bungsu," kata Pangeran,”Karena ialah ayah kami menyuruh kami pergi, Aku tak dapat pergi bersama Pangeran Bulan dan meninggalkan Pangeran Matahari yang malang di sini.”.

“Pangeran, kau sungguh bijaksana,” kata  peri air, “Kau tahu apa yang harus kau lakukan dan baik hati. Aku akan mengembalikan kedua adikmu."

Ketiga pangeran itu tinggal di hutan bersama-sama hingga ayah mereka wafat. Kemudian mereka kembali ke istana. Pangeran Bintang menjadi raja dan ia mengajak kedua adiknya memerintah bersamanya, Ia juga membangun sebuah rumah untuk peri air di taman istana.

Kisah Kancil dan Buaya

Kamis, 03 November 2011

| | | 1 komentar

Pada suatu hari, kancil  sedang minum di tepi sungai, ketika seekor buaya menggigit kakinya. Beberapa buaya lain juga berenang mendekat. Kancil tahu ia harus segera menemukan akal untuk menyelamatkan diri.

“Halo bapak buaya,” kata kancil sambil menyembunyikan suaranya yang  gemetar. “Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak perlu memanggil kalian.”

Para buaya bingung, mengapa kancil ingin bertemu dengan mereka? Buaya yang menggigit kaki kancil bahkan sudah melepaskan gigitannya. Kancil bisa saja melarikan diri, namun ia tahu buaya dapat bergerak dengan sangat cepat. Ia pasti tertangkap lagi.

“Begini, bapak ibu,” lanjut kancil. “Aku diperintah oleh Baginda Raja untuk menghitung jumlah penduduk hutan ini. Berapa jumlah semua buaya di sungai ini?”

Para buaya saling berpandang-pandangan. Mereka tidak tahu berapa jumlah buaya yang ada di sana.

Kancil menunggu sejenak.

“Kalian tidak tahu?”

Para buaya menggeleng.

“Baiklah.” kata kancil. “Panggil semua buaya kemari.”

Semua buaya dipanggil. Kancil pun mulai menghitung buaya sambil menunjuk-nunjuk. Ia tampak kesulitan menghitung.

“Lebih baik kalian berjajar dari sini ke seberang sana. Aku akan lebih mudah menghitung kalian.”

Para buaya sibuk berjajar. Kancil kemudian menghitung mereka dengan melompat-lompat dari punggung buaya yang satu ke yang lain.

“Satu... dua... tiga... sembilan belas... tiga puluh satu... enam puluh... enam puluh satu, dan terakhir, enam puluh dua!” kata kancil sambil melompat ke seberang sungai.

Namun kancil kelihatan bingung. Ia bergumam keras-keras, “Berapa ya tadi? Enam puluh dua atau enam puluh tiga?”

Para buaya mulai beranjak dari barisannya.

“Eh,” kata kancil. “Jangan bubar dulu. Lebih baik kuhitung sekali lagi.”

Mau dibayar hanya klik iklan? Lihat di sini

Kancil pun kembali melompat-lompat menghitung buaya kembali ke tepi sungai tempat tadi ia minum.

“Lima puluh sembilan... enam puluh... enam puluh satu... enam puluh dua!”

“Ternyata benar jumlahnya enam puluh dua. Sekarang aku harus melapor kepada Baginda. Terima kasih ya!”

Ia pun lari ke dalam hutan. Karena akalnya yang cerdik, kancil sekali lagi lolos dari bahaya.